Hari Museum Internasional 2026, MCB Bakal Rilis Museum Passport untuk Tarik Pengunjung

20 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Bersamaan dengan peringatan Hari Museum Internasional 2026 yang jatuh pada hari ini, Senin (18/5/2026), Museum dan Cagar Budaya (MCB) mengumumkan akan merilis museum passport untuk menambah atraksi bagi para pengunjung. Desain museum passport pertama dicap pertama oleh Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.

"Kita luncurkan museum passport sebagai satu insentif menggerakkan, terutama generasi muda, untuk bisa datang ke berbagai museum yang ada. Sekarang ini di MCB dulu, sambil kita lihat, evaluasi ke depan, bisa seluruh jaringan museum yang ada di seluruh Indonesia," kata Fadli Zon di sela peringatan Hari Museum Internasional, di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.

Total ada 18 museum dan galeri serta 34 cagar budaya yang kini dikelola oleh MCB sebagai badan layanan umum di bawah Kementerian Kebudayaan (Kemenbud). Kepala MCB Indira Estiyanti Nurjadin menyebut museum passport itu akan mulai dirilis ke publik pada 16 Juni 2026, pada hari ulang tahun MCB.

"Hari ini yang kita launching masih bentuknya dummy. Jadi, beberapa museum di seluruh Nusantara sudah kita masukkan, tapi tentunya mungkin kami ada yang ketinggalan," kata perempuan yang akrab disapa Esti.

Selain museum yang dikelola MCB, di paspor itu sudah pula dimasukkan museum provinsi, museum kabupaten/kota, dan museum swasta. Di dalamnya juga dilengkapi peta penunjuk lokasi museum dimaksud. Pihaknya mengundang pengelola museum yang belum dimasukkan dalam daftar paspor tersebut, untuk mengusulkan diri. 

Proyek Public-Private Partnership

Pengadaan museum passport itu dilakukan dalam konsep public-private partnership. Pihaknya bekerja sama dengan Paperina yang bersedia mensponsori produksi paspor tersebut dengan sistem bagi hasil.

"Pemerintah tidak bisa sendiri, tapi juga perlu keterlibatan masyarakat dan keterlibatan sektor swasta," ujarnya.

Pihaknya akan menjual paspor tersebut di IHA shop atau toko merchandise yang berada di museum-museum di bawah pengelolaan MCB.  "Tapi, ada juga tadi wacana untuk kita bisa jual juga di Gramedia. Itu belum kami follow-up lagi," sambungnya.

Ia berharap museum-museum yang berpartisipasi nanti akan secara mandiri menyiapkan cap berdesain menarik untuk dibubuhkan ke paspor tersebut. "Nggak hanya satu, kalau bisa ada beberapa cap," ujarnya.

Lewat paspor tersebut, ia berharap bisa menambah atraksi bagi pengunjung museum, terutama generasi dewasa muda. Sejauh ini, pihaknya sudah menyediakan berbagai kegiatan untuk pengunjung anak, tapi belum banyak untuk pengunjung dewasa muda yang ternyata kelompok pengunjung terbesar MCB.

Berdasarkan survei MCB pada 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun. Kelompok terbesar, yaitu 37 persen, berada di rentang usia 18--24 tahun.

Membawa Material Culture pada Gen Z dan Gen Alpha

Esti mengatakan bahwa ide meluncurkan museum passport tercetus dari pengalaman masa kecil, yakni mengumpulkan cap di buku saat bepergian ke mana-mana. Bersamaan dengan itu, generasi alpha dan gen Z saat ini juga mulai kembali meminati hal-hal yang bersifat analog.

"Itu seperti kembali ke zaman dulu. Dan ada satu material culture yang bisa diraba, yang bisa dikoleksi, dan disimpan sebagai kenang-kenangan," kata dia.

Ia berharap hal itu bisa sekaligus meningkatkan ketertarikan pengunjung ke museum, sepakat dengan Menbud Fadli Zon. Ia menyebut pada 2025, 4,3 juta orang telah berkunjung ke museum dan cagar budaya yang dikelola oleh MCB.

"Kita berharap di tahun 2026 ini lebih banyak dan demikian juga di tahun-tahun yang akan datang, kunjungan ke museum dan cagar budaya kita harapkan semakin banyak. Tidak hanya ke museum dan cagar budaya yang berada di Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan, kita berharap juga semakin banyak kunjungan ke museum-museum yanga da di seluruh Indonesia," ucap Menbud.

Tema Hari Museum Internasional 2026

Sementara, peringatan Hari Museum Internasional 2026 mengusung tema Museum Menyatukan Dunia yang Terbelah. Menurut Fadli Zon, tema itu sangat relevan di masa kini, terutama di tengah situasi geopolitik yang tegang di beberapa kawasan.

"Seringkali politik mungkin bisa mengarahkan kita pada konflik atau perpecahan, tapi seni, budaya, museum termasuk ini yang menjadi instrumen yang menyatukan," ucapnya.

Ia menekankan bahwa peringatan itu penting, terutama untuk mendukung ekosistem permuseuman di seluruh Indonesia. Ia berharap dengan perhatian tinggi, jumlah museum akan meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Berdasarkan catatan Kemenbud, 516 museum di Indonesia sudah teregistrasi, sebagian sudah terverifikasi dan terstandardisasi.

"Museum ini adalah satu ruang pembelajaran publik, ruang untuk jati diri bangsa, edukasi, dan juga menjaga memori kolektif bangsa. Karena artefak atau barang-barang yang menjadi koleksi di museum itu adalah benda-benda yang tentu mempunyai riwayat histori kepentingan yang menyatukan kita," imbuh Fadli.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |