4 Startup Indonesia Unjuk Gigi di Sushi Tech Tokyo 2026, Bawa Inovasi Kulit dari Limbah Kopi

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Empat startup Indonesia unjuk gigi di ajang teknologi global Sustainable High-City Technology (SusHi Tech) Tokyo 2026 melalui program Bekum Global Scale-Up yang diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf). Melalui program ini, startup yang melewati proses kurasi ketat itu didorong untuk berekspansi ke pasar internasional, khususnya Jepang.

"Sekarang ini ada empat startup yang telah terpilih untuk mengikuti benchmarking, juga melakukan business matching, dan juga mencari peluang yang lebih besar di acara SusHi Tech Tokyo," kata Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya ditemui di Jakarta, 21 April 2026.

Empat startup tersebut terdiri dari Bell Living Lab, Gapai, IJO, dan SPUN. Dari empat startup, dua di antaranya fokus mengembangkan  keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability), yakni Bell Living Lab dan IJO. Menurut Riefky, keduanya dinilai berpotensi menarik atensi pebisnis Jepang lantaran negeri sakura itu menaruh perhatian besar pada isu keberlanjutan.

Sementara, Gapai merupakan startup yang fokus pada membuat koneksi antara perusahaan di luar negeri dengan tenaga kerja terampil dari Indonesia yang mencari peruntungan di luar negeri, terutama di bidang hospitality, manufaktur, dan kesehatan. "Kita tahu presiden kita baru dari Jepang dan juga ingin semakin banyak pekerja-pekerja Indonesia yang skill yang juga bisa masuk ke Jepang," katanya.

Terakhir adalah SPUN yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memproses visa orang Indonesia ke berbagai negara. "Jadi, target outputnya adalah kerja sama bisnis," ujar Riefky.

Inovasi Kulit dan Material dari Limbah Kopi

Pendiri Bell Living Lab, Arka Irfani menerangkan bahwa bisnis yang dirintisnya sejak lima tahun lalu berfokus pada upaya mengubah ampas kopi menjadi material berkinerja tinggi untuk industri fesyen dan furnitur. Usahanya dilatari pengetahuan yang didapatnya semasa kuliah di ITB.

"Kebetulan saya emang dulu di kampus belajar tentang fermentasi. Nah, di situlah muncul (idenya). Ada bakteri yang ternyata bisa produksi lembaran (filamen)," ungkap Arka kepada Lifestyle Liputan6.com.

Lembaran itu, kata Arka, mirip dengan proses menghasilkan nata de coco. Hanya saja, material yang dihasilkan Bell lebih fleksibel, lebih kuat, dan lebih besar. Dengan karakteristik tersebut, pihaknya terus mengembangkan beragam jenis material, dari kulit alternatif hingga semacam papan yang keras. "Sekitar 30 lebih produk yang kita siap jual," kata Arka. 

Pihaknya bekerja sama dengan petani dan roastery untuk mendapatkan bahan baku limbah kopi. Sejauh ini, ia melihat prospek bisnis yang lebih cerah seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan lingkungan.

"Kebanyakan (pasar) mungkin masih di Bali sama Jakarta, tapi kita lihat trennya bakalan naik terus sih," ujarnya seraya berharap pangsa pasarnya semakin terbuka di luar negeri, sekaligus mendapatkan investasi atau kerja sama menguntungkan di ajang SusHi Tech Tokyo 2026.

Manfaatkan AI untuk Bantu Urus Visa

Beda lagi dengan cerita Christa Sabathaly, CEO dan co-founder SPUN Global. Bisnis startup yang membuat infrastruktur pengurusan visa online itu baru berjalan dua tahun. Meski begitu, Christa optimistis bisa menarik atensi pihak luar dengan terobosannya karena memberi solusi perihal pengurusan visa.

"Kita ada semacam directrory-nya. Jadi, kita bisa benar-benar tahu sebenarnya kebutuhan visa, requirement-nya apa. Terus ada juga sistem yang namanya Visa Approval Scoring. Sebelum submit ke Visa Application Center, bisa tahu likelihood percentage, kira-kira di-approve atau enggaknya. Karena kalau sudah submit, terus di-reject, itu kan uangnya hilang," tuturnya.

Sistem itu tidak hanya menargetkan pengguna individu, tetapi juga perusahaan seperti travel agent. Asal dia punya situs dan sistem pengunggahan, calon klien bisa diprediksi visanya bakal diterima atau tidak.

"Sekarang kita sudah ada 400 visa framework yang akan sangat sulit kalau dilakukan secara manual. Dengan adanya teknologi AI, kita bisa mengumpulkan informasinya dengan sangat cepat dan menilainya juga dengan sangat cepat," sambung Christa.

Target Ekonomi dari Keikutsertaan di SusHI Tech Tokyo

Dengan empat startup yang dikirim ke Tokyo, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam menyatakan pihaknya membidik 20--32 pertemuan bisnis dengan potensi 12--22 kerja sama. Peluang transaksi awalnya diperkirakan senilai USD 1--5 juta.

"Di saat yang sama, partisipasi ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan visibilitas Indonesia, memperluas jejaring kolaborasi dengan mitra internasional, serta membuka peluang kerja sama lanjutan antarnegara," jelasnya.

Sementara, BEKUP Global Scale-Up merupakan program yang mempersiapkan startup Indonesia menembus pasar internasional melalui serangkaian pendampingan intensif, proses kurasi yang terarah, serta pembukaan akses ke jejaring global yang relevan dan berkelanjutan. Program yang dimulai sejak Februari 2026 ini berhasil menarik 125 pendaftar dari seluruh Indonesia.

Melalui proses seleksi terpilih Top 10 startup terbaik yang kemudian dikurasi lebih lanjut menjadi Top 4 startup. Kurasi tahap akhir ini melibatkan kurator ahli dari Jepang seperti Creww Inn dan TechShake guna memastikan bahwa inovasi yang dibawa memiliki keselarasan (market-fit) yang tinggi dengan kebutuhan pasar industri global.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |