9 Perilaku Unik Balita yang Sebenarnya Cukup Normal, Termasuk Suka Bicara Sendiri

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Balita sering melakukan berbagai hal yang terlihat aneh dan sulit dipahami oleh orangtua. Mulai dari tiba-tiba menolak makan, sering menyentuh tubuhnya sendiri, hingga melakukan kebiasaan yang terasa mengkhawatirkan.

Tak jarang, perilaku-perilaku ini membuat orangtua bertanya-tanya apakah hal tersebut masih tergolong wajar. Menurut Candace Jones, dokter anak yang berbasis di Orlando, Amerika Serikat sekaligus penulis buku High Five Discipline, banyak perilaku yang dianggap “unik” pada balita sebenarnya merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang mereka.

Dalam fase ini, balita sedang belajar mengenali tubuh, emosi, dan lingkungan di sekitarnya.

Melansir dari Parents pada Kamis, 8 Januari 2026, berikut sembilan perilaku unik balita yang sering membuat orangtua cemas, tetapi umumnya masih tergolong normal: 

1. Pilih-Pilih Makanan (Picky Eating)

Balita yang sebelumnya lahap makan bisa tiba-tiba menolak makanan. Jones menjelaskan bahwa balita yang menjadi pemilih soal makanan adalah hal yang normal.

Penolakan makanan bisa terjadi karena anak memang sedang tidak lapar, atau karena indera perasa dan sensitivitas teksturnya sedang berkembang. Orangtua disarankan tetap menawarkan makanan sehat tanpa memperbesar drama di meja makan.

2. Nyaris Lulus Toilet Training tapi Kembali Ngompol

Balita yang hampir berhasil toilet training bisa kembali sering mengompol. Begitu juga dengan pola tidur yang tiba-tiba berantakan. Menurut Jones, perubahan dalam kehidupan anak, seperti hadirnya adik baru, bisa memicu regresi. Orangtua diminta tidak panik atau menghukum anak, karena tubuh dan otak balita memang berkembang sangat cepat dan bisa memengaruhi kebiasaan mereka.

3. Memasukkan Tangan ke Dalam Celana

Banyak orangtua kaget saat balita sering menyentuh area genitalnya. Jones menyebut ini sebagai bentuk eksplorasi tubuh yang normal. Orangtua sebaiknya mengalihkan perhatian anak tanpa membuat keributan atau rasa malu, karena balita sedang mengenal tubuhnya sendiri.

4. Membenturkan Kepala

Perilaku membenturkan kepala sering membuat orangtua panik. Namun, Jones menjelaskan bahwa head banging bisa bersifat ritmis dan memberikan rasa nyaman, terutama saat anak mengantuk, kesakitan, atau sedang tantrum. Perilaku ini sering kali dapat diatasi dengan pengalihan atau memberikan rasa tenang pada anak.

5. Bermain dengan Kotoran (Poop Play)

Menemukan balita bermain dengan kotorannya sendiri memang menjijikkan, tetapi menurut Jones, ini juga bagian dari eksplorasi. Balita penasaran dengan apa yang keluar dari tubuh mereka dan bagaimana rasanya. Menariknya, perilaku ini bisa menjadi tanda bahwa anak siap mulai toilet training, dengan mengajarkan ke mana seharusnya kotoran dibuang.

6. Mengorek Hidung

Mengorek hidung, menjilat ingus, atau sering mengendus adalah perilaku yang cukup umum. Selain karena rasa ingin tahu, balita bisa melakukannya karena hidung terasa gatal, tersumbat, atau kering. Jika orangtua mencurigai adanya masalah medis, Jones menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak.

7. Bermain Imajinatif dan Bicara Sendiri

Balita yang berbicara sendiri atau bermain sendirian, meskipun ada anak lain di dekatnya, masih tergolong normal. Ini dikenal sebagai parallel play. Menurut Jones, bermain imajinatif dan berbicara sendiri membantu perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan motorik anak.

8. Suka Telanjang atau Menolak Memakai Pakaian

Balita kadang menolak memakai baju atau memilih berlari tanpa busana. Jones menyebutkan bahwa pakaian yang terasa panas, gatal, atau tidak nyaman bisa menjadi penyebabnya. Selain itu, perilaku ini juga bisa berkaitan dengan pencarian perhatian atau bentuk tarik-ulur kekuasaan antara anak dan orangtua.

9. Bergoyang Maju Mundur

Gerakan berulang seperti bergoyang maju mundur sering membuat orang tua khawatir. Padahal, banyak balita melakukan ini untuk menenangkan diri atau membantu tidur. Jones menjelaskan bahwa perilaku ini umum terjadi dan biasanya berhenti sendiri sebelum usia tiga tahun. Jika ragu, orangtua dapat berkonsultasi dengan dokter anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |