Dengue Habiskan Rp3 Triliun Dana BPJS Kesehatan, Ketua KOBAR Ungkap Masalah Besarnya

19 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan penanganan demam berdarah dengue (DBD) mencapai sekitar Rp3,3 triliun pada 2024. Angka yang seluruhnya berasal dari biaya perawatan pasien yang dirawat di rumah sakit.

Ketua Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR), dr. H. Suir Syam, M.Kes, MMR, menyebut angka tersebut menunjukkan besarnya beban dengue di Indonesia yang selama ini masih belum tertangani secara optimal dan terkoordinasi lintas sektor.

"Jadi, kalau BPJS Kesehatan itu mengeluarkan dana kalau ada yang dirawat, berarti di rumah sakit. Tahun 2024 itu Rp3,3 triliun yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan untuk membayar rumah sakit akibat penyakit demam berdarah," ujar Syam dalam diskusi media di Jakarta belum lama ini.

Dia menegaskan bahwa angka tersebut baru mencerminkan biaya pengobatan, belum termasuk dampak lain seperti kehilangan produktivitas kerja dan beban ekonomi keluarga pasien. Menurutnya, jika dihitung lebih luas, kerugian akibat dengue bisa jauh lebih besar.

Syam menyoroti bahwa salah satu masalah utama dalam pengendalian dengue adalah masih berjalan sendiri-sendiri antar sektor. Kementerian, pemerintah daerah, hingga sektor swasta belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu gerakan besar.

"Yang selama ini masing-masing bekerja sendiri-sendiri, Kementerian Kesehatan sendiri, tenaga kerja sendiri, semuanya sendiri-sendiri. Akibatnya makin lama penyakit itu makin banyak," katanya.

Melalui KOBAR, Syam mendorong adanya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, hingga masyarakat.

Menurutnya, pengendalian dengue tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. "Tidak bisa sendiri-sendiri. Harus kerja sama antara Kementerian Kesehatan, Pemda, lingkungan hidup, PU, dan masyarakat," tambahnya.

Dia juga menyoroti bahwa dengue bukan hanya menyerang anak-anak, tapi juga banyak terjadi pada kelompok usia produktif. Data BPJS Kesehatan menunjukkan lebih dari 40 persen kasus terjadi pada kelompok usia kerja, sehingga berdampak langsung pada produktivitas nasional.

KOBAR Lawan Dengue sendiri hadir untuk mendorong pendekatan kolaboratif, mulai dari edukasi masyarakat, perbaikan lingkungan, hingga penguatan program pencegahan seperti vaksinasi dan pengendalian vektor secara berkelanjutan.

Syam menargetkan adanya penurunan signifikan kasus dengue hingga tercapai nol kematian pada tahun 2030. Namun, dia menekankan bahwa target tersebut hanya bisa dicapai jika seluruh elemen bergerak bersama secara konsisten.

"Ini bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga ekonomi dan kemanusiaan. Kita butuh gerakan besar dan kolaboratif," pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |