Orang dengan Diabetes dan Hipertensi Tak Terkontrol Rentan Tertular Tuberkulosis

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Orang dengan diabetes dan hipertensi yang tak terkontrol lebih rentan tertular penyakit infeksi. Termasuk rentan tertular penyakit tuberkulosis atau TB.

"Hipertensi dan diabetes tak terkontrol itu bikin daya tahan tubuh turun. Maka itu, orang hipertensi dan diabetes (yang tidak terkontrol) banyak sekali yang kena tuberkulosis," kata Wakil Menteri Kesehatan, dokter Benjamin Paulus Octavianus SpP pada temu media, Senin, 6 April 2026 di Jakarta dalam peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia.

Namun, banyak orang tak tahu bahwa dirinya terkena hipertensi atau diabetes lantaran penyakit ini pada tahap awal tidak menunjukkan gejala. Maka dari itu, lanjut Benny, pemerintah melakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tiap tahun agar masyarakat mengetahui kondisi kesehatan.

"CKG dilakukan karena begitu banyak masyarakat yang sakit tidak tahu, tidak tahu kalau punya diabetes dan kolesterol," kata Benny.

Di Indonesia, diprediksi ada 1.090.000 juta orang dengan tuberkolosis. Pada 2025, sudah ada 867 kasus yang diobati. "Jadi, masih ada 300 ribu kasus yang belum ditemukan."

Padahal bila masih banyak pasien TB yang tidak ditemukan maka rentan menulari orang lain yang membuat kasusnya makin banyak.

"Maka tantangan buat kita Indonesia dalam pemberantasan TB bagaimana supaya mengelimasi TB, maka kuman TBC harus ga ada, baru bisa," lanjut Benny.

Pemberantasan TB Mesti Lintas Sektor

Di kesempatan yang sama Benny mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan tak bisa sendiri dalam mengatasi tuberkulosis. Diperlukan kolaborasi, salah satunya dengan Kementerian Dalam Negeri, mengingat rumah sakit daerah dan puskesmas berada di bawah kewenangan pemerintah daerah yang dipimpin oleh bupati atau wali kota.

Lalu, banyak pasien tuberkulosis yang masuk dalam desil 1 dan 2. Padahal, kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberkulosis bisa hidup 1-3 bulan di dalam ruangan yang minim ventilasi dan tidak ada paparan sinar matahari. "Padahal kuman tuberkulosis kena matahari 30 menit sudah mati," katanya.

Maka dari itu, tugas dalam pemberantasan TB bukan hanya menemukan kasus tapi memperbaiki rumah tidak layak. Terkait ini, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah melakukan perbaikan pada sekitar 2 ribuan rumah pasien TB yang tidak layak.

"Maka pemberantasan tuberkulosis lintas sektoral. Kementerian Kesehatan di depan, bersama Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup. Ini saling berkaitan," kata Benny.

Tuberkulosis Masih Jadi Ancaman Dunia, Indonesia Posisi 2

Di kesempatan yang sama, ​Dr Setiawan Jati Laksono dari WHO Indonesia mengungkapkan bahwa kuman penyebab tuberkulosis yakni Mycobacterium tuberculosis sudah ditemukan 144 tahun. Pengobatannya pun sudah ada tapi penyakit ini masih menjadi ancaman kesehatan global hingga saat ini.

Di dunia, diperkirakan ada 10,7 juta kasus TB tiap tahun. Pada 2025, ada 8,4 juta kasus yang ditemukan. Namun, 2,4 juta kasus yang belum terdeteksi. 

"Sama seperti yang dialami Indonesia, dari 10,7 juta kasus TB tiap tahun masih ada gap 2,4 juta kasus yang belum ditemukan," katanya. 

Bila dilihat urutan negara penyumbang kasus tuberkulosis India berada di urutan pertama. Disusul Indonesia lalu Filipina. Posisi China saat ini kasus TB nomor 4 dunia.

"China sudah turun jadi peringkat 4," kata Setiawan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |