Menahan Lapar Saat Puasa Ramadan Mudah, Kenapa Emosi di Media Sosial Sulit?

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Puasa Ramadan mengajarkan kita menahan lapar, haus, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Secara fisik, banyak orang mampu menjalaninya dengan disiplin. Namun, ironisnya, di saat yang sama, emosi di media sosial justru terasa lebih sulit dikendalikan.

Komentar pedas, reaksi spontan, hingga perdebatan yang cepat memanas kerap muncul selama puasa Ramadan. Mengapa menahan lapar terasa lebih mudah dibanding menahan emosi di dunia digital?

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet. Artinya, sebagian besar waktu kita terpapar arus informasi, opini, notifikasi, dan konten yang datang tanpa henti.

Di tengah intensitas tersebut, otak bekerja ekstra. Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi., Psikolog, ACC menjelaskan bahwa paparan digital yang terus-menerus dapat menyebabkan overstimulasi pada otak.

"Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek. Akibatnya, kita lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang," ujar Rika.

Dalam kondisi ini, otak cenderung masuk ke mode reaktif. Setiap hari kita membuat ratusan keputusan kecil. Scroll atau berhenti, klik atau lewatkan, balas atau diam.

Keputusan mikro yang terus menumpuk ini memicu decision fatigue atau kelelahan mental. Saat energi mental menurun, kontrol diri ikut melemah.

"Paparan digital memperbanyak micro-decisions. Saat energi menurun, kapasitas mental ikut turun sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi lebih impulsif," ujar Rika.

Puasa Ramadan menambah tantangan tersendiri. Perubahan pola makan dan tidur memengaruhi kestabilan energi dan emosi. Tubuh yang lelah atau kurang cairan membuat sensitivitas meningkat. Dalam kondisi ini, satu komentar negatif saja bisa terasa lebih memicu dibanding hari biasa.

"Ketika kondisi fisik dan emosional berubah, kita cenderung lebih mudah hanyut oleh emosi di media sosial, baik marah, sedih, maupun tergoda promo. Penilaian menjadi lebih bias dan memicu perilaku impulsif," katanya.

Di sisi lain, platform digital memang dirancang untuk mempercepat respons. Video pendek, notifikasi merah mencolok, sistem like dan komentar instan menciptakan sensasi penghargaan cepat di otak.

Otak menjadi terbiasa dengan kepuasan instan. Saat energi sedang rendah seperti ketika puasa Ramadan, otak akan memilih respons tercepat dan termudah, yang sering kali berbasis emosi.

Padahal, esensi puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan reaksi.

Dalam pendekatan Dialectical Behavior Therapy (DBT), dikenal konsep wise mind, yaitu kondisi ketika pikiran rasional dan emosi bekerja seimbang sebelum seseorang bertindak. Tantangannya, di dunia digital, reaksi sering muncul sebelum wise mind sempat aktif.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Menurut Rika, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukan tidak tahu mana yang benar, tapi terlalu cepat bereaksi sebelum wise mind sempat bekerja.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |