Payudara Pria Membesar alias Ginekomastia, Apa Bisa Diatasi dengan Sedot Lemak?

17 hours ago 3

Liputan6.com, Bogor - Payudara pria yang besar kerap dikaitkan dengan kondisi ginekomastia atau gyno. Kondisi pembesaran kelenjar payudara ini kerap membuat pengidapnya merasa tidak percaya diri.

Kabar baiknya, menurut dokter spesialis bedah plastik-rekonstruksi dan estetik, dr. Imam Susanto dari RS EMC Sentul, sedot lemak dapat menjadi salah satu upaya mengecilkan payudara pria.

“Ginekomastia itu bisa mulai yang ringan sampai yang besar. Saya pernah operasi anak SMP, anak laki, payudaranya persis kayak anak gadis 15 tahun. Dengan sedot lemak? Bisa, cuma pada saat akhir, di daerah kelenjar payudaranya, itu kadang-kadang susah,” kata Imam kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Sentul, Bogor, Kamis (12/2/2026).

“Makanya, dilakukan tambahan dengan membuang menggunakan pisau sedikit di bawah payudaranya itu beberapa cm diambil, sebenarnya dengan sedot lemak bisa. Apalagi orang yang disangka ginekomastia, payudaranya besar tapi tidak ada kelenjar, itu sangat bisa (diatasi dengan sedot lemak),” tambahnya.

Belum lama ini, Imam menangani pasien serupa. Ketika dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) tidak ditemukan kelenjar payudara, tapi secara tampilan, payudaranya besar.

“Payudara yang enggak ada jaringan, enak sekali dikerjakan, langsung kempes,” katanya.

Bisa Dilakukan di Usia Berapa?

Mengempeskan atau membuat payudara pria menjadi rata sebetulnya bukan hal darurat atau emergensi. Di usia anak, tindakan sedot lemak untuk tujuan tersebut bukan hal mendesak.

Namun, jika anak merasa perlu melakukannya karena mendapat cemoohan dari teman-temannya, maka sedot lemak payudara dapat dilakukan di usia belasan.

“Kalau seandainya karena diolok-olok temannya dan sebagainya ya enggak apa-apa belasan tahun kerjakan aja (sedot lemak),” katanya.

Mengenal Bedah Plastik

Sedot lemak adalah satu dari sekian prosedur yang dapat dilakukan dokter spesialis bedah plastik.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis bedah plastik-rekonstruksi dan estetik, Profesor David S. Perdanakusuma dari RS EMC Sentul menjelaskan tentang bedah plastik dan dua areanya.

Menurutnya, bedah plastik adalah upaya memberi nilai tambah pada tubuh yang dianggap kurang. Bedah plastik adalah salah satu cabang ilmu bedah yang dalam tindakannya sangat memerhatikan hasil penampakan. Istilah plastik sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni Plasticos yang artinya mengolah atau membentuk.

David menambahkan, bedah plastik terbagi menjadi dua area, yakni area estetik dan area rekonstruksi. Area estetik bertujuan mengubah orang “normal” menjadi lebih bagus, cantik, indah, muda, dan lebih kencang.

“Ini adalah area estetik, dari normal menjadi super normal. Area estetik ada dua area (yang dibedah) yaitu wajah dan tubuh,” jelas David.

Sementara, area rekonstruksi mengubah orang yang bentuk tubuh atau wajahnya “tidak normal” menjadi mendekati normal. Misalnya, orang yang mengalami kecelakaan hingga wajahnya rusak, maka bedah rekonstruksi diperlukan agar wajah setidaknya kembali ke bentuk yang mendekati bentuk semula, meski tidak pulih total.

Bedah rekonstruksi mencakup area yang lebih banyak yakni kepala dan wajah, luka dan luka bakar, bedah mikro, bedah tangan, hingga genitalia.

Prinsip Bedah Estetik

David menambahkan, prinsip bedah estetik adalah menata jaringan dengan kata kunci mengurangi, menambah, dan membuat.

Mengurangi yang besar menjadi kecil, kendur jadi kencang, longgar/lebar menjadi sempit. Menambah kecil jadi besar, sedikit jadi banyak, jadi lebih maju/menonjol. Membuat tidak ada menjadi ada, misalnya tidak ada lipatan mata menjadi ada lipatan, tidak ada lesung pipit jadi ada, dagu tidak belah jadi belah.

“Itulah ruang lingkup dari estetik, mengurangi yang kelebihan, menambahkan yang kekurangan, atau yang enggak ada dijadiin ada,” kata David.

Prinsip Bedah Rekonstruksi

Sementara, prinsip bedah rekonstruksi adalah memperbaiki kerusakan atau ketidaknormalan. Termasuk memperbaiki disabilitas bawaan lahir seperti bibir sumbing, memperbaiki kerusakan akibat kecelakaan atau trauma, dan cacat setelah operasi.

“Cacat pascaoperasi jadi misalnya ada tumor payudara, payudaranya diangkat, itu tugas bedah plastik buat ada payudara lagi. Di wajah ada tumor, diangkat, kemudian diperbaiki lagi wajahnya.”

“Apakah setelah rekonstruksi jadi cantik? Enggak, tapi paling tidak mendekati normal,” jelasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |