Liputan6.com, Jakarta - Gempa Myanmar yang terjadi pada Jumat siang, 28 Maret 2025, meruntuhkan gedung 30 lantai milik Kantor Audit Negara di kawasan Chatuchak, Bangkok, Thailand, hingga rata jadi tanah. Sebagian besar dari ratusan pekerja konstruksi yang sedang bekerja saat itu pun terkubur.
Sejak itu, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt menyatakan area tersebut terlarang dimasuki oleh orang yang tidak berkepentingan dalam proses pencarian dan penyelamatan para korban. Namun, empat pria China kedapatan memasuki area secara ilegal dan keluar dengan membawa 32 dokumen pada Sabtu, 29 Maret 2025 (sebelumnya disebutkan Minggu, 30 Maret 2025).
Mengutip The Thaiger, Rabu (2/4/2025), warga yang curiga menghubungi polisi yang kemudian menangkap mereka. Mereka, salah satunya mengaku sebagai direktur proyek, mengaku diperintahkan untuk mengambil dokumen guna mengklaim uang dari perusahaan asuransi. Setelah diinterogasi, dokumen keimigrasian mereka menunjukkan bahwa keempat pria secara legal dipekerjakan perusahaan subkontraktor yang mengerjakan proyek tersebut.
Polisi sempat membebaskan semuanya, tetapi kembali memanggil mereka ke Kantor Polisi Bang Sue pada Senin, 31 April 2025. Rincian pemeriksaan dan dakwaan yang dijatuhkan terhadap para tersangka belum diungkapkan.
Namun menurut Thai PBS, mereka dapat dijerat Undang-Undang Pencegahan dan Mitigasi Bencana karena memasuki area terlarang secara ilegal dengan ancaman hukuman 3 bulan penjara, denda hingga 6.000 baht, atau keduanya.
Kehancuran total gedung tersebut mengundang kecurigaan publik akan kemungkinan korupsi dalam pembangunan kantor tersebut. Terlebih, anggaran pembangunannya lebih dari 2,1 miliar baht atau lebih dari Rp1 triliun.
Diduga Gunakan Baja di Bawah Standar
Perhatian tertuju pada kontraktor konstruksi, China Railway Nomor 10 (CREC No.10) dan Italian-Thai Development. CREC No.10 didaftarkan pada 10 Agustus 2018 dengan modal 100 juta baht dan berhasil memenangkan tender proyek Kantor Auditor Negara.
Beberapa pihak merasa terkejut dengan terpilihnya perusahaan tersebut, mengingat perusahaan tersebut tergolong baru dalam industri konstruksi Thailand. Setelah gedung runtuh, Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra menginstruksikan lintas lembaga menyelidiki semua proyek konstruksi yang digarap CREC No.10.
"Semua lembaga terkait diinstruksikan untuk menyelidiki lebih dalam untuk mengetahui berapa banyak proyek lain yang sedang dikerjakan perusahaan tersebut," kata perdana menteri.
Ia mengatakan bahwa gedung yang runtuh tersebut telah menelan korban jiwa dan berdampak negatif pada citra Thailand. Menteri Kehakiman Tawee Sodsong telah memerintahkan Departemen Investigasi Khusus (DSI) untuk menginvestigasi.
"Semua gedung di Bangkok harus memenuhi standar hukum. Keselamatan harus menjadi prioritas utama," kata Paetongtarn. Dia mengatakan penyelidikan akan dilakukan terhadap dugaan bahwa batang baja yang digunakan dalam konstruksi gedung tersebut tidak memenuhi standar.
Perusahaan China Terdeteksi Garap 13 Proyek Konstruksi di Thailand
Gambar batang baja yang dibagikan oleh kementerian dan media lokal menampilkan merek "Sky", dibuat di pabrik Xin Ke Yuan Steel Co di Provinsi Rayong. Pihak berwenang menutup pabrik tersebut pada Desember 2024 karena kecelakaan yang melibatkan kebocoran tangki gas dan menyita lebih dari 2.400 ton baja.
Wakil Menteri Perdagangan Napintorn Srisunpang mengatakan penyelidikan awal menemukan bahwa pemegang saham China Railway No.10 Engineering Group terkait dengan 13 perusahaan lain. Proyek lain yang dilakukan oleh China Railway No.10 Engineering Group termasuk pembangunan gedung Kantor Sumber Daya Air Nasional dan beberapa bagian dari proyek kereta api cepat Bangkok-Nong Khai.
Perusahaan yang sama saat ini juga sedang membangun terminal baru yang molor dari jadwal di bandara Provinsi Narathiwat. Pembangunan terminal senilai 639,89 juta baht itu hanya maju 0,51 persen bulan lalu, dan baru selesai 39,2 persen.
"Seharusnya selesai pada 16 Januari 16 tahun ini, tetapi pekerjaan lebih lanjut tertunda oleh banjir di Provinsi Narathiwat akhir tahun lalu," kata Wakil Menteri Transportasi Manaporn Charoensri.
Manaporn mengatakan departemen bandara, pemilik proyek, akan mengikuti kemajuan masa depan dengan saksama untuk menentukan apakah kontraktor akan dapat menyelesaikannya. "Konsorsium konstruksi terdiri dari China Railway No.10 (Thailand) Co dan ISO Engineering Co," sambungnya.
Proyek Pembangunan Gedung di Rumah Sakit Masih Berlanjut
Perusahaan Tiongkok itu juga sedang membangun sebuah gedung baru di Rumah Sakit Songkhla. Gedung rumah sakit setinggi sembilan lantai tersebut dimaksudkan untuk menampung layanan rawat jalan dan kecelakaan di Rumah Sakit Songkhla di Distrik Muang.
Direktur rumah sakit Ratanapol Lorprasertkul dan teknisi pekerjaan umum memeriksa gedung senilai 426,9 juta baht yang sebagian telah selesai dibangun pada Selasa, 1 April 2025. Kontraktornya adalah konsorsium AKC yang terdiri dari Akarakorn Development Co dengan saham 51 persen dan China Railway No.10 (Thailand) Co dengan saham sisanya sebesar 49 persen.
"Kualitas bahan konstruksi berada di bawah kendali ketat dan bangunan tersebut dirancang untuk menahan gempa bumi. Insinyur dan pejabat dari lembaga terkait mengawasinya dengan ketat untuk memastikannya memenuhi semua standar," kata direktur rumah sakit tersebut.
"Bangunan rumah sakit baru itu seharusnya rampung pada pertengahan tahun ini, tetapi pengerjaannya tertunda karena banjir parah akhir tahun lalu," katanya.
Manajer proyek Supachoke Phakdee mengatakan para pekerja merasakan getaran di lokasi konstruksi selama gempa bumi Myanmar, tetapi strukturnya masih utuh. "Konstruksi dihentikan karena kekhawatiran tentang kemungkinan gempa susulan tetapi akan dilanjutkan dalam beberapa hari," katanya.