Busana Mirip Motif Batik Brand New York Seharga Rp 3,9 Juta Dirujak karena Dinamai Cetakan Abstrak

15 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Warganet Asia Tenggara dibuat geram dengan perilisan salah satu desain dalam koleksi SS26 brand New York, Amerika Serikat (AS), Aime Leon Dore. Pasalnya, atasan seharga Rp 3,9 juta disebut mirip motif batik tersebut dinamai "Printed Abstract Shirt" alias kemeja cetakan abstrak.

"Ooh SEABlings (sebutan warganet Asia Tenggara), saya butuh kalian marah atas hal-hal yang bersifat appropriative seperti ini," kata salah satu pengguna X, sementara yang lain menimpali, "Yang menyedihkan adalah semuanya bisa jauh lebih baik jika mereka menyebutkan/memberikan kredit dengan tepat (menyebut motif batik)."

Ada pula pengguna yang menyoroti kemiripannya dengan motif batik tambal dari Yogyakarta. Mengutip laman Kemendikdasmen, Rabu (18/3/2026), motif ini tampak seperti "tambalan" kain karena terdiri dari berbagai pola kecil yang disusun menjadi satu kesatuan.

Dalam budaya Jawa, batik tambal melambangkan harapan untuk penyembuhan, baik fisik maupun batin, perbaikan kehidupan, serta pemulihan dari kesulitan. Dulu, kain batik tambal sering digunakan untuk menyelimuti orang sakit karena dipercaya membawa energi penyembuhan.

"Saya tidak pernah menjadi pendukung 'appropriasi budaya'—saya selalu menganggapnya sebagai konsep yang konyol—tapi jika ada studi kasus untuk narasi tersebut, ini adalah bukti utamanya: pola geometris batik memiliki nilai semiotik yang sakral; seorang ahli dapat mengidentifikasi asal pola tersebut hanya dari bentuk dan warnanya," bunyi komentar lain.

"Meremehkan signifikansi tekstil, budaya, dan tradisionalnya dengan menyebutnya sebagai 'kemeja cetakan abstrak' adalah penghinaan yang sangat besar. Apakah AS masih menghasilkan alumni desain terbaiknya? Mereka yang kuliah di Parsons, bernarkah?"

Koleksi Spring/Summer 2026

Atasan yang dipermasalahkan itu merupakan rilisan ke-2 dalam koleksi Spring/Summer 2026 Aimé Leon Dore. Rangkaiannya berfokus pada berbagai "pilihan yang terinspirasi oleh pakaian teknis luar ruangan, perlengkapan safari, dan perlengkapan militer bekas," menurut Hypebeast.

Dengan siluet khas yang sangat dipengaruhi gaya tahun 80-an dan 90-an, koleksi yang dirilis pada 12 Maret 2026 ini "sangat menekankan tekstur yang kaya dan pola yang berani." Palet warna musiman tetap sangat mudah dikenakan, berpusat pada warna merah marun tua, biru tua klasik, dan hijau zaitun yang seimbang dengan warna khaki yang lembut dan serbaguna.

"Motif utama yang menonjol dari koleksi ini adalah penggunaan motif kotak-kotak Madras yang dominan, yang tampil kuat pada pakaian luar dan kemeja ringan—terutama pada Reversible Madras Windbreaker dan Washed Madras Shirt," tulis outlet tersebut.

Rangkaian Andalan

Transisi yang anggun dari awal musim semi ke panasnya musim panas membutuhkan lapisan pakaian dengan ketebalan sedang yang sempurna, dan koleksi rajutan terbaru ALD memainkan peran sentral dalam menyediakan kebutuhan tersebut.

Potongan pakaian dengan ketebalan musiman, seperti Linen Blend Cable Knit Sweater dan Simaía Crewneck Sweater, menawarkan pilihan lapisan premium untuk hari-hari yang sejuk. Melengkapi jajarannya, koleksi ini juga menyoroti Striped Crest Rugby yang sporty dan secara resmi menandai diperkenalkannya kembali Officer Pant yang menjadi favorit pelanggan.

"Dengan menggunakan kain ringan dan campuran katun-linen premium di seluruh lini produknya, merek ini memastikan transisi yang nyaman dan mudah untuk menghadapi perubahan cuaca," tulis Hypebeast.

Kontroversi Serupa

Bertahun lalu, kontroversi serupa ditujukan pada rumah mode dunia, Louis Vuitton dan Christian Dior, yang merilis koleksi dinilai mirip motif batik. Menanggapi ini, desainer Musa Widyatmodjo menjelaskan, perancang di balik busana Dior, Maria Grazia Chiuri, memang ditunjuk untuk menghadirkan kreasi baru di koleksi label asal Prancis tersebut.

"Ia membawa aura etnis. Kita bisa lihat di koleksinya ada yang punya sentuhan meksiko, ada Spanyol juga," katanya dalam Fashion Talk yang dipandu Amy Wirabudi lewat Instagram Live, 1 Agustus 2020. Yang harus digarisbawahi, sambung Musa, pihak Dior untuk koleksi yang dirilis pada Mei 2019 itu tidak pernah menyebut batik, melainkan wax print Afrika.

"Harus dipahami bahwa istilah batik memang dari Indonesia, namun proses menggambar motif di atas kain putih pakai malam itu ada di mana-mana. China, Mesir, India, Jepang, banyak yang pakai teknik ini," Musa menjelaskan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |