Emotional Eating Diam-Diam Bikin Berat Badan Naik, Ini Tanda dan Cara Mengatasinya

2 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tidak sadar bahwa kebiasaan ngemil saat stres, cemas, atau bahkan terlalu bahagia bisa berdampak serius pada kesehatan. Pola ini dikenal sebagai emotional eating, yakni perilaku makan yang dipicu oleh emosi, bukan karena rasa lapar fisik. Jika dibiarkan, emotional eating dapat diam-diam bikin berat badan naik dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Fenomena ini turut dibahas oleh dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Reisi Nurdiani. Dalam tayangan IPB Podcast di kanal YouTube IPB TV, Reisi menjelaskan bahwa emotional eating merupakan kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena dorongan emosional.

"Emotional eating itu perilaku makan yang muncul bukan karena lapar, tapi karena kendali emosi," katanya.

Ketika Emosi Mengendalikan Nafsu Makan

Menurut Reisi, makan memang memiliki hubungan erat dengan kondisi psikologis. Tidak hanya emosi negatif seperti stres atau sedih, perasaan bahagia pun bisa memicu seseorang makan lebih banyak sebagai bentuk perayaan.

Masalah muncul ketika kebiasaan ini menjadi mekanisme utama untuk meredakan tekanan. Alih-alih mencari solusi, seseorang justru menjadikan makanan sebagai pelarian. Tanpa disadari, asupan kalori meningkat, terutama dari makanan tinggi gula dan lemak yang sering disebut comfort food.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko menyebabkan kenaikan berat badan, obesitas, hingga penyakit degeneratif seperti diabetes dan penyakit jantung. Bahkan, jika tidak dikendalikan, emotional eating dapat berkembang menjadi gangguan makan seperti binge eating.

Kenali Tanda-Tanda Emotional Eating

Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Pertama, makan tanpa rasa lapar yang jelas. Kedua, sulit mengontrol porsi makan. Ketiga, hanya menginginkan jenis makanan tertentu, biasanya yang manis atau berlemak. Terakhir, muncul rasa bersalah atau menyesal setelah makan.

Jika pola ini terjadi berulang, sebaiknya tidak diabaikan. Reisi menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu, terutama jika faktor emosional menjadi pemicu utama. Setelah itu, pendampingan ahli gizi dapat membantu mengatur pola makan yang lebih sehat.

Remaja dan Dewasa Muda Paling Rentan

Emotional eating paling banyak terjadi pada remaja hingga dewasa awal. Pada fase ini, performa fisik cenderung baik, tapi tekanan akademik, sosial, dan pekerjaan juga tinggi. Kombinasi tersebut membuat peluang terjadinya emotional eating semakin besar.

Oleh sebab itu, penting membangun kesadaran sejak dini bahwa makanan bukan solusi utama untuk mengatasi stres.

Cara Mengatasi Emotional Eating

Kunci utama mengatasi emotional eating adalah pengelolaan emosi. Seseorang perlu mengenali pemicu stres dan mencari cara sehat untuk mengatasinya, seperti olahraga, meditasi, menulis jurnal, atau berbicara dengan orang terdekat.

Selain itu, terapkan pola makan gizi seimbang dan konsep mindful eating. Mindful eating berarti makan secara sadar, memahami rasa lapar dan kenyang, serta menikmati makanan tanpa distraksi berlebihan.

Mengatur jadwal harian, cukup tidur, dan menjaga aktivitas fisik juga membantu menstabilkan emosi. Dengan begitu, keinginan makan berlebihan karena tekanan psikologis bisa ditekan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |