Perjalanan Wilsen Willim Merajut Cerita Tenun Indonesia, dari Tangan Perajin ke Panggung Couture

9 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan Wilsen Willim dalam mengembangkan wastra Indonesia untuk koleksi adibusana perdananya terangkum dalam film seri dokumenter Reinventing Tenun: Journey to Algorithm yang diputar di Jakarta, 21 Agustus 2026.

 Dokumenter ini menjadi bagian dari perayaan satu dekade perjalanan sang desainer di industri fesyen, sekaligus rangkaian kampanye "I Love Indonesia 2026" dari Plaza Indonesia.

Dalam proses mewujudkan koleksi Algorithm: Universal Language, Wilsen mengeksplorasi empat wastra, yakni songket jembrana dari Bali, tenun sutera Garut dari Bandung Selatan, Jawa Barat, tenun dayak iban dari Kapuas Hulu-Putussibau, Kalimantan Barat, serta songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.

Eksplorasi tersebut tidak hanya memperkenalkan Wilsen pada karakter dan tekstur setiap kain, tapi juga membawanya bertemu langsung dengan para perajin yang mempertahankan tradisi menenun dari generasi ke generasi.

Ia mengamati proses pembuatannya, merasakan tekstur kain, dan memahami konstruksi dan karakter material yang kemudian menjadi bagian dari proses kreatif koleksinya. Pengalaman tersebut turut membentuk pemahaman Wilsen mengenai identitasnya sebagai desainer Indonesia.

"Dengan wastra Indonesia, aku merasa menjadi lebih utuh. Aku adalah desainer Indonesia yang mengangkat kultur Indonesia yang sungguh luar biasa kaya," ujar Wilsen dalam keterangan film dokumenter tersebut.

Melalui Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, perjalanan panjang itu dihadirkan pada publik. Dokumenter ini memperlihatkan bagaimana kekayaan wastra Indonesia diterjemahkan Wilsen menjadi busana couture dengan pendekatan modern, tanpa melepaskan nilai budaya yang melekat pada setiap kain.

Kolaborasi dengan Penenun Lokal

Kolaborasi dengan para perajin wastra turut membuka peluang baru bagi keberlanjutan produksi mereka. Salah satunya dirasakan Eva Muzdalifah dari Eva Oemah Batik melalui penggunaan motif asli Ciwaringin dalam karya Wilsen.

"Motif asli Ciwaringin yang beberapa kali Wilsen ambil itu ada yang minta repeat order gitu," ujar Eva.

Pesanan yang terus berjalan turut meningkatkan aktivitas produksi dan membuat para perajin tetap memiliki pekerjaan. Ia juga menyebut kolaborasi tersebut mendorong rencana pembangunan gudang batik baru.

Sementara itu, penggunaan benang daur ulang dalam pengembangan Songket Minang membuka ruang bagi para perajin untuk bereksperimen dengan teknik baru. Material tersebut kemudian dipadukan dengan motif tradisional dan melibatkan lebih banyak perajin dengan keterampilan beragam.

Bagi Wilsen, pengalaman tersebut tidak hanya memperluas eksplorasi kreatif, tapi juga memperkuat identitasnya sebagai desainer Indonesia. "Buat aku tuh it's a very strong identity," ujar Wilsen.

Eksplorasi Tenun Jadi Tantangan dalam Koleksi Couture

Mengolah beragam jenis tenun untuk koleksi Algorithm: Universal Language menjadi tantangan tersendiri bagi Wilsen. Salah satu material yang cukup sulit diolah adalah tenun sutera Garut karena teksturnya yang tipis.

"Jadi harus dilapis kain dulu (karena tipis)," ujar dia.

Selain karakter material, Wilsen juga mempertimbangkan motif yang sudah terbentuk pada kain agar dapat diterjemahkan ke dalam desain busana. "Kalau pattern sih masih oke-oke aja ya. I think yang lebih tricky is like memanfaatkan patterns yang ditenun," katanya.

Eksplorasi material juga dilakukan melalui penggunaan benang daur ulang pada songket Minang. Para perajin menemukan karakter benang tersebut lebih mudah putus dan berbulu saat ditenun.

Kondisi itu membuat mereka perlu memadukannya dengan jenis benang lain agar material tetap dapat digunakan, sekaligus menghasilkan tekstur yang sesuai untuk kebutuhan koleksi.

Berdampak Ekonomi

Pengalaman mengembangkan tenun bersama para perajin membuat Wilsen melihat kolaborasi sebagai proses yang lebih luas dari sekadar menciptakan koleksi. Ia berharap keterlibatan tersebut dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi para perajin yang menjadi mitranya.

"Mungkin kita lihat 10 tahun lagi apa yang akan terjadi, semoga semua mitra aku juga ikut maju. Karena ternyata satisfaction membawa impact tuh membuat hatiku hangat," tutur Wilsen.

Harapan tersebut sejalan dengan keinginannya untuk membawa batik dan tenun Indonesia ke pasar yang lebih luas. Ia ingin semakin banyak masyarakat mengenal dan menggunakan wastra Indonesia, sehingga permintaan terhadap karya para perajin dapat terus tumbuh.

"Pengin memperbanyak konsumen supaya (menenun) menjadi pekerjaan tetap di sini dan bisa menjadi sesuatu yang membawa economic impact ke Indonesia," harapnya.

Setelah Plaza Indonesia, dokumenter berdurasi 56 menit dan 57 detik itu akan ditayangkan secara terbatas di ASTHA DISTRIC 8 pada 24 Agustus 2026.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |