Ketika Tanah Haram Menginspirasi Koleksi Hijab Sambut Iduladha

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Memanfaatkan momen jelang Iduladha, jenama modest fashion lokal, Buttonscarves, merilis rangkaian hijab yang terinspirasi dua tanah Haram, yakni Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Desainnya dimaknai sebagai refleksi atas keimanan, kenangan, serta keinginan umat Muslim untuk mengunjungi dan kembali ke tempat paling suci.

Dinamai Haramain 2 Series, koleksi itu menjadi penyambung dari edisi pertamanya yang diluncurkan pada Desember 2020. Koleksinya menampilkan motif yang terinspirasi dari ornamen indah yang terdapat di Masjidil Haram,

Ornamen itu kemudian diterjemahkan ke dalam pola yang abadi dengan sentuhan detail dan craftsmanship yang thoughtful. Melalui desainnya, Haramain 2 Series memadukan kekuatan visual dan kedalaman makna, menghadirkan koleksi yang anggun, personal, dan dekat dengan perempuan yang menyimpan kerinduan terhadap Tanah Suci di hatinya.

"Haramain bukan hanya tempat yang diimpikan untuk dikunjungi, tetapi juga tempat yang tinggal di hati. Koleksi ini menjadi cara kami menerjemahkan perasaan tersebut ke dalam pieces yang dapat dikenakan dan disimpan dengan penuh makna, terutama di momen istimewa seperti Iduladha," ujar Linda Anggrea, CEO Buttonscarves, kepada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 22 Mei 2026.

Koleksi itu menawarkan 12 pilihan warna elegan, dirancang agar bisa versatile dengan tampilan yang apik. Koleksi hijab ini tersedia dalam beberapa varian di pasar terpilih, yaitu Voile Square 110 x 110 cm di Indonesia dan Malaysia, Voile XL 135 x 135 cm hanya di Indonesia, Satin Square 110 x 110 cm hanya di Malaysia, serta Jacquard Voile 110 x 110 cm hanya di Singapura.

Melengkapi koleksi scarf, Buttonscarves juga menghadirkan Haramain 2 Prayer Robe dalam lima pilihan warna elegan yang dirancang untuk memberikan kenyamanan dan keindahan dalam momen beribadah.

1 Dekade Buttonscarves

Sebelumnya, dalam penjelasan kepada Lifestyle Liputan6.com, Linda menyatakan usia satu dekade Buttonscarves memberi pengalaman berharga bagi brand modest lokal itu, utamanya terkait menjaga konsistensi brand di tengah perubahan tren yang sangat cepat.

"Selain itu, mempertahankan kualitas produk, supply chain, serta memastikan relevansi dengan berbagai generasi konsumen," imbuh dia.

Sejauh ini, pihaknya percaya diri dengan konsistensi identitas brand dan kedekatan dengan komunitas sebagai kekuatan utama mereknya. Apalagi, mereka berinvestasi pada kedekatan emosional dengan pelanggan sejak awal, selain memastikan bahwa produk yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan konsumen mereka.

"Kami juga terus menjaga diferensiasi melalui kualitas, desain yang khas, serta kampanye yang kuat dan relevan. Kami melihat kehadiran brand baru sebagai bagian dari perkembangan industri yang positif, sehingga menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan memberikan nilai lebih bagi customer," sambung dia.

Prediksi Tren Modest Fashion

Linda menilai modest fashion ke depan akan semakin berkembang ke arah yang lebih global, versatile, dan lifesyle-driven. Artinya, tidak hanya sebagai kebutuhan berpakaian, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi diri.

"Karena itu, kami terus beradaptasi dengan menghadirkan inovasi dari sisi desain, storytelling, hingga pengalaman brand yang lebih menyeluruh," ia menjelaskan.

Meretas jalan ke pasar global, Buttonscarves yang saat ini sudah cukup mapan di Malaysia, mulai mematangkan eksistensi juga di Singapura sebagai bagian memantapkan posisi di kawasan Asia Tenggara. Sembari itu, pihaknya terus mengekplorasi peluang di negara-negara lain yang memiliki potensi pasar modest fashion yang kuat. 

"Kami ingin membawa Buttonscarves menjadi brand yang tidak hanya dikenal di Asia Tenggara, tetapi juga semakin relevan di pasar internasional, dengan strategi yang disesuaikan dengan karakter masing-masing market," sahutnya seraya menambahkan bahwa pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui ritel, tetapi juga kolaborasi, aktivasi brand, serta penguatan awareness secara global.

Penetapan Hari Raya Iduladha

Sementara, sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin 18 Mei 2026. Dengan demikian, 10 Dzulhijjah atau Lebaran Iduladha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. 

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan sidang isbat didukung oleh data hisab dan kesaksian rukyat yang menjadi dasar penting pemerintah dalam menetapkan awal Zulhijah 1447 Hijriah secara objektif, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebelumnya, Cecep Nurwendaya, ahli astronomi yang juga Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag menjelaskan, di wilayah NKRI telah memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) awal bulan Qomariah.

Warna peta hijau secara hisab, kriteria MABIMS 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026. Cecep menjelaskan, tinggi hilal di Indonesia berada pada kisaran 3,29 derajat di Merauke hingga 6,95 derajat di Sabang. Sementara elongasi hilal berkisar antara 8,91 derajat hingga 10,62 derajat.

Senada dengan Indonesia, Mahkamah Agung Arab Saudi menetapkan Senin, 18 Mei 2026, sebagai awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah. Dengan penetapan tersebut, Hari Arafah akan berlangsung pada Selasa, 26 Mei, sementara Hari Raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |