Kasus Campak Naik, Dokter: Indikator Turunnya Imunitas Populasi

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan kasus campak belakangan di Indonesia dinilai sebagai indikator menurunnya kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Peningkatan kasus campak sering kali menunjukkan bahwa imunitas populasi sedang menurun. Campak merupakan penyakit yang sangat menular. Satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ini kepada 12 hingga 18 orang rentan di sekitarnya,” kata dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), IPB University dokter Aisyah Amanda Hanif, Senin (9/3/2026) mengutip laman IPB.

Berdasarkan studi, sekitar 90 persen orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak berpotensi tertular apabila terpapar. Karena itu, tingkat cakupan imunisasi sangat menentukan dalam mencegah penyebaran penyakit ini.

Ia menambahkan, imunitas populasi akan tercapai apabila lebih dari 94 persen masyarakat telah memiliki kekebalan terhadap campak, baik melalui vaksinasi maupun infeksi sebelumnya. Sementara itu, target cakupan imunisasi campak yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan adalah minimal 95 persen.

“Jika cakupan imunisasi menurun, jumlah individu yang rentan akan meningkat. Ketika virus masuk ke komunitas dengan banyak orang yang belum memiliki kekebalan, wabah dapat terjadi dengan lebih mudah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Aisyah menegaskan bahwa campak tidak dapat dianggap sebagai penyakit ringan atau sekadar ruam pada kulit. Virus campak menyebar melalui udara (airborne) dan umumnya masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan.

“Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan memperbanyak diri dan menyebar ke berbagai organ. Respons imun tubuh terhadap infeksi inilah yang kemudian menimbulkan ruam khas pada pasien campak,” terangnya.

Campak Picu Komplikasi Serius

Pada kondisi tertentu, campak dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak dengan gizi buruk, atau individu dengan sistem imun rendah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis).

“Infeksi campak juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga pasien lebih mudah terkena infeksi sekunder akibat bakteri. Kondisi ini dapat memperburuk keadaan hingga berisiko menyebabkan kematian,” tambahnya.

Dalam upaya pencegahan, vaksinasi menjadi langkah perlindungan yang paling efektif. Vaksin campak menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan (live attenuated virus) sehingga mampu melatih sistem imun tubuh untuk mengenali virus tanpa menimbulkan penyakit.

“Setelah vaksin diberikan, tubuh akan membentuk antibodi spesifik serta memori imun jangka panjang. Jika suatu saat terpapar virus campak, sistem imun dapat merespons dengan cepat dan menetralisir virus sebelum menyebabkan penyakit,” ungkapnya.

Efikasi Vaksin Campak Capai 95 Persen

Secara ilmiah, vaksin campak terbukti memiliki efektivitas lebih dari 95 persen setelah dua dosis dan telah digunakan secara global selama puluhan tahun dengan profil keamanan yang baik.

Bagi anak yang belum atau terlambat mendapatkan imunisasi, Aisyah menegaskan bahwa vaksin tetap dapat diberikan melalui program catch-up vaccination atau imunisasi kejar. Menurutnya, langkah ini sangat penting karena anak yang belum divaksin merupakan kelompok yang paling rentan tertular.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak lengkap. Segera melakukan imunisasi kejar jika tertunda, mengenali gejala awal campak, serta mengisolasi pasien yang dicurigai terinfeksi agar tidak menularkan kepada orang lain.

“Campak adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan kesadaran masyarakat yang baik, penyebaran campak dapat dicegah,” ucapnya.

Vaksin Campak Selamatkan Nyawa Anak

Sayangnya, sebagian orang tua enggan memberikan vaksinasi kepada buah hati untuk cegah kasus campak, lantaran termakan berita bohong dari kelompok antivaksin.

Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa vaksin campak diberikan untuk menyelamatkan nyawa anak.

“Apapun yang kita lakukan harusnya untuk menyelamatkan nyawa, banyak narasi-narasi, dari dulu juga COVID seperti itu, tapi dengan bantuan para wartawan kan bisa menjelaskan juga. Ngapain sih buang-buang waktu untuk menjelek-jelekkan suatu hal yang padahal itu menyelamatkan nyawa,” kata Budi saat ditemui di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Dia menambahkan, campak sudah memakan korban jiwa dan vaksinasi adalah cara terbaik untuk melindungi mereka.

“Kasihan sekali karena campak ini kan yang meninggal sudah ada, karena anaknya tidak diimunisasi, padahal imunisasi sudah ada dan efektif. Sama seperti COVID dulu ini adalah program yang bagus menyelamatkan nyawa anak-anak kita, tolong jangan menyebarkan berita-berita yang malah mendorong agar tidak divaksin,” ujar Budi.

Pasien Meninggal Akibat Campak

Pada 6 Maret 2026, Kemenkes menyampaikan, total ada enam orang meninggal akibat campak di Indonesia selama minggu pertama hingga ke-8 tahun 2026.

“Ada penambahan satu kasus meninggal dibanding minggu ke-7,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dokter Andi Saguni dalam konferensi pers daring, Jumat (6/3/2026).

Andi menambahkan, keenam pasien meninggal ini tidak memiliki riwayat imunisasi campak sama sekali. Padahal, imunisasi campak diperlukan anak sebanyak dua dosis.

“Ada enam pasien meninggal selama 2026 ini, keenam pasien yang meninggal tersebut tidak mempunyai riwayat imunisasi meski hanya sekali. Imunisasi campak itu kan harus dua kali, pada umur 9 bulan dan 18 bulan.”

“Namun, dari enam kasus yang meninggal ini sama sekali tidak ada riwayat imunisasi,” tambahnya.

Keenam kasus meninggal ini merupakan kelompok usia balita (bawah lima tahun). Dan sebelum meninggal, para pasien mengalami komplikasi yang berujung fatal.

“Penyebab kematiannya (komplikasi fatal) adalah diare, pneumonia atau radang paru, dan bronkopneumoni,” jelas Andi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |