Candaan di Grup Chat Bisa Dianggap Ancaman oleh Otak, Ahli Ungkap Penjelasan Biologisnya

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Candaan di grup chat sering kali dianggap hal yang wajar dalam komunikasi sehari-hari. Banyak orang menganggap sindiran, ejekan ringan, atau humor berbasis kondisi pribadi sebagai bagian dari keakraban. Namun, di balik interaksi yang terlihat santai tersebut, ada respons biologis yang tidak bisa diabaikan. Otak manusia dapat menganggap candaan itu sebagai ancaman sosial.

Hal ini dijelaskan oleh peneliti dan dokter komunitas, sekaligus pendiri dan Ketua Health Collaborative Centre (HCC) Indonesia, Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. Dia menekankan bahwa ruang digital seperti grup chat tetap memicu respons psikologis yang sama kuatnya dengan interaksi langsung di dunia nyata.

Menurut Ray, otak manusia tidak selalu mampu membedakan mana candaan dan mana serangan sosial. Ketika seseorang menjadi sasaran ejekan atau sindiran dalam grup chat, otak dapat menginterpretasikannya sebagai bentuk ancaman sosial (social threat), meskipun disampaikan dengan nada bercanda.

"Otak kita memproses ejekan, sindiran, atau komentar yang merendahkan sebagai social threat atau ancaman sosial, walaupun dibungkus dengan candaan," ujar Ray dikutip Health Liputan6.com dari unggahan di akun Instagram @hcc.indonesia pada Rabu, 15 April 2026.

Respons ini kemudian memicu reaksi biologis dalam tubuh. Sistem stres akan aktif, termasuk peningkatan hormon kortisol yang berkaitan dengan rasa tertekan dan tidak nyaman. Kondisi ini juga dapat memunculkan perasaan malu, takut dinilai, dan kewaspadaan berlebihan terhadap lingkungan sosial, termasuk percakapan di grup chat itu sendiri.

Ray menjelaskan bahwa efek tersebut tidak berhenti pada emosi sesaat. Pada sebagian orang, pengalaman berulang dalam grup chat yang dipenuhi candaan bernuansa merendahkan dapat membuat seseorang merasa tidak aman secara sosial.

Bahkan, mereka bisa mulai mengantisipasi percakapan dengan rasa cemas, meski belum ada kejadian baru.

"Secara klinis, efeknya nyata. Tubuh dan pikiran tetap meresponsnya sebagai stres, meskipun orang lain menganggapnya hanya bercanda," tambahnya.

Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa tidak nyaman ketika notifikasi grup chat muncul, atau merasa harus membaca ulang percakapan untuk memastikan apakah dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan.

Dalam jangka panjang, situasi seperti ini dapat menggerus rasa percaya diri dan membuat seseorang menarik diri dari interaksi sosial digital.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh budaya komunikasi di banyak grup chat, di mana candaan kolektif sering dianggap normal dan tidak selalu disertai batasan yang jelas.

Tekanan sosial untuk ikut tertawa membuat sebagian anggota memilih diam meski sebenarnya merasa tersinggung atau tidak nyaman.

Padahal, secara psikologis, respons tersebut bukanlah bentuk kelemahan. Otak memang secara alami dirancang untuk mendeteksi ancaman sosial sebagai mekanisme perlindungan diri.

Oleh sebab itu, kata Ray, reaksi seperti cemas, tidak nyaman, atau overthinking setelah menjadi target candaan bukanlah hal yang berlebihan.

Ray menegaskan bahwa kesadaran terhadap dampak ini penting agar interaksi di ruang digital tetap sehat.

Menurutnya, memahami bahwa candaan di grup chat dapat berdampak pada kondisi psikologis orang lain adalah langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih aman dan saling menghargai.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |