6 Fakta Menarik Masjid Al Wustho Mangkunegaran di Surakarta dengan Arsitektur Jawa dan Kolonial

6 days ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Masjid Al Wustho Mangkunegaran adalah salah satu masjid bersejarah yang terletak di Surakarta. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan sejarah di masa lampau.

Mengutip dari laman Dunia Masjid, Jumat (28/3/2025), lokasi Masjid Al Wustho Mangkunegaran ini tidak jauh dari Pura Mangkunegaran. Bahkan masjid hanya dibatasi sebuah jalan beraspal yang mengelilingi Pura Mangkunegaran.

Masjid ini didirikan setelah Pura Mangkunegaran membangun Masjid Keraton. Diketahui keberadaan Pura Mangkunegaran ini bermula dari keberadaan perjanjian pada 1757.

Tepatnya momen itu berlangsung tiga tahun setelah Perjanjian Giyanti, yang menetapkan Raden Mas Said atau Mangkunegara I untuk memimpin sebagian wilayah Keraton Kasunanan. Sebagai “pewaris” Kerajaan Demak, wajar jika pada kedua keraton itu masih tampak pengaruh Islamnya.

Satu di antaranya dengan kehadiran bangunan Masjid Keraton dan Masjid Al Wustho Mangkunegaran. Keduanya jadi saksi sejarah peradaban Islam di era tersebut yang penuh dengan dinamika.

Penasaran dengan masjid yang menyimpan banyak cerita ini? Simak enam fakta menarik Masjid Al Wustho Mangkunegaran yang dirangkum Tim Lifestyle Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Arti Nama Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Dari namanya 'Al-Wustho' yang berarti 'tengah' atau 'pertengahan' diberikan pada 1949 oleh Raden Tumenggung KH Imam Rosidi. Nama ini mencerminkan posisi masjid yang berada di antara Masjid Agung Kasunanan dan Masjid Kepatihan di Surakarta. 

Promosi 1

2. Awalnya Beda Lokasi

Masjid ini awalnya dibangun di Kampung Kauman, Pasar Legi pada sekitar era 1700-an atas prakarsa KGPAA Mangkunegara I. Namun, pada masa Mangkunegara II, masjid dipindahkan ke lokasi sekarang di Banjarsari karena pertimbangan strategis dan kedekatannya dengan Pura Mangkunegaran.

3. Arsitektur Perpaduan Gaya di Masjid Al Wustho

Masjid Al Wustho memiliki desain yang unik dengan memadukan arsitektur Jawa tradisional dan pengaruh gaya kolonial. Pembangunan masjid ini melibatkan arsitek dari Prancis pada masa Mangkunegara VII sekitar tahun 1919-1926. Meskipun begitu, bentuk dasarnya tetap mengacu pada arsitektur masjid Jawa seperti Masjid Agung Demak.

Hiasan kaligrafi Arab menghiasi berbagai bagian masjid, termasuk gapura. Hal ini menambah keindahan dan nilai estetika masjid yang juga merupakan simbol kebudayaan Islam di Indonesia.

Masjid Al Wustho kini tetap aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk shalat fardhu, pengajian, dan acara-acara keagamaan lainnya. Pengelolaan masjid ini melibatkan abdi dalem Pura Mangkunegaran hingga era kemerdekaan, setelahnya pengelolaan diserahkan kepada Kementerian Agama.

4. Fungsi Awal dan Perkembangan Masjid

Awalnya, Masjid Al Wustho hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan Pura Mangkunegaran. Namun, sejak masa Mangkunegara VII, masjid ini dibuka untuk umum.

Masyarakat umum diperbolehkan menggunakan maligin (ruangan untuk khitanan) yang dibangun atas prakarsa Mangkunegara V. Perubahan ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah bagi kalangan tertentu, tetapi juga sebagai tempat yang inklusif bagi masyarakat luas.

5. Kompleks Masjid yang Luas dan Menawan

Kompleks masjid Al Wustho memiliki luas sekitar 4.200 m², dikelilingi tembok dengan gapura utama yang menawan. Di serambi masjid terdapat bedug bernama Kanjeng Kyai Danaswara, yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri.

Jumlah saka (tiang) di serambi berjumlah 18, melambangkan usia RM Said saat dinobatkan sebagai Adipati Mangkunegara. Hal ini menunjukkan simbolisme yang kuat dalam arsitektur masjid.

Menara masjid yang dibangun pada 1926 membutuhkan 3-4 muadzin untuk mengumandangkan adzan ke empat arah mata angin. Ini menunjukkan betapa pentingnya masjid ini dalam kehidupan masyarakat sekitar.

6. Salah Satu Masjid Tertua di Surakarta

Masjid Al Wustho merupakan salah satu dari tiga masjid tertua dan bersejarah di Surakarta, bersama Masjid Darusallam dan Masjid Agung Surakarta. Keberadaannya menjadi bagian penting dari sejarah kota Solo atau Surakarta, yang juga dikenal dengan keraton-keraton pentingnya.

Satu diantara kekhasan lain yang sangat menonjol adalah banyaknya tulisan kaligrafi nukilan dari ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi saw. Kaligrafi itu tak cuma terdapat di muka gapura utama dan tiga sisi gapura kedua, tetapi juga di pintu-pintu masuk, jendela, dan empat sokoguru atau tiang utama.

Satu tulisan kaligrafi yang termaktub di tiang sokoguru adalah sebuah nukilan hadits Nabi saw. yang berbunyi, "Siapa yang membangun masjid ini untuk Allah maka Allah akan mendirikan sebuah rumah di surga kelak." 

Dengan menyimak enam fakta menarik masjid ini, mulai dari arsitektur yang memukau hingga kegiatan keagamaan yang aktif, Masjid Al Wustho ini sangat layak untuk dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata religi di Surakarta.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |