Liputan6.com, Jakarta - Kyoto, bekas ibu kota Jepang di periode Heian selama 1.000 tahun, menyimpan berbagai hidden gem yang bisa diulik wisatawan asing yang berkunjung. Salah satunya adalah membuat sumpit sendiri untuk dibawa pulang pada hari itu juga.
Atas undangan Accor Group, Lifestyle Liputan6.com dan sejumlah rekan media lain berkesempatan mencoba membuat sumpit lewat workshop yang diselenggarakan Hashi Lab. Hashi dalam bahasa Jepang berarti sumpit, lewat tempat itu, pengunjung seolah diajak ke laboratorium produksi sumpit dengan aktivitas yang dirancang sedetail mungkin agar memberi kesan tak terlupakan.
Lokasi 'bengkel' sumpit itu tak jauh dari hotel Mercure Kyoto Station, di kawasan Shimogyo. Tempatnya didesain minimalis, dengan meja panjang yang memenuhi sebagian besar ruangan. Pengunjung bisa datang langsung, tetapi lebih baik reservasi terlebih dulu agar bisa dipastikan mendapat tempat dan waktu karena kapasitasnya terbatas.
Tempat itu dirancang bisa menampung maksimal hanya sekitar 10--12 orang saja dalam satu waktu. "Kami menyadari banyak workshop tidak menawarkan pembuatan barang yang bisa dibawa pulang pada hari yang sama, jadi kami fokus dalam pembuatan sumpit," kata Yuta Kobayashi, co-founder Hashi Lab sekaligus pemandu workshop kami pada Kamis, 17 April 2026.
Tempatnya menjadi workshop sumpit pertama di Kyoto. Sebelum membuka bisnis tersebut, ia dan mitra bisnisnya, Kaito Yoshioka, belajar selama beberapa bulan dari ahli pembuatan furnitur yang berbasis di Kyoto, terutama seputar kayu dan cara mengolah kayu.
"Kami buka pertama kali pada Agustus 2025 di sini, dan cabang kedua kami di Nara pada Januari tahun ini," sambung Yuta.
Ragam Pilihan Kayu untuk Sumpit
Saat ditanya mengapa sumpit jadi fokus di workshopnya, Yuta menjawab hal itu lantaran sumpit merupakan benda keseharian masyarakat Jepang. Mereka makan dan memasak terutama menggunakan sumpit. Karena kegunaannya, sumpit juga sering dijadikan hadiah bagi teman, kolega, atau orang terdekat.
Khusus untuk workshop tersebut, peserta diajak untuk membuat sumpit dengan kayu pilihan masing-masing. Total ada 14 jenis kayu yang disiapkan, tapi hanya 12 yang bisa dipilih peserta saat itu. Masing-masing jenis kayu ditandai dengan bintang. Semakin banyak bintangnya, semakin keras atau semakin tinggi ketahanannya.
Proses memilihnya cukup lama karena masing-masing kayu memiliki plus minusnya. Saya awalnya bimbang memilih antara kayu eboni atau pupleheart. Pilihan saya jatuh pada kayu purpleheart atau dalam bahasa latin dikenal sebagai Peltogyne spp.. Mengutip wood-database.com, Jumat (17/4/2026), kayu itu banyak ditemukan di Amerika Selatan, terutama Meksiko hingga ke Brasil.
Awalnya, warna kayu cokelat keabu-abuan, tetapi setelah terpapar sinar UV, warnanya berubah jadi ungu terong yang lebih pekat. Tetapi bila terus terpapar sinar UV, kayu bisa menjadi cokelat gelap dengan sedikit warna ungu.
Bintang-bintang Bermakna
Kayu tersebut dinilai sangat tahan lama dan tahan terhadap pembusukan dan sebagian besar serangan serangga. Kayu itu dibintangi tiga oleh pihak Hashi Lab, menandakan perlu usaha lebih untuk menyerutnya. Harganya terbilang premium, 6.580 yen (sekitar Rp751 ribu), untuk sepasang potongan kayu sepanjang sekitar 20 cm.
Harga kayu itu tak berbeda dari eboni yang ternyata berasal dari Indonesia. "Kami membelinya dari (suplier) di Kobe, tapi itu kayu Indonesia," kata Yoshioka.
Kayu itu dikenal memiliki ketahanan luar biasa tetapi sudah jarang ditemukan saat ini sampai pihak Hashi Lab memberinya bintang empat. Harganya pun mahal, tapi tak berbeda dari kayu sumpit purplehearts.
Masing-masing sisi kayu dinomori, dari 1 sampai 4. Selanjutnya, Yuta menunjukkan tahap menyerut kayu, yakni menyerutnya dari nomor satu dan dua dengan cetakan kayu sebelah kanan hingga permukaannya rata. Kemudian, kayu dipindah ke cetakan sebelah kiri untuk nomor 3 dan 4.
Bisa Gravir Nama di Sumpit
Tak seperti menyerut kayu yang maju mundur, ia menyuruh kami menyerut satu arah saja, dari depan ke belakang. Perlu tenaga untuk menggerakkan alat serut manual itu, terlebih kayu yang saya pilih termasuk kayu keras. Saya perlu lebih dari 30 menit untuk menyerut semua bagian hingga rata, untuk kedua batang kayu.
Setelah itu, pekerjaan masih berlanjut dengan menumpulkan ujung dan menghaluskan sisi-sisi yang tajam agar sumpit nyaman dipakai. Yuta lalu memberikan alat seperti parutan keju tetapi dari lebih tebal dan amplas. Perlu waktu lebih dari 15 menit untuk menghaluskan semua bagian agar sesuai sampel dan dapat persetujuan Yuta untuk bisa ke tahap berikutnya.
Setelah dinilai bagus, Yuta kemudian menyodorkan pilihan untuk menggravir nama di sumpit atau tidak. Untuk itu, ada biaya tambahan 1.000 yen (sekitar Rp108 ribuan). Saya memilih menggravirnya dengan nama dalam tulisan katakana dan kanji. Ia memilihkan bentuk kanji dengan arti yang baik untuk itu.
Tahap Terakhir Pembuatan Sumpit
Proses gravir menggunakan alat seperti laser yang dioperasikan secara digital. Prosesnya tak sampai lima menit. Selesai dari itu, barulah masuk tahapan terakhir, yakni mengolesi kayu sumpit dengan minyak biji rami (linseed oil).
Mengutip thecraftsmanblog.com, minyak biji rami ternyata salah satu pelapis tertua dan paling serbaguna yang telah digunakan selama berabad-abad untuk melindungi dan menyegel kayu, logam, dan berbagai produk lainnya. Penggunaannya sebagai pelapis kayu sudah ada sejak zaman kuno, dengan bukti penggunaannya ditemukan di Mesir kuno.
Ia menyuruh saya mencelupkan sumpit yang hampir jadi itu ke minyak di botol di kedua sisi. Kemudian, ia memberi spons untuk meratakannya ke seluruh bagian. Tujuannya ya untuk melapisi kayu agar lebih tahan, terutama karena akan dicuci dengan air setelah digunakan. Terakhir, ia menyodorkan hashi obi sebelum memasukkan ke plastik agar terlihat lebih menarik.
Workshop itu beroperasi setiap hari dengan waktu operasional lebih pendek di akhir pekan. Jadi, siapa yang mau punya sumpit buatan tangan sendiri seperti saya?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556053/original/081032100_1776230111-d3590b90-7df2-456b-8a38-9ce5645e83c6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558263/original/079368500_1776410713-cropped-40b8dd4d-9228-43b5-9ff6-8a52e3000d5c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1036923/original/096129800_1446100128-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557952/original/097198300_1776399559-gula_merah_dan_aren.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558042/original/073983600_1776404163-20260415_145206.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/3182010/original/043638700_1594907228-IMG_2350.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4078880/original/068984200_1656990969-pork-satay-with-peanut-sauce-sweet-sour-sauce-thai-food.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558039/original/082070800_1776403697-syifa_hadju.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557955/original/066271300_1776399919-unnamed__10_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557941/original/095886600_1776398784-Kue_Nona_Manis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492020/original/004921700_1770115050-Menggoreng_Risol_Mayo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490645/original/083857600_1770019429-unnamed__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4967782/original/005564500_1728822071-IMG-20241013-WA0020.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5349456/original/046420800_1757922364-high-angle-delicious-corn-dogs-sauce.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461296/original/097336800_1767361193-Rama_Duwaji.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551533/original/048197900_1775728093-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4108448/original/019368200_1659344133-path-celebration-decoration-dessert-background-white.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5328463/original/007242800_1756231488-531018984_18003950711800310_6119207541900197254_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476775/original/042917400_1768798185-martabak_mini.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4875494/original/091579000_1719391271-WhatsApp_Image_2024-06-26_at_13.02.16.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3227420/original/074506300_1599119114-20200903-Kuala-Lumpur-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5286401/original/022817500_1752741530-pexels-nadin-sh-78971847-12288356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432085/original/094521500_1764755867-Vidio_Guideline_2025_NON-SPORTS_IGF_-_Horizontal_-_arya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3513012/original/025088600_1626429232-kevin_hackert.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454684/original/003885500_1766567888-Ilustrasi_perayaan_tahun_baru_2026_di_Jakarta.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458201/original/031493700_1767074270-zhang_zhehan1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451328/original/014531400_1766285850-florian-wehde--y3sidWvDxg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447967/original/063026100_1765971919-Screenshot_2025-12-17_180423.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1677282/original/072536700_1502557224-Monas1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452675/original/049859600_1766421336-tata_juliastrid.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4435592/original/039268900_1684722031-Aktivis_perubahan_iklim_mengubah_Air_Mancur_Trevi_Italia_menjadi_hitam-AFP__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4988264/original/089904800_1730512664-20241101_165349.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451629/original/037720500_1766319255-prince_wales1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448627/original/070389700_1766034915-rosalind-chang-i7JC5LCx-zM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464514/original/053226100_1767692533-Cocomelon_-_Main_KV_-_Poster_KV_Master_Landscape.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451320/original/091153900_1766280778-kiarash-mansouri-STczlVcH100-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452947/original/025750100_1766463339-meja_makan_bertema_natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451582/original/093387000_1766312214-Poster___Apple_Artwork_-_VOS_Algojo_-_Poster_PertamaLandscape.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473038/original/019529500_1768384173-WhatsApp_Image_2026-01-12_at_17.06.59.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453445/original/078551100_1766478558-Archipelago.png)