5 Merek Teh Celup di Indonesia Mengandung Mikroplastik, Apa Dampaknya?

6 days ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Baru-baru ini, Ecoton Foundation mengungkapkan temuan mengejutkan mengenai lima merek teh celup yang umum di Indonesia, yaitu Sosro, Teh Poci, Sari Murni, Sariwangi, dan Tong Tji. Temuan ini dipublikasikan pada akhir Maret 2025 dan menunjukkan bahwa produk-produk tersebut mengandung mikroplastik.

Mikroplastik ini berupa serat yang diduga berasal dari polimer sintetis seperti polietilen (PE) dan nilon, yang digunakan sebagai pelapis kantong teh. Pelapis plastik ini bertujuan untuk meningkatkan daya rekat dan ketahanan terhadap air panas.

Mengutip dari laman resmi Aliansi Zerowaste yang membuat penelitian bersama Ecoton, Kamis (27/3/2025), disebutkan bahwa kantong teh celup berbahan plastik dapat melepaskan jutaan partikel mikroplastik ke dalam tubuh saat diseduh. Penelitian ini dilakukan oleh Rafika Aprilianti, peneliti mikroplastik Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton).

"Sepengetahuan saya, belum ada standar level yang baku. Jadi kita tidak tahu, misalnya beberapa kali minum itu berbahaya atau satu kali minum berbahaya, meski mikroplastik itu emerging kontaminan,” ungkapnya pada 3 Februari 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa kita perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi produk teh celup yang mungkin mengandung mikroplastik. Terkait dengan temuan tersebut, Tim Lifestyle Liputan6.com mencoba mengonfirmasi produsen teh yang masuk daftar mengandung mikroplastik.

Pertama Unilever, dengan Sari Murni dan Sariiwangi menanggapi lewat PR Consulting yang ditunjuk bahwa untuk saat ini tidak ada statement resmi dari Unilever Indonesia karena isu ini sempat beredar beberapa tahun yang lalu. Unilever juga merujuk pada "Penjelasan BPOM terkait Berita tentang Kantong Teh Celup yang Mengandung Racun". 

Promosi 1

Mengacu pada Pernyataan BPOM

Dalam keterangan di situs resminya, BPOM menulis, "Kantong teh celup umumnya terbuat dari kertas dan plastik. Kantong teh celup terbuat dari kertas biasanya berupa jenis kraft dilapisi plastik polietilen  yang berfungsi dalam perekatan panas."

BPOM menyebut bahwa industri kertas untuk kemasan pangan sudah tidak menggunakan senyawa klorin sebagai pemutih. Syarat ini juga sertakan pada saat permohonan penilaian keamanan produk.

Selain itu dijelaskan bahwa polietilen yang digunakan sebagai fungsi perekatan tidak meleleh pada suhu titik didih air, hal ini terlihat saat kantong kertas teh celup tidak terbuka saat diseduh dengan air panas. Tak cuma kantong kertas, kantong plastik teh celup juga terbuat dari plastik jenis nilon, polietilen terefltalat (PET) atau asam polilaktat (PLA). 

BPOM juga menambahkan bahwa teh celup yang terdaftar di Badan POM telah melalui evaluasi penilaian keamanan pangan termasuk penilaian keamanan kemasannya (kantong teh celup). Keamanan kantong teh celup juga mensyaratkan pemenuhan terhadap batas migrasi baik yang berbahan kertas maupun plastik yang tercantum dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan. 

Selain Unilever, Liputan6.com juga berusaha mengonfirmasi tentang temuan ini kepada produsen Teh Sosro. Namun dalam permintaan wawancara, belum bersedia memberikan tanggapan.

Alternatif Teh yang Lebih Aman

"Kantong teh celup dapat melepaskan mikroplastik ke dalam teh karena ada proses pemanasan. komposisi jenis plastik memengaruhi ketahanan plastik terhadap faktor-faktor eksternal seperti panas, cahaya UV, dan gesekan, yang pada akhirnya mempengaruhi seberapa mudah plastik tersebut berubah menjadi mikroplastik," ujar Rafika Aprilianti, peneliti mikroplastik ECOTON.

Mikroplastik merupakan partikel asing bagi tubuh, ketika masuk ke dalam tubuh maka akan berdampak buruk bagi kesehatan, menyebabkan inflamasi, gangguan hormon bahkan kanker. Diketahui saat mikroplastik masuk ke dalam tubuh, partikel-partikel kecil ini dapat terserap di saluran pencernaan dan masuk ke dalam darah.

Dari sana, mikroplastik dapat menyebar ke berbagai organ seperti otot, hati, ginjal, jantung, dan bahkan otak. Karena sifatnya yang sulit terurai, mikroplastik cenderung bertahan dalam tubuh dan menumpuk seiring waktu (bioakumulatif).

Keberadaan mikroplastik dalam tubuh dapat memicu berbagai dampak negatif, seperti peradangan, stres oksidatif, dan kerusakan sel. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan peradangan kronis yang dapat berujung pada kematian sel (apoptosis), serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius. 

Kesadaran Masyarakat Terhadap Mikroplastik

Solusi yang dapat diterapkan untuk terhindar dari mikroplastik adalah memilih teh daun asli tanpa kantong teh. Anda juga bisa menggunakan saringan stainless steel, teko, atau french press untuk menyeduh teh.

Di masa lalu, penyeduhan teh lebih sederhana, alami, dan bebas dari kontaminasi plastik. Teh diseduh langsung dengan daun teh dalam teko atau cangkir, tanpa menggunakan kantong teh berbahan plastik. Selain lebih alami, cara ini juga lebih ramah lingkungan.

Kesadaran akan isu mikroplastik dalam produk makanan dan minuman semakin meningkat. Penanganan isu ini memerlukan kerjasama antara pemerintah, produsen, dan masyarakat. 

Sebagai informasi berdasarkan jurnal penelitian "Environmental Science & Technology, 2024" terungkap bahwa masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi mikroplastik sebanyak 15 gram/kapita/bulan atau setara 3 kartu ATM. Selain dari kebiasaan masyarakat yang menggunakan plastik sekali pakai untuk membungkus makanan dan minuman, sumber lainnya juga berasal dari kantong teh celup.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |