Dampak Perang Iran vs Israel dan AS, Kunjungan Wisman ke Timur Tengah Bisa Turun hingga 38 Juta

5 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Seperti disampaikan Sekretaris Jenderal UN Tourism Shaikha Al Nuwais, industri pariwisata sangat erat dengan perdamaian. Maka, perang Iran vs Israel dan AS akan berdampak sangat parah pada sektor pariwisata, khususnya di Timur Tengah dan Teluk. 

Mengutip Euronews, Kamis (5/3/2026), sebuah laporan Tourism Economics terbaru merilis proyeksi dampak perang terhadap pariwisata regional, sesuai pandangan aliansi perjalanan tersebut. 

"Kami memperkirakan kedatangan wisatawan ke Timur Tengah dapat menurun 11--27 persen dari tahun ke tahun pada 2026 karena konflik tersebut, dibandingkan dengan perkiraan Desember kami yang memproyeksikan pertumbuhan 13 persen," kata Direktur Peramalan Global Helen McDermott dan Ekonom Senior Jessie Smith.

"Secara absolut, ini berarti penurunan jumlah wisatawan mancanegara sekitar 23-38 juta dibandingkan dengan perkiraan dasar/sebelumnya, dan kerugian pengeluaran wisatawan sebesar USD 34 miliar--USD 56 miliar (Rp573,65 triliun hingga Rp944,8 triliun). Ini termasuk dampak sentimen yang diperkirakan akan berlanjut di luar periode konflik langsung."

Mereka meyakini dampak perang terbaru terhadap permintaan pariwisata akan lebih besar daripada dampak konflik tahun lalu. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk yang merupakan destinasi wisata yang lebih mapan, serta penutupan wilayah udara yang lebih luas di seluruh kawasan dibandingkan tahun lalu.

Tourism Economics memproyeksikan bahwa negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC), yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mengalami kerugian terbesar dalam hal volume. "Karena mereka adalah destinasi terbesar di kawasan ini yang sebelumnya bergantung pada persepsi keamanan dan stabilitas," kata McDermott dan Smith.

Perang Iran Kacaukan Industri Pariwisata Timur Tengah

Peningkatan perang AS-Israel dan Iran telah menjerumuskan industri pariwisata di Timur Tengah dan Teluk ke dalam kekacauan. Sejumlah negara telah mengeluarkan peringatan atau saran untuk tidak melakukan perjalanan kecuali perjalanan penting ke negara-negara Teluk, termasuk Israel, UEA, dan Qatar, dan koridor udara yang luas tetap ditutup di wilayah tersebut.

Menurut Tourism Economics, transportasi udara lebih signifikan terdampak oleh sentimen yang lebih buruk daripada pilihan transportasi darat. UEA dan Arab Saudi sangat rentan karena volume pengunjung internasional yang besar dan ketergantungan yang tinggi pada konektivitas udara.

Dampaknya berbeda dari Qatar dan Bahrain yang sumbangan kedatangan dari daratnya masing-masing mencapai 32 persen dan 74 persen dari total kedatangan. Dengan begitu, secara proporsional dampaknya lebih kecil.

"Mengingat serangan balasan yang meluas oleh Iran selama akhir pekan, efek sentimen kemungkinan akan lebih luas menyebar di seluruh negara-negara GCC," kata laporan tersebut.

Efek Berantai Perang Iran pada Pariwisata Global

Tourism Economics juga menyoroti peran Timur Tengah sebagai pusat transit global, dengan bandara-bandaranya menyumbang sekitar 14 persen dari aktivitas transit internasional. Hal ini dipastikan akan menyebabkan efek berantai di luar kawasan tersebut, menurut kelompok tersebut.

Gangguan saat ini memengaruhi arus perjalanan yang biasanya transit melalui pusat-pusat Timur Tengah, termasuk rute utama antara Eropa dan kawasan Asia-Pasifik. Hal itu terlihat dari banyaknya pembatalan penerbangan dari berbagai maskapai sejak serangan militer diluncurkan.

"Untuk tempat-tempat yang telah dimasukkan oleh pemerintah AS dan Inggris ke dalam daftar larangan masuk atau larangan terbang, sayangnya kami telah melihat banyak pembatalan," kata Ibrahim Khaled, kepala pemasaran Middle East Travel Alliance, sebuah perusahaan B2B yang bekerja sama dengan operator tur internasional dan agen perjalanan di kawasan tersebut.

"Penerbangan terganggu, dan perjalanan ke daerah-daerah tertentu tersebut hampir sepenuhnya ditunda."

Optimisme Para Analis pada Masa Depan Pariwisata Timur Tengah

Terlepas dari beratnya situasi saat ini, para ahli industri pariwisata mengatakan dampak jangka panjangnya mungkin tidak terlalu drastis. "Kami tidak khawatir tentang dampak jangka panjang pada perusahaan atau pariwisata di kawasan ini. Timur Tengah selalu menjadi pasar yang sangat tangguh, dan permintaan selalu pulih dengan cepat begitu stabilitas kembali," kata Khaled.

Gloria Guevara, Presiden dan CEO Dewan Perjalanan & Pariwisata Dunia, menggemakan sentimennya. "Perjalanan & Pariwisata secara konsisten menunjukkan ketahanannya dalam menghadapi tantangan global," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Sebagai kekuatan vital untuk koneksi, stabilitas ekonomi, dan saling pengertian, sektor ini terus beradaptasi dan merespons secara bertanggung jawab selama periode ketidakpastian."

Pada Selasa, 3 Maret 2026, Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan telah membuka koridor udara aman berkoordinasi dengan negara-negara Teluk. Koridor tersebut dibuka secara bertahap, dimulai dengan 48 penerbangan per jam.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |