AI untuk Skrining Kanker Tak Gantikan Dokter tapi Bantu Akurasi dan Percepat Diagnosis

12 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan Artificial Intelligence (AI) di bidang kesehatan dinilai tidak akan menggantikan peran dokter. Namun, dokter yang menggunakan AI akan lebih unggul dari yang tidak menggunakan.

“Saya melihatnya gini ya, AI tuh tidak akan menggantikan dokter tapi dokter yang enggak pakai AI pasti akan kalah dengan dokter yang pakai AI. AI ini akan keep evolve (terus berevolusi) semakin lama semakin pintar,” kata dokter spesialis penyakit dalam, subspesialis hematologi onkologi medik, Jeffry Beta Tenggara dalam peringatan Hari Kanker Sedunia di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Dokter yang melayani pasien di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi menambahkan, AI bisa bekerja 24 jam, sementara dokter memerlukan waktu istirahat dan waktu senggang lainnya.

“AI ini bisa menjadi pelayan kita untuk membantu skrining lebih cepat dan lebih akurat. Jadi kadang-kadang dokternya matanya sudah belekan ngelihatin mikroskop yang warnanya merah semua itu, itu dengan AI akan lebih cepat menemukan titik-titik mana yang perlu di-notice, dibandingkan kita harus men-scan dengan mata sendiri,” ujar Jeffry.

Penggunaan teknologi AI untuk skirinig kanker juga berperan dari sisi akurasinya. AI dapat menemukan titik dengan akurat sehingga penanganannya pun lebih tepat.

Menurut Jeffry, dokter onkologi tidak bisa bekerja dengan betul jika diagnosis dari dokter patolognya juga tidak betul.

“Jadi tentu AI ini akan sangat meningkatkan akurasi dari diagnosis sehingga kita tidak salah dalam menentukan jenis kanker pada akhirnya kita bisa memberikan tindakan yang lebih cepat,” ujarnya dalam acara yang digelar bersama AstraZeneca.

Optimalisasi Pemanfaatan AI untuk Diagnosis Kanker

Optimalisasi pemanfaatan teknologi AI dalam mendukung proses diagnosis kanker payudara dan skrining kanker paru di Indonesia kini terus didorong.

Berdasarkan studi, jumlah kasus kanker di Indonesia diproyeksikan akan melonjak hingga lebih dari 70 persen pada 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Saat ini, sekitar 400 ribu kasus baru kanker terdeteksi setiap tahunnya, dengan angka kematian mencapai 240 ribu kasus.

Adapun, tantangan semakin besar karena banyak kasus kanker di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut, yang berdampak pada terbatasnya pilihan terapi, meningkatnya kompleksitas penanganan dan biaya pengobatan, serta menurunnya peluang keberhasilan pengobatan.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan upaya pemeriksaan diagnostik yang lebih akurat guna meningkatkan efektivitas pengobatan kanker secara berkelanjutan.

Kanker Payudara di Indonesia

Khusus untuk kanker payudara, berdasarkan data GLOBOCAN, tercatat sekitar 65 ribu kasus baru dan lebih dari 22 ribu kematian pada tahun 2020. Sebagian kasus kanker payudara berkaitan dengan ekspresi Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 (HER2), yaitu salah satu protein yang dapat mendorong pertumbuhan sel kanker secara lebih agresif.

“Melalui implementasi teknologi AI sebagai pendamping tenaga medis, proses identifikasi tipe kanker payudara—termasuk status HER2 beserta subkategorinya—dapat dilakukan lebih cepat dan akurat. Hal ini diharapkan mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu di praktik klinis,” ucap Jeffry.

Kanker Paru di Indonesia

Selain itu, berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Pada umumnya, kanker paru ditandai dengan terbentuknya nodul atau benjolan yang tumbuh secara tidak terkendali dan berpotensi berkembang menjadi ganas. Nodul yang bersifat kanker umumnya berukuran lebih besar, dengan bentuk yang cenderung bergelombang atau tajam, serta memiliki tekstur semi-padat atau tidak padat.

Kondisi ini sejatinya dapat diantisipasi melalui deteksi dini, mengingat pembentukan nodul pada paru dapat menjadi salah satu indikasi awal kanker paru.

“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” kata dokter spesialis paru subspesialis onkologi toraks, Sita Laksmi Andarini, dalam kesempatan yang sama.

Upaya Integrasi AI untuk Skrining Kanker

Dari sisi patologi anatomi, AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals telah melakukan integrasi AI menggunakan teknologi AI dari Mindpeak Germany.

Teknologi AI ini membantu dalam proses analisis digital jaringan patologi untuk mengidentifikasi status HER2 pada pasien kanker payudara sampai dengan ekspresi HER2 yang sangat kecil.

Dengan dukungan teknologi terbaru ini, hasil patologi anatomi dapat diakses secara real-time di seluruh jaringan rumah sakit Siloam di Indonesia dan secara mobile. Sehingga dapat meningkatkan akurasi, memangkas waktu interpretasi, pengiriman hasil, dan mempercepat pengambilan keputusan klinis.

Dokter spesialis patologi anatomi, Patricia Diana Prasetyo, menyoroti peran kecerdasan buatan  dalam meningkatkan kualitas pemeriksaan diagnostik kanker payudara.

“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Karena itu, penilaian (scoring) status HER2 harus akurat dan konsisten,” katanya dalam sesi presentasi.

Data dari studi yang dipresentasikan pada ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan bahwa pemanfaatan AI sebagai pendamping penilaian HER2 dapat meningkatkan deteksi HER2-ultra low sebesar 40 persen dibandingkan penilaian konvensional.  Pemanfaatan AI juga dapat meningkatkan akurasi penilaian hingga sekitar 92 persen serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66 persen menjadi 82 persen, terutama pada subkategori HER2-low dan HER2-ultralow. Sehingga dapat memperkuat ketepatan klasifikasi dan pengambilan keputusan klinis.

Keputusan Klinis Tetap Berada di Tangan Dokter

Pandangan serupa disampaikan dokter spesialis radiologi Dewi Tantra Hardiyanto yang berpengalaman dalam skrining dan deteksi dini kanker paru.

”Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail. Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan,” ujar Dewi dalam acara yang sama.

Ia menambahkan, tidak semua nodul paru adalah kanker. Sebagian nodul bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan agresif.

“Yang kami nilai adalah karakteristik nodul serta faktor risiko pasien untuk menentukan tingkat kecurigaannya. AI membantu menandai nodul yang perlu dikaji lebih lanjut, namun penting dipahami bahwa AI tidak menggantikan peran dokter.”

“Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter, yang mengintegrasikan hasil teknologi dengan kondisi pasien secara menyeluruh. Kolaborasi antara teknologi dan keahlian medis inilah yang memperkuat upaya deteksi dini dan meningkatkan kualitas layanan bagi pasien,” ucap Dewi.

Terkait hal tersebut, AstraZeneca Indonesia dan Siloam International Hospitals telah bekerja sama mengintegrasikan sistem berbasis AI melalui software Qure.ai untuk membantu mendeteksi berbagai kelainan paru. Teknologi ini juga dilengkapi dengan sistem penilaian tervalidasi yang mampu membedakan nodul berisiko tinggi yang berpotensi merupakan kanker dan nodul berisiko rendah.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |