Menguak Fenomena Bed Rotting, Jadi Kebiasaan Rebahan yang Sehat atau Toksik?

4 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena “bed rotting” menjadi kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur dalam keadaan terjaga, kini menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan Gen Z. Praktik ini memunculkan pertanyaan besar: apakah rebahan seharian ini benar-benar sehat atau justru berdampak toksik bagi kesehatan fisik dan mental?

Istilah viral ini, yang populer di TikTok, merujuk pada aktivitas pasif seperti menjelajahi media sosial, menonton serial, atau sekadar melamun, tanpa melakukan kegiatan “produktif” lainnya. Definisi ini selaras dengan penjelasan yang menyebut bed rotting sebagai tindakan sengaja berlama-lama di tempat tidur sambil terjaga, seperti scrolling atau menonton acara.

Bagi banyak individu, terutama generasi muda, kebiasaan ini muncul sebagai respons terhadap lingkungan serba cepat dan penuh tekanan. Ini dapat menjadi bentuk penolakan psikologis terhadap budaya kerja keras yang terus-menerus menuntut produktivitas.

Fenomena 'Bed Rotting' di Tengah Tekanan Modern

Bed rotting sering kali dipandang sebagai bentuk protes terhadap budaya produktivitas tanpa henti yang mengagungkan kesibukan. Vanessa Hill, seorang ilmuwan tidur, menyebutnya sebagai penolakan terhadap budaya produktivitas dengan mengambil waktu untuk beristirahat.

Dr. Narineh Hartoonian, seorang psikolog klinis dari Rowan Center for Behavioral Medicine, menjelaskan bahwa tren ini mencerminkan hubungan generasi muda dengan stres dan harga diri, bukan ketidakpedulian melainkan kelelahan. Generasi Z, menurutnya, tidak acuh tak acuh, melainkan berupaya mengatasi lingkungan yang terlalu menstimulasi dan bertekanan tinggi.

Para pegiat “bed rotting” mengklaim bahwa aktivitas ini membantu mereka mengelola stres, meredakan kecemasan, serta mengisi ulang energi mental dan emosional. Mereka merasa bahwa berdiam di tempat tidur memberikan relaksasi dan pelarian dari masalah hidup yang dapat meningkatkan kesehatan mental. Beberapa orang menemukan kenyamanan dan rasa aman melalui “bed rotting” saat mereka merasa terkuras secara emosional atau fisik.

Pandangan Ahli: Manfaat dan Risiko Kebiasaan Rebahan

Para ahli kesehatan mental dan fisik memiliki pandangan yang bervariasi mengenai “bed rotting”, tergantung pada frekuensi dan motivasi di baliknya. Ada pengakuan bahwa istirahat sesekali di tempat tidur dapat bersifat restoratif.

Dr. Meghan Galili, seorang dokter penyakit dalam, menjelaskan bahwa jika dilakukan secara sadar dan dalam batas wajar, “bed rotting” berpotensi meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Ia menegaskan bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat agar otot, sendi, sistem saraf, dan organ lainnya dapat mengatur ulang serta pulih dari stres harian.

Najamah Davis, seorang pekerja sosial klinis berlisensi, membandingkan “bed rotting” dengan mindfulness atau “tidak melakukan apa-apa” yang dapat membantu sistem saraf mengatur ulang. Menurut Davis, periode istirahat singkat tanpa struktur, stimulasi rendah, dan waktu untuk dekompresi dapat menurunkan kadar kortisol, mendukung regulasi emosi, bahkan meningkatkan kreativitas.

Dampak Negatif Jika 'Bed Rotting' Berlebihan

Namun, banyak ahli memperingatkan bahwa “bed rotting” yang berlebihan atau menjadi kebiasaan dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan. Kebiasaan ini berpotensi memperburuk masalah kesehatan mental yang sudah ada atau memicu masalah baru. Menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat tidur dapat memicu perasaan bersalah, kecemasan, bahkan depresi. Dr. Narineh Hartoonian menyoroti bahwa meskipun istirahat sesekali bisa restoratif, “bed rotting” yang bersifat kebiasaan mungkin mengindikasikan beban stres berlebih, burnout, atau penghindaran emosional.

Selain itu, “bed rotting” yang berkepanjangan dapat mengganggu pola tidur dan menyebabkan insomnia. Penting untuk mengaitkan tempat tidur dengan tidur, bukan dengan aktivitas terjaga seperti bekerja, makan, atau menonton TV.

Secara fisik, berbaring terlalu lama di tempat tidur dapat menyebabkan kekakuan otot, sakit punggung, sirkulasi darah yang buruk, penambahan berat badan, serta masalah kardiovaskular. Dr. Martin Veysey, seorang ahli gastroenterologi, juga mengingatkan bahwa kurangnya aktivitas fisik berdampak negatif pada saluran pencernaan. Jika “bed rotting” mulai menghalangi seseorang untuk menjalani kehidupan yang penuh atau memenuhi tanggung jawab sehari-hari, ini bisa menjadi indikasi perlunya mencari bantuan.

Dr. Sue Varma, seorang psikiater, menjelaskan bahwa meskipun konsep “bed rotting” terasa nyaman, itu tidak secara efektif membantu pemulihan sejati. Sebaliknya, hal ini dapat menciptakan keadaan inersia yang menyulitkan individu untuk terlibat dalam istirahat aktif atau kegiatan bermakna yang mempromosikan relaksasi dan peremajaan mental.

Strategi Istirahat yang Lebih Restoratif

Daripada terlalu sering melakukan “bed rotting”, para ahli menyarankan bentuk istirahat yang lebih aktif dan restoratif. Dr. Varma merekomendasikan aktivitas yang mendukung istirahat aktif, seperti olahraga ringan, berjalan kaki, atau yoga, yang dapat meningkatkan suasana hati dan tingkat energi. Terlibat dalam hobi, bersosialisasi, dan menghabiskan waktu di luar ruangan juga dapat berkontribusi pada periode istirahat yang lebih seimbang dan memulihkan.

Penting pula untuk membangun kebiasaan tidur yang sehat, termasuk menjaga jadwal tidur yang teratur, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, dan menghindari penggunaan layar sebelum tidur. Menjadwalkan waktu khusus untuk istirahat juga disarankan agar tidak merasa bersalah dan memastikan istirahat tetap menjadi prioritas.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |