Bandara Internasional Kuwait Segera Beroperasi Usai Ditutup 2 Bulan Imbas Perang Iran

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Kuwait membuka kembali wilayah udaranya di Bandara Internasional Kuwait mulai Kamis malam, 23 April 2026, setelah ditutup hampir dua bulan, dengan penerbangan yang akan dilanjutkan secara bertahap. Hal itu dilaporkan kantor berita pemerintah Kuna pada hari yang sama.

Langkah ini menandai dimulainya kembali operasi secara bertahap setelah penangguhan sementara sebagai tindakan pencegahan yang diberlakukan sejak 28 Februari 2026 menyusul Perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat (AS). Proses ini akan dimulai dengan pembukaan kembali Terminal 4 dan 5 untuk tujuan tertentu mulai Minggu, 26 April 2026.

Mengutip AFP, Jumat (24/4/2026), Sheikh Hamoud Mubarak Al Sabah, Ketua Otoritas Penerbangan Sipil Umum, mengatakan langkah ini dikoordinasikan dengan otoritas domestik dan internasional terkait untuk memastikan operasi dilanjutkan sesuai dengan standar keselamatan dan keamanan tertinggi. Operasi awal akan dibatasi pada destinasi terpilih berdasarkan prioritas operasional, dengan setiap fase akan dievaluasi secara berkala sebelum ekspansi yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa pembukaan kembali ini merupakan bagian dari pendekatan bertahap yang direncanakan dengan cermat untuk memulihkan lalu lintas udara, dengan operasi penuh diharapkan akan dilanjutkan pada waktunya. Pihak berwenang mengatakan penilaian kerusakan telah selesai setelah apa yang mereka sebut sebagai serangan Iran dan tindakan oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi, dengan tim teknis memelihara dan memperbaiki untuk memulihkan kesiapan operasional.

Apresiasi Negara-negara Teluk

Sheikh Hamoud memuji upaya staf penerbangan dan entitas pemerintah yang terlibat dalam mengelola situasi dan mempercepat pemulihan, serta menyampaikan apresiasi atas dukungan Arab Saudi dalam memfasilitasi maskapai penerbangan Kuwait melalui bandara-bandaranya.

Dia juga menyoroti koordinasi antar negara-negara GCC untuk menjaga kontinuitas lalu lintas udara selama krisis dan memuji dukungan kepemimpinan politik yang membantu mempercepat pembukaan kembali bandara.

Sementara itu, dikutip dari rilis resmi Kantor Media Pemerintah Dubai tertanggal 2 April 2026, Putra Mahkota Dubai Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum mengumumkan sederet langkah baru untuk memulihkan pariwisatanya yang terdampak Perang Iran vs Israel dan AS. Langkah itu merupakan bagian dari paket insentif ekonomi senilai 1 miliar dirham UAE yang dirilis Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, awal bulan ini.

Pelonggaran Kebijakan untuk Perhotelan

Salah satu langkah Dubai adalah mengizinkan hotel untuk menunda pembayaran 100 persen biaya penjualan kamar dan makanan dan minuman serta Dirham Pariwisata selama tiga bulan. Kebijakan yang bertujuan meringankan tekanan keuangan dan meningkatkan likuiditas sektor perhotelan dan pariwisata itu berlaku mulai 1 April 2026. Kebijakan itu berlaku untuk semua perusahaan perhotelan, termasuk hotel, apartemen hotel, dan rumah liburan.

Langkah-langkah lain yang bertujuan untuk mendukung bisnis di seluruh perekonomian yang lebih luas, yang diterapkan selama tiga bulan mulai 1 April 2026, meliputi penangguhan biaya untuk nama bisnis premium; biaya perubahan lisensi; biaya pengumuman di surat kabar; biaya layanan lokal; biaya akomodasi; biaya pengelolaan limbah; dan biaya peningkatan layanan. Penangguhan ini berlaku untuk lisensi baru dan perpanjangan. Pelaku bisnis akan diberikan informasi terbaru di akhir periode tiga bulan tersebut.

Model Ekonomi Dubai

Direktur Jenderal Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai (DET) Helal Saeed Almarri menambahkan bahwa model ekonomi Dubai dibangun di atas kelincahan, kejelasan, dan kerja sama, dan percepatan pengenalan serta implementasi langkah-langkah tersebut. Menurutnya, hal itu bisa terlaksana berkat kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta.

"Insentif baru ini sejalan dengan umpan balik yang telah kami terima dari para pemimpin perhotelan di kota ini dan akan menempatkan mereka pada posisi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan dan momentum bagi sektor ini," imbuh Issam Kazim, CEO Dubai Corporation for Tourism and Commerce Marketing (DCTCM), bagian dari DET.

Ahmad Khalifa AlQaizi AlFalasi, CEO Dubai Business Registration and Licensing Corporation (DBLC), bagian dari DET, mengatakan, "Dengan memberikan fleksibilitas ekstra kepada bisnis selama beberapa bulan mendatang, kami memungkinkan mereka untuk fokus pada prioritas utama dan langkah-langkah yang perlu mereka ambil untuk melindungi keberlanjutan jangka panjang operasi mereka."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |