Bersantap di Restoran bak Rumah Oma, Lebih dari Sekadar Mengenyangkan Perut

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - "Selamat datang cucu kesayangan Oma," sapa ramah staf restoran Uma Oma Heritage pada tamu yang baru tiba. Senyum staf dengan rambut beruban itu begitu ramah, meneduhkan. Ia lalu mengoper peran pada staf yang lebih muda untuk menunjukkan kursi yang sudah dipesan sebelumnya.

Uma Oma Heritage yang berlokasi dekat Taman Menteng, Jakarta Pusat, itu menjadi restoran terbaru yang dibuka Uma Oma Group sejak 2 April 2026. Menghadirkan menu hidangan Nusantara, setiap pengunjung yang datang diharapkan bukan merasa datang ke restoran, tetapi seperti berkunjung ke rumah nenek.

"Biasanya kalau kita ke restoran, orang selalu bilang, mau makan di mana? Tapi, hari ini, kami ingin mengajak teman-teman untuk berpikir sedikit berbeda. Bukan mau makan di mana, tapi mau pulang ke mana," kata Firhan Salam, co-founder dan Chief Marketing Officer Uma Oma Group, di sela peresmian pembukaan restoran itu, pekan lalu.

Dengan konsep tersebut, keterlibatan para oma dengan latar belakang beragam, seperti mantan kepala HRD hingga atlet, bukan sekadar pajangan, melalui 'jantung hati' dari restoran yang bermula dari kafe di kawasan Melawai, Blok M, Jakarta itu. Mereka bertugas tak hanya melayani, tapi 'mengobati rindu' para perantau maupun mereka yang sudah tak bisa menemui neneknya karena berbagai faktor.

"Jadi, ketika datang ke Uma-Oma itu bukan hanya sekadar menikmati makanan, tapi suasana, perhatian, kehangatan, dan lain-lain. Ketika tamu datang ke Uma-Oma, harapannya adalah mendapatkan sesuatu nostalgia," kata Junaedi Salat, founder Uma Oma Group.

Kehangatan Para Oma

Harapan itu setidaknya dirasakan saat saya berkunjung. Di meja panjang di ruangan VIP, Oma Jo, salah satu staf, melayani kami dengan ramah. Tak hanya menawari kudapan ringan berupa bika talago khas Sumatera Barat dan sate lilit khas Bali, ia juga langsung menuangkan teh hangat ke cangkir begitu duduk di kursi.

Perempuan yang tinggal di Bogor itu mengaku senang akan tugas barunya. Nenek satu cucu itu membagikan pengalaman tak terlupakan saat melayani tamu, yakni berbagi cerita dengan sesama lansia yang datang dengan kursi roda. Ia mengaku beruntung masih bisa aktif walau fisiknya tak lagi sekuat dulu.

Sesekali ia pun bercanda dengan saya dan teman-teman media yang mayoritas lebih muda darinya. "Ayo makan dulu atau mau disuapi oma nih?" ucapnya.

Beda lagi cerita Oma Lauren yang bertugas di area island. Sambil menunjukkan cara membuat kue lontar, semacam pie susu khas Papua, ia mengaku pekerjaan itu memberinya kehidupan setelah tak lagi aktif berlaga sebagai atlet bulutangkis. Ia bahkan mengaku itu pekerjaan formal pertamanya seumur hidup.

"Saya awalnya nggak kenal dunia F&B, akhirnya saya mengerti dunia F&B. Aduh, oma seneng banget, sampai terharu," tuturnya sambil menahan tangis.

Berburu Resep Autentik ke Berbagai Daerah

Terlepas dari membangun suasana, operasional restoran tak bisa dilepaskan dari makanan lezat yang berkualitas. Mengedepankan makanan nusantara, Uma Oma Group memastikan bahwa cita rasa yang dihadirkan memang autentik untuk setiap menu.

Chief F&B Product Uma Oma Group Hazel menjelaskan bahwa pihaknya sengaja berburu resep ke berbagai daerah untuk mendapatkan cita rasa asli. Padang dan Bukittinggi di Sumatera Barat, lanjut ke Palembang Sumatera Selatan, Manado di Sulawesi Utara, hingga bergerilya ke Solo dan Tegal Jawa Tengah sudah dilakoni pihaknya.

"Jadi, ketika dalam proses pencarian resep itu, kita selalu berinteraksi dengan orang lokal. Kita bertanya ke mereka... Dengan itu, kita jadi tahu bahwa masakan itu bukan hanya masalan, tapi juga part of cultural heritage," kata Hazel.

Perburuan resep juga merupakan kontribusi pihaknya untuk melestarikan makanan Indonesia yang tak terhitung jumlahnya. Dari sederet pilihan, pihaknya mencari makanan yang menjadi comfort food kebanyakan orang Indonesia, seperti itiak lado mudo, cumi hitam, dan empal gentong.

Bagi saya, menyantap cumi hitam adalah yang paling membangkitkan nostalgia karena mengingatkan pada masakan ibu. Bumbu tinta cumi yang aromatik dan cumi yang kenyal tapi tetap mudah dikunyah, seperti memanjakan lambung yang sudah keroncongan.

Rancang Interior yang Hangat

Elemen lain yang jadi perhatian adalah interior restoran. Juna menerangkan bahwa pemilihan lokasi ditentukan setelah melalui survei panjang. 

Rumah bergaya jengki dengan lantai tegel dinilai paling merepresentasikan sebagai rumah nenek. Ruangannya juga terbagi seolah ada ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur, didekorasi dengan fokus membuat setiap tamu nyaman berkunjung.

"Suasana dan pelayanan oma itu dikemas dalam satu kesatuan di rumah nenek," kata Juna.

Kenyamanan itu bukan hanya diciptakan untuk tamu, tapi juga untuk para pekerja, baik para oma maupun staf yang lebih muda. Suasana kerja dibangun agar bisa saling mendukung satu sama lain, bukan menjadi lingkungan 'beracun' yang kerap tercipta di industri F&B.

Untuk itu, pelatihan menjadi investasi penting untuk mendidik staf agar memiliki keterampilan dan sikap kerja yang positif. Firhan berharap upaya yang dilakoni pihaknya bisa diikuti pihak lain karena nyatanya kaum lansia masih bisa bekontribusi positif pada ekonomi.

"Kami ingin hal ini menjadi sebuah gerakan sosial yang diharapkan dapat terus bertumbuh. Kami kini dalam tahap awal menjajaki proses partnership dengan Kementerian Tenaga Kerja. Beberapa hal kita ingin berkolaborasi, satunya munkin dari aspek untuk menghapuskan stigma warga lanjut usia," ujarnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |