Dari Hipertensi hingga Diabetes, Ini Penyakit yang Paling Menguras Dana BPJS

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit kronis masih menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan nasional. Sepanjang 2025, lebih dari Rp50,2 triliun iuran peserta BPJS Kesehatan digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan terkait penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes.

Angka ini mencerminkan besarnya beban penyakit tidak menular yang terus meningkat di Indonesia. Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, mengungkapkan dana tersebut digunakan untuk membayar layanan kesehatan pada sekitar 59,9 juta kasus penyakit kronis.

Kondisi ini mendorong BPJS Kesehatan untuk semakin menguatkan strategi promotif dan preventif, salah satunya melalui Skrining Riwayat Kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

"Dalam lima tahun terakhir, jumlah peserta JKN yang melakukan Skrining Riwayat Kesehatan meningkat sangat signifikan. Dari 2,2 juta peserta pada 2021, melonjak menjadi 79,5 juta peserta pada 2025," kata Rizzky dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Jumat, 30 Januari 2026.

Lonjakan partisipasi ini dinilai sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini. Skrining Riwayat Kesehatan sendiri ditujukan bagi peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan satu kali dalam setahun. Peserta diminta mengisi sejumlah pertanyaan untuk mengetahui risiko penyakit kronis yang mungkin dialami.

Hasil skrining menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Dari 79,5 juta peserta yang telah menjalani skrining, sebanyak 34,6 juta peserta terdeteksi berisiko mengidap penyakit kronis. Penyakit yang paling banyak muncul adalah hipertensi, stroke, dan penyakit jantung, dengan total mencapai 23 juta peserta berisiko.

Selain itu, sekitar 17 juta peserta terdeteksi berisiko mengidap diabetes melitus, penyakit yang dikenal sebagai 'silent killer' karena sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas.

Penyakit kronis lain yang juga teridentifikasi antara lain kanker serviks dengan 14,4 juta peserta berisiko, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) sebanyak 3,3 juta peserta, serta tuberkulosis (TBC) dengan 2,4 juta peserta berisiko.

Tak berhenti di situ, skrining juga menemukan 2,2 juta peserta berisiko hepatitis B, 1,5 juta berisiko kanker paru, dan sekitar 1 juta peserta berisiko kanker payudara. Sisanya terdeteksi berisiko mengidap hepatitis C, talasemia, hingga kanker usus.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |