Kerap Konsumsi Obat Anti Nyeri Tanpa Resep Dokter, Awas Bisa Rusak Ginjal!

5 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Sering mengonsumsi obat anti nyeri saat merasa pegal atau nyeri otot untuk menjadi jalan pintas agar cepat sembuh. Hati-hati, kebiasaan ini bisa menimbulkan risiko yang bisa merusak fungsi ginjal jika dikonsumsi tanpa resep dokter dalam jangka panjang.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Pringgodigdo Nugroho menjelaskan bahaya mengonsumsi obat nyeri jika terlalu sering yang tanpa resep dokter.

"Risiko penyakit ginjal salah satunya disebabkan oleh mengonsumsi obat-obat nyeri tanpa resep dari dokter secara jangka panjang,” jelasnya saat ditemui dalam acara Kidney Health for All Caring for People, Protecting the Planet pada Rabu, 11 Maret 2026.

Kandungan obat yang harus diwaspadai adalah golongan obat anti-Inflamasi non-steroid (OAINS) atau non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). Beberapa contoh yang sangat populer di masyarakat adalah ibuprofen. 

Meskipun ampuh meredakan nyeri dan peradangan, obat-obatan ini bisa menghambat aliran darah ke ginjal jika dikonsumsi sembarangan. 

“Tanpa pengawasan medis, konsumsi secara berlebihan bisa memicu kerusakan struktur ginjal,” tambahnya.

Penyebab Lain Obesitas hingga Gaya Hidup

Obesitas meningkatkan beban kerja ginjal karena organ tersebut harus menyaring lebih banyak darah daripada biasanya untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh yang besar. 

Tim kerja gangguan paru, otak, dan kardiovaskular Kemenkes RI, Mohammad Fiqri Qoidhafy menuturkan makanan yang menyebabkan obesitas harus dihindari.

"Makanan-makanan yang bisa menyebabkan kegemukan atau obesitas itu ya harus dihindari karena secara langsung bisa memicu diabetes dan gangguan ginjal," tuturnya.

Kadar gula darah yang tinggi secara kronis pada penderita diabetes akan merusak unit penyaring ginjal yang disebut nefron. 

Sedangkan hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terus-menerus meningkat akan merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal, sehingga organ tersebut tidak lagi bekerja menyaring racun dari darah secara optimal. 

Kondisi ini bisa diperparah oleh gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik seperti kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak dekat dan kurangnya berolahraga membuat pembakaran kalori tidak maksimal, yang pada akhirnya memicu obesitas dan hipertensi di usia produktif. 

Deteksi Dini

Ginjal sering kali disebut sebagai organ yang silent disease karena kerusakan pada tahap awal biasanya tidak menunjukkan gejala fisik yang jelas. Gejala seperti wajah pucat, urine berbusa, atau pembengkakan tubuh umumnya baru muncul saat fungsi ginjal sudah menurun drastis. 

Oleh karena itu, Pringgodigdo menyarakan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sebagai langkah preventif yang penting. "Lakukan pemeriksaan ginjal kalau belum pernah, supaya tahu status kesehatannya karena di awal penyakit ini tidak bergejala sama sekali,” ucapnya

Pemeriksaan kesehatan minimal dilakukan satu tahun sekali dengan deteksi sedini mungkin, perkembangan penyakit ginjal dapat dihambat, sehingga penderita tidak sampai menjalani terapi dialisis atau cuci darah yang memakan biaya besar.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |