Maskapai AS Spirit Airlines Tutup Usai 33 Tahun Beroperasi, Semua Layanan Penerbangan Disetop

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Satu lagi maskapai penerbangan yang jatuh ke kebangkrutan. Maskapai Amerika Serikat (AS) Spirit Airlines mengumumkan bahwa mereka menghentikan semua operasionalnya dalam sebuah pernyataan yang diunggah di Instagram pada Sabtu, 2 Mei 2026. Pengumuman itu disampaikan usai gagal menerima dana talangan pemerintah sebesar USD 500 juta, lapor Wall Street Journal.

"Dengan sangat kecewa, Spirit Airlines telah mulai menghentikan operasi globalnya, berlaku segera," kata maskapai tersebut, dikutip dari People, Minggu (3/5/2026). “Semua penerbangan telah dibatalkan, dan layanan pelanggan tidak lagi tersedia."

"Meskipun kami tidak dapat membantu memesan ulang penerbangan Anda di maskapai lain, kami akan secara otomatis memproses pengembalian dana untuk penerbangan apa pun yang dibeli melalui Spirit dengan kartu kredit atau debit ke metode pembayaran asli," lanjut pernyataan tersebut.

"Kami bangga dengan dampak model biaya ultra-rendah kami pada industri selama 33 tahun terakhir dan berharap dapat melayani para tamu kami selama bertahun-tahun yang akan datang," pungkas pernyataan maskapai tersebut.

Spirit Airlines telah mengalami kesulitan keuangan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya ditutup. Maskapai penerbangan murah tersebut berupaya mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump untuk memberikan suntikan dana tunai agar dapat bertahan, tetapi gagal mendapatkan dukungan dari pemegang obligasi dan pemerintah untuk mengamankan pendanaan tersebut, menurut WSJ.

Trump mengatakan dalam wawancara CNBC pada 21 April 2026, "Spirit sedang dalam masalah, dan saya ingin seseorang membeli Spirit. Itu adalah 14.000 pekerjaan, dan mungkin pemerintah federal harus membantu hal itu."

Buruknya Kinerja Keuangan Maskapai

Beberapa bulan sebelumnya, Spirit merilis laporan pendapatan triwulanan yang menyatakan bahwa terdapat 'permintaan yang lemah' untuk perjalanan di tengah kinerja yang mengecewakan.

"Perusahaan terus terpengaruh oleh kondisi pasar yang buruk, termasuk peningkatan kapasitas domestik dan permintaan yang terus lemah untuk perjalanan wisata domestik," kata laporan pada Agustus 2025.

Meskipun telah meningkatkan pengalaman penerbangan, seperti memperkenalkan opsi Premium Economy dan mengurangi biaya, maskapai tersebut memiliki 'keraguan besar tentang kemampuan perusahaan untuk terus beroperasi dalam waktu 12 bulan'. Beberapa minggu setelah merilis laporan pendapatan triwulanan, maskapai tersebut mengajukan kebangkrutan Bab 11 untuk kedua kalinya pada akhir Agustus 2025.

Siaran pers menyatakan bahwa maskapai tersebut 'sedang merestrukturisasi komprehensif' pada saat itu, dan akan mengurangi ukuran armadanya, dengan perkiraan menghasilkan 'ratusan juta dolar'.

Sempat Batal Bangkrut

Spirit keluar dari proses kebangkrutan Bab 11 pada Maret 2025, setelah mengajukan permohonan pada November 2024. "Spirit berharap dapat terus menjalankan bisnisnya seperti biasa selama proses Bab 11 yang telah diatur dan disederhanakan ini," kata maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan saat itu.

"Penumpang dapat terus memesan dan terbang tanpa gangguan dan dapat menggunakan semua tiket, kredit, dan poin loyalitas seperti biasa."

Beberapa tahun sebelumnya, Spirit berusaha mengakuisisi Frontier untuk menciptakan maskapai penerbangan terbesar kelima di AS. Kedua maskapai berharap untuk "mengubah industri demi keuntungan konsumen, menghadirkan lebih banyak tarif ultra-rendah kepada lebih banyak pelancong di lebih banyak tujuan di seluruh Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Karibia, termasuk kota-kota besar serta komunitas yang kurang terlayani," demikian bunyi pernyataan dari Frontier dan Spirit pada Februari 2022.

Namun, penggabungan tersebut akhirnya diblokir hakim federal pada Maret 2024, menurut Associated Press. PEOPLE telah menghubungi Spirit Airlines dan FAA untuk meminta komentar lebih lanjut.

3 Maskapai India Tertekan Akibat Kenaikan Bahan Bakar

Sementara itu, sektor penerbangan India berpotensi menghadapi gangguan setelah tiga maskapai besar di negara itu memperingatkan pemerintah bahwa kenaikan biaya bahan bakar dapat memaksa mereka menghentikan operasional. Menurut laporan media asing, Air India, IndiGo, dan SpiceJet bersurat kepada pemerintah India yang meminta perubahan mekanisme penetapan harga Aviation Turbine Fuel (ATF), serta bantuan finansial untuk menjaga operasional tetap berjalan.

Krisis itu dipicu oleh kenaikan harga minyak yang terkait ketegangan di Timur Tengah serta meningkatnya pembatasan wilayah udara yang menyebabkan biaya penerbangan naik, terutama pada rute jarak jauh. Dikutip dari The Thaiger, Jumat, 1 Mei 2026, bahan bakar jet menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya maskapai, sehingga memberikan tekanan finansial yang besar bagi perusahaan penerbangan.

Pelemahan nilai rupee juga memperburuk situasi dengan meningkatkan biaya operasional, demikian dilaporkan TravelNews. Federasi Maskapai India (FIA) menyatakan telah meminta pemerintah untuk memperluas mekanisme penetapan harga bahan bakar agar berlaku dengan standar yang sama baik di pasar domestik maupun internasional.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |