Benarkah GERD Bisa Berujung Kematian? Dokter Singgung soal Penyakit Penyerta

7 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah kondisi di mana asam lambung diproduksi berlebihan hingga naik ke kerongkongan (reflux). Lantas, apakah penyakit GERD dapat berujung pada kematian?

Terkait hal ini, dokter spesialis penyakit dalam - konsultan endokrin, metabolik dan diabetes dari RS EMC Sentul, dr. Roi P. Sibarani, Sp.PD, KEMD, FES memberi penjelasan. Roi menilai ada peran faktor komorbid alias penyakit penyerta.

“Beberapa kasus kan memperlihatkan seperti itu (GERD berujung kematian), tapi menurut saya pasti ada faktor yang lain, komorbid yang lain, misalnya aritmia jantung,” kata Roi kepada Health Liputan6.com usai menjadi pembicara dalam Healthy Monday di Kantor KLY, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).

“Kalau cuman asam lambungnya penuh ya saya kira yang dirasakan cuma nyeri, muntah, bagi orang yang terlalu sensitif dengan muntah (muntah parah) bisa berefek ke kardiovaskular juga,” tambahnya.

Roi mengatakan, hingga kini kasus GERD masih tinggi dengan faktor stres. Mayoritas terjadi pada usia produktif akibat tekanan pekerjaan.

“Banyak (kasusnya) karena kan faktor stres, kalau saya memeriksa sih pasien-pasien di usia produktif hampir 90 persen stres, dari kerjaan, bukan keluarga,” ujarnya.

Mengenal GERD

Lebih lanjut, Roi menyampaikan, GERD adalah kondisi asam lambung berlebih hingga naik ke kerongkongan.

“Jadi, tubuh kita, lambung kita, memproduksi asam berlebihan, terlalu sensitif sehingga pada keadaan yang sebetulnya kita tidak memerlukan asam lambung yang banyak dia keluar asam lambung dan ini kan berkaitan dengan kondisi psikoneural atau psikososial orang tersebut (pasien),” jelas Roi.

Dia menyarankan pasien GERD untuk menerapkan pola makan sehat dan teratur.

“Untuk GERD ya ada baiknya kita tetap makan karena kalau kita makan kan si asam lambungnya jadi ada kerjaan. Kalau kita enggak makan kan asam lambungnya terus naik, enggak ada yang dia olah jadi reflux,” katanya.

Konsumsi Makanan Sederhana yang Tak Iritatif

Roi menyarankan jika pasien GERD lapar di malam hari, maka konsumsi makanan perlu dipilih yang sederhana dan tidak iritatif.

“Jadi supaya ada kerjaan (asam lambungnya) ya kita kasih makanan yang gampang dicerna dan tidak iritatif, tidak menambah asam lambung yang banyak misalnya karena bumbunya terlalu banyak. Jadi makan yang sederhana dengan tujuan asam lambungnya itu tidak muncrat,” saran Roi.

Asam lambung, sambung Roi, bisa memperparah kondisi penyakit lainnya, misalnya jika pasien mengidap aritmia (gangguan irama jantung).

“Ada jeleknya lagi kalau pasien punya aritmia, misalnya punya gangguan jantung yang dia tidak ketahui sebelumnya nah kemudian bisa menimbulkan irama jantungnya tambah tidak bagus. Ini berkaitan juga dengan penyakit-penyakit yang lain.”

“Jadi caranya kita kenali diri kita, kalau kita memang sensitif ya boleh kita makan tuh dengan makanan yang tidak terlalu banyak kalorinya, bisa buah, saya suka timun karena krispi bisa gantiin gorengan-gorengan,” pungkasnya.

Lanjut Baca:

Bukan Sekadar Panjang Umur, Festival Ini Dorong Kualitas Hidup Lewat Pendekatan Longevity

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |