Cara Menanam Kacang Tanah dari Benih hingga Panen

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Di Indonesia, kacang tanah merupakan salah satu komoditas penting setelah padi, jagung, dan kedelai. Tanaman ini sering dibudidayakan sebagai tanaman sela atau dalam sistem tumpang sari karena mudah beradaptasi dan bernilai ekonomi tinggi.

Melansir laman Universitas Medan Area, Rabu, 18 Maret 2026, kacang tanah tumbuh optimal di daerah dengan curah hujan sedang. Hujan terlalu tinggi dapat menghambat penyerbukan bunga dan membuat perakaran lembap, meningkatkan risiko jamur dan penyakit.

Tanaman ini juga membutuhkan paparan sinar matahari penuh, terutama saat daun tumbuh dan polong membesar. Kacang tanah idealnya ditanam pada elevasi 50–500 meter di atas permukaan laut, meski masih mampu beradaptasi hingga 1.500 meter.

Tanah yang gembur dengan kandungan hara cukup—kalsium, nitrogen, fosfor, dan kalium—serta pH 5–6,3 mendukung perkembangan ginofor, bakal buah yang tumbuh ke dalam tanah. Kalsium penting pada fase generatif untuk pembentukan dan kualitas polong, biasanya dipenuhi dengan kapur pertanian atau dolomit.

Meski bintil akar kacang tanah menampung bakteri Rhizobium yang menyediakan nitrogen, tanaman tetap membutuhkan tambahan nitrogen pada fase awal pertumbuhan. Selanjutnya, bakteri ini dapat memenuhi sekitar 75–85 persen kebutuhan nitrogen tanaman sepanjang masa pertumbuhan, mendukung pertumbuhan sehat dan polong berkualitas.

Benih kacang tanah yang baik berasal dari tanaman yang telah matang sempurna, biasanya berumur sekitar 100 hari. Ciri buah yang siap dijadikan benih adalah berwarna kehitaman dan tidak memiliki selaput pada bagian dalam cangkangnya saat dibuka.

Panduan Memilih Benih Kacang Tanah Berkualitas

Setelah dipanen, benih kacang tanah perlu disortir terlebih dahulu untuk memisahkan biji yang sehat dan berkualitas dari yang rusak atau kurang optimal. Setelah itu, benih dijemur selama 4–5 hari hingga cukup kering.

Untuk menjaga kualitas, benih kacang tanah sebaiknya disimpan selama 3–6 bulan sebelum ditanam. Selama masa penyimpanan, cangkang tidak perlu dikupas agar biji tetap terlindungi, dan pengupasan sebaiknya dilakukan tepat sebelum penanaman.

Meski benih bisa disimpan, benih yang paling baik tetap berasal dari hasil panen baru, karena tingkat daya tumbuhnya lebih tinggi dan peluang berhasil tanamnya lebih besar. Dengan perawatan sederhana ini, benih tetap siap untuk menghasilkan tanaman sehat dan polong berkualitas.  

Pengolahan Lahan dan Penanaman Kacang Tanah

Untuk panen optimal, lahan kacang tanah perlu diolah hingga gembur dengan membajak atau mencangkul tanah sampai halus, memudahkan akar dan polong berkembang. Tambahkan sekitar 2 ton kapur per hektare, campur rata, dan diamkan dua hari.

Gunakan pupuk kandang matang atau kompos sebagai pupuk dasar. Campuran kotoran ayam, kambing, atau sapi kaya hara dan sebaiknya diaduk merata dengan tanah.

Penanaman bisa dilakukan dengan atau tanpa bedengan; bedengan dianjurkan untuk lahan rawan tergenang air agar drainase baik. Lubang tanam dibuat dengan jarak 25×25 cm, satu benih per lubang. Untuk satu hektar dibutuhkan sekitar 50 kg benih.

Setelah ditanam, siram rutin pagi dan sore untuk menjaga kelembapan. Dalam kondisi optimal, benih akan berkecambah dalam 4–7 hari, menandai awal pertumbuhan tanaman sehat.

Perawatan dan Pemupukan Tanaman Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah biasanya mulai tumbuh serempak sekitar satu minggu setelah tanam. Pada usia 20 hari, bunga mulai muncul dan proses berbunga berlangsung hingga sekitar 75 hari, meski hanya bunga yang muncul setelah 30 hari berpotensi menjadi polong.

Setelah penyerbukan, bakal buah atau ginofor terbentuk pada hari ke-3 hingga ke-4, lalu tumbuh ke arah tanah untuk menghasilkan polong.

Selama fase berbunga, perawatan penting, terutama pemupukan tambahan kaya fosfor untuk mendukung pembentukan buah berkualitas. Penyiangan rutin juga perlu dilakukan agar gulma tidak bersaing dengan tanaman.

Selain itu, pembubunan tanah disarankan—menimbun tanah di sekitar pangkal hingga menutupi akar, batang bawah, dan sebagian daun—untuk membantu polong berkembang dan meningkatkan hasil panen.

Hama, Penyakit, dan Panen Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah sering diserang hama seperti uret (pemakan akar), ulat penggulung daun, ulat grayak, dan ulat jengkal, serta rentan terhadap penyakit seperti layu, sapu setan, bercak daun, gapong, sklerotium, dan karat.

Pengendalian dapat dilakukan dengan pengolahan tanah yang baik, pupuk kandang matang, penanaman serempak, penyiangan rutin, menjaga kebersihan lingkungan, pergiliran tanaman, serta penggunaan varietas tahan penyakit.

Tanaman yang terinfeksi sebaiknya dicabut dan dimusnahkan agar tidak menular. Kacang tanah umumnya siap panen sekitar 90 hari setelah tanam. Ciri-cirinya meliputi batang mengeras, daun menguning, dan sebagian berguguran.

Petani dapat mengecek kematangan dengan melihat apakah biji dalam polong sudah penuh. Dengan pengelolaan hama yang tepat dan panen pada waktu yang sesuai, kualitas dan kuantitas hasil budidaya kacang tanah dapat lebih optimal.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |