13 Manfaat Babadotan yang Jarang Diketahui, Tanaman Liar Bernilai Tinggi

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Babadotan sering dipandang sebelah mata karena tumbuh liar di kebun, sawah, dan pinggir jalan, padahal tanaman bernama latin Ageratum conyzoides ini telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di berbagai daerah Indonesia. Di balik tampilannya yang sederhana, tanaman babadotan menyimpan beragam senyawa aktif yang berpotensi membantu menjaga kesehatan tubuh jika digunakan dengan cara yang tepat dan bijak.

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami, babadotan mulai kembali dilirik sebagai tanaman herbal yang memiliki banyak kegunaan, baik untuk pemakaian luar maupun konsumsi tradisional terbatas. Dengan pemahaman yang benar, tanaman liar ini tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga memiliki nilai kesehatan yang cukup tinggi.

1. Menghentikan Pendarahan Luka

Babadotan dikenal luas dalam pengobatan tradisional sebagai tanaman yang membantu menghentikan pendarahan pada luka ringan, terutama karena kandungan senyawa alaminya yang dipercaya mampu mempercepat proses pembekuan darah. Daunnya biasanya ditumbuk halus lalu ditempelkan pada bagian luka sebagai pertolongan pertama.

Selain menghentikan darah, penggunaan babadotan pada luka juga dipercaya dapat membantu melindungi area terbuka dari kontaminasi kuman luar. Hal ini membuat babadotan sering dimanfaatkan di daerah pedesaan sebagai alternatif alami ketika obat antiseptik modern belum tersedia.

Meski demikian, penggunaan babadotan untuk luka tetap perlu memperhatikan kebersihan daun dan area luka agar manfaatnya optimal. Daun sebaiknya dicuci bersih terlebih dahulu untuk menghindari risiko infeksi tambahan.

2. Mempercepat Penyembuhan Luka

Selain menghentikan pendarahan, babadotan juga dipercaya mampu mempercepat proses penyembuhan luka dengan merangsang regenerasi jaringan kulit. Kandungan antiinflamasi di dalamnya membantu mengurangi peradangan sehingga luka tidak semakin parah.

Pemanfaatan ini biasanya dilakukan dengan penggunaan luar, baik dalam bentuk tumbukan daun segar maupun air rebusan yang digunakan untuk membersihkan luka. Cara tradisional ini sudah lama diwariskan secara turun-temurun di berbagai daerah.

Namun, penyembuhan luka dengan babadotan sebaiknya hanya diterapkan pada luka ringan. Untuk luka dalam atau serius, penanganan medis tetap menjadi pilihan utama.

3. Meredakan Peradangan

Babadotan memiliki sifat antiinflamasi yang membuatnya sering digunakan untuk membantu meredakan peradangan pada kulit maupun jaringan lunak. Peradangan ringan akibat benturan atau iritasi dipercaya dapat berkurang dengan penggunaan tanaman ini.

Dalam praktik tradisional, daun babadotan ditempelkan pada area yang mengalami bengkak untuk membantu menenangkan jaringan yang meradang. Efek dingin alami dari daun juga memberikan rasa nyaman pada kulit.

Meskipun bermanfaat, penggunaan secara berlebihan atau pada kulit sensitif tetap perlu dihindari. Uji coba pada area kecil dianjurkan sebelum pemakaian lebih luas.

4. Mengurangi Nyeri

Efek analgesik alami babadotan menjadikannya kerap digunakan untuk membantu meredakan nyeri ringan, seperti pegal otot atau nyeri akibat peradangan. Sensasi hangat atau sejuk yang muncul setelah penggunaan dipercaya membantu mengurangi rasa tidak nyaman.

Penggunaan luar menjadi metode paling umum, terutama dengan menempelkan tumbukan daun pada area yang terasa sakit. Cara ini dianggap lebih aman dibandingkan konsumsi langsung.

Meski demikian, babadotan bukan pengganti obat pereda nyeri medis. Penggunaannya lebih tepat sebagai pendamping atau solusi sementara untuk nyeri ringan.

5. Mengatasi Bisul dan Jerawat

Babadotan juga sering dimanfaatkan untuk membantu mengatasi bisul dan jerawat karena sifat antibakterinya. Kandungan senyawa aktif di dalamnya dipercaya mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi kulit.

Daun babadotan yang ditumbuk halus biasanya ditempelkan langsung pada bisul atau jerawat agar membantu mempercepat pematangan dan pengempisan. Cara ini cukup populer dalam pengobatan tradisional.

Namun, kebersihan tetap menjadi faktor utama agar tidak menimbulkan iritasi atau infeksi baru. Penggunaan pada kulit wajah sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati.

6. Meredakan Gatal dan Iritasi Kulit

Gatal dan iritasi ringan pada kulit sering diatasi dengan air rebusan babadotan yang digunakan sebagai bilasan. Kandungan antiinflamasi dan antimikroba di dalamnya dipercaya membantu menenangkan kulit.

Pemanfaatan ini umum dilakukan pada gatal akibat gigitan serangga atau alergi ringan. Efek menyejukkan dari air rebusan memberikan rasa nyaman pada kulit yang bermasalah.

Meski tergolong alami, penggunaan babadotan pada kulit sensitif tetap perlu pengawasan. Jika muncul reaksi tidak nyaman, pemakaian sebaiknya segera dihentikan.

7. Membantu Mengatasi Diare

Dalam pengobatan tradisional, babadotan dikenal sebagai salah satu tanaman yang digunakan untuk membantu meredakan diare ringan. Kandungan tertentu di dalamnya dipercaya membantu menenangkan saluran pencernaan.

Biasanya, babadotan diolah dalam bentuk rebusan dengan takaran terbatas. Air rebusan ini dikonsumsi secara tradisional untuk membantu mengurangi frekuensi buang air besar.

Namun, konsumsi babadotan untuk diare sebaiknya tidak dilakukan dalam jangka panjang. Jika diare berlanjut, penanganan medis tetap diperlukan.

8. Bersifat Antibakteri

Babadotan mengandung senyawa antibakteri yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Inilah alasan mengapa tanaman ini sering digunakan untuk perawatan luka dan masalah kulit.

Sifat antibakteri tersebut membantu mengurangi risiko infeksi sekunder ketika digunakan dengan benar. Hal ini menjadikan babadotan cukup berharga dalam pengobatan tradisional.

Meski demikian, efektivitasnya dapat berbeda pada setiap individu. Penggunaan tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

9. Bersifat Antijamur

Selain antibakteri, babadotan juga dikenal memiliki sifat antijamur yang bermanfaat untuk mengatasi masalah kulit tertentu. Jamur penyebab gatal dan iritasi ringan dipercaya dapat dihambat dengan penggunaan tanaman ini.

Pemanfaatan biasanya dilakukan secara luar dengan menempelkan tumbukan daun atau menggunakan air rebusannya. Cara ini dianggap cukup aman jika digunakan dengan bijak.

Namun, untuk infeksi jamur yang berat, pengobatan medis tetap menjadi solusi utama. Babadotan lebih tepat digunakan sebagai pendukung perawatan.

10. Membantu Menurunkan Demam

Babadotan secara tradisional digunakan untuk membantu menurunkan demam ringan. Air rebusannya dipercaya memiliki efek menenangkan dan membantu menurunkan panas tubuh.

Penggunaan ini umumnya dilakukan dalam jumlah terbatas dan tidak terus-menerus. Demam ringan akibat kelelahan atau masuk angin sering menjadi alasan pemanfaatannya.

Meski demikian, demam tinggi atau berkepanjangan memerlukan pemeriksaan medis. Babadotan tidak dianjurkan sebagai satu-satunya solusi.

11. Meredakan Pembengkakan Akibat Benturan

Pembengkakan akibat benturan ringan sering diatasi dengan tempelan daun babadotan. Kandungan antiinflamasi di dalamnya dipercaya membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri.

Cara ini banyak digunakan karena praktis dan mudah dilakukan. Efeknya juga relatif cepat dirasakan pada beberapa kasus ringan.

Namun, untuk benturan berat atau cedera serius, pemeriksaan medis tetap menjadi prioritas utama demi keselamatan.

12. Membantu Mengatasi Sariawan

Air rebusan babadotan kadang dimanfaatkan sebagai obat kumur tradisional untuk membantu meredakan sariawan. Sifat antibakterinya dipercaya membantu menjaga kebersihan rongga mulut.

Penggunaan ini dilakukan dengan berkumur tanpa menelan air rebusan. Cara tersebut dianggap lebih aman dan praktis.

Meski demikian, rasa dan aroma babadotan mungkin kurang nyaman bagi sebagian orang. Penggunaan dapat dihentikan jika menimbulkan iritasi.

13. Mendukung Daya Tahan Tubuh

Kandungan antioksidan dalam babadotan dipercaya membantu melindungi tubuh dari paparan radikal bebas. Hal ini menjadikannya berpotensi mendukung daya tahan tubuh secara alami.

Dalam pengobatan tradisional, pemanfaatan ini dilakukan secara terbatas dan tidak rutin. Tujuannya lebih sebagai pendukung kesehatan, bukan pengobatan utama.

Tetap diperlukan pola hidup sehat agar manfaat babadotan dapat dirasakan secara optimal. Tanaman ini sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti pengobatan medis.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa itu babadotan?

Babadotan adalah tanaman liar bernama latin Ageratum conyzoides yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional.

2. Apakah babadotan aman dikonsumsi?

Aman dalam jumlah terbatas secara tradisional, namun sebaiknya tidak berlebihan dan tetap berhati-hati.

3. Babadotan lebih sering digunakan untuk apa?

Paling sering digunakan untuk perawatan luka, masalah kulit, dan keluhan ringan.

4. Apakah babadotan bisa menggantikan obat medis?

Tidak, babadotan hanya bersifat pendukung dan bukan pengganti pengobatan medis.

5. Siapa yang sebaiknya menghindari babadotan?

Ibu hamil, menyusui, dan penderita kondisi tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |