Kasus Campak Tinggi, Bagaimana Cara Melindungi Bayi yang Belum Bisa Divaksin?

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Di Indonesia, vaksin campak direkomendasikan pada bayi berusia 9 bulan. Ini artinya, bayi di bawah usia tersebut masih sangat rentan tertular jika terpapar virus, apalagi saat mobilitas tinggi seperti mudik dan banyak interaksi dengan orang dari berbagai daerah saat Lebaran.

Untuk bayi yang belum mencapai usia 9 bulan, pencegahan campak dapat dilakukan dengan memastikan lingkungan sekitar aman bagi si Kecil seperti disampaikan dokter spesialis anak Caessar Pronocitro.

"Satu-satunya perlindungan mereka adalah kekebalan kelompok (herd imunity), yakni lingkungan sekitar yang mayoritas sudah terlindungi oleh vaksin," tutur Caessar dalam keterangan tertulis.

Maka dari itu berikut hal yang bisa dilakukan orangtua serta orang dewasa yang menjaga bayi untuk melindungi si Kecil yang belum divaksin:

  • Menggunakan masker saat bepergian atau berinteraksi dengan orang sakit
  • Rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum menyentuh bayi
  • Sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit atau bergejala
  • Jaga daya tahan tubuh tetap prima.

Usia Anak Bisa Dapat Vaksin Campak

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR (measles rubella) pertama disuntikkan pada anak usia 9 bulan.

Kemudian, dosis kedua diberikan saat anak berusia 15-18 bulan dan dosis ketiga pada usia 5-7 tahun.

Jika sampai usia 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, maka dapat diberikan vaksin MR/MMR (Mumps + MR). Lalu, dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.

Imunisasi campak diperlukan lantaran hingga kini belum ada antivirus spesifik yang bisa menangani campak.

"Maka pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan, yakni dengan melengkapi vaksinasi dan menjaga imunitas bayi dan anak," pesan Caessar.

Daya Tular Campak Mirip COVID-19

Campak atau measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran napas. Campak dapat ditularkan melalui droplets atau percikan liur dari mulut dan hidung penderita ketika batuk, bersin, atau berbicara. Selain itu, virus ini juga dapat tertular dari sentuhan benda yang terkontaminasi droplets.

Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan COVID-19. Seseorang yang terinfeksi campak dapat menularkan virusnya selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul. Virus campak juga mampu hidup di udara selama 2 jam, terutama dalam ruang dengan sirkulasi yang tertutup.

Pada anak, campak yang tidak segera ditangani lebih berisiko menyebabkan komplikasi serius karena berpotensi menyerang berbagai organ penting. Bahkan hingga mengancam nyawa. Untuk itu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar dapat ditangani dan mencegah terjadinya penularan lebih luas.

Gejala Campak

Waspada jika anak mengalami gejala campak seperti berikut:

  • Demam
  • Batuk kering
  • Pilek atau hidung tersumbat
  • Lemas
  • Muntah
  • Tidak nafsu makan
  • Diare

Setelah gejala tersebut, biasanya beberapa hari kemudian muncul ruam kemerahan. Biasanya ruam akan muncul di area wajah dan leher.

Ruam juga dapat menyebar ke hampir seluruh tubuh. Ukuran ruam campak awalnya kecil, tetapi dapat menyatu dan membentuk ruam besar.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |