:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347895/original/044766700_1789374736-7f5a2402-d1f4-44a5-9786-e9a2e1101812.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu mencapai tujuan dalam hidupnya. Karena keinginan tersebut, tidak sedikit orang tua yang berusaha memotivasi anak melalui nasihat, aturan, hingga teguran. Namun, kalimat yang dimaksudkan sebagai dorongan terkadang justru diterima anak sebagai tekanan apabila disampaikan dengan cara yang kurang tepat.
Cara orang tua berbicara kepada anak dapat ikut membentuk bagaimana mereka memandang prestasi, kegagalan, uang, tanggung jawab, dan kemampuan dirinya sendiri. Anak yang terlalu sering merasa keberhasilannya dinilai hanya dari hasil akhir bisa menjadi takut membuat kesalahan, sedangkan anak yang terus dibantu dalam setiap persoalan mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah secara mandiri.
Karena itu, orang tua bukan hanya perlu memperhatikan aturan yang diberikan, tetapi juga kata-kata yang digunakan ketika menyampaikannya. Berikut penjelasan mengenai sejumlah kalimat yang sebaiknya tidak terlalu sering diucapkan kepada anak jika ingin mendukung mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri.
1. “Kalau Nilaimu Belum Bagus, Waktu Bermain Harus Dikurangi Dulu”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386748/original/030282500_1761022620-mother-scolding-her-daughter-living-room.jpg)
Perbesar
Nilai sekolah yang menurun memang dapat membuat orang tua khawatir. Salah satu respons yang sering muncul adalah langsung mengurangi atau bahkan menghilangkan waktu bermain anak sampai prestasinya meningkat. Cara tersebut mungkin terlihat efektif karena anak memiliki lebih banyak waktu untuk belajar, tetapi bermain tidak selalu menjadi penyebab utama nilai akademiknya mengalami penurunan.
Anak tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang disukainya setelah menjalani kegiatan sekolah. Bermain bersama teman, melakukan hobi, atau sekadar menikmati waktu luang dapat memberikan jeda dari tekanan akademik. Dalam berbagai aktivitas tersebut, anak juga belajar berkomunikasi, bernegosiasi, mengikuti aturan, mengambil keputusan, dan menghadapi konflik kecil.
Daripada menjadikan bermain sebagai sesuatu yang hanya boleh dilakukan ketika nilai bagus, orang tua dapat membantu anak mengevaluasi kebiasaan belajarnya. Misalnya, tentukan jam mengerjakan tugas terlebih dahulu, kemudian berikan waktu bermain setelah kewajibannya selesai. Dengan cara ini, anak belajar mengelola waktu sekaligus memahami bahwa tanggung jawab dan rekreasi dapat berjalan seimbang.
2. “Kalau Rapormu Bagus, Nanti Ayah-Ibu Beri Hadiah Uang”
Memberikan hadiah kepada anak atas pencapaiannya sebenarnya tidak selalu menjadi masalah. Namun, ketika uang selalu dijadikan imbalan setiap kali anak mendapatkan nilai tinggi, anak berpotensi melihat belajar sebagai aktivitas yang hanya layak dilakukan jika ada keuntungan langsung yang akan diterimanya.
Dalam jangka panjang, motivasi seperti ini dapat membuat perhatian anak terlalu terpusat pada hasil akhir. Nilai tinggi berarti hadiah, sedangkan nilai rendah berarti kehilangan kesempatan memperoleh sesuatu. Padahal, proses belajar juga mencakup usaha memahami materi, keberanian bertanya ketika tidak mengerti, memperbaiki kesalahan, dan menemukan strategi belajar yang sesuai dengan dirinya.
Orang tua tetap dapat merayakan keberhasilan anak, tetapi bentuk apresiasinya tidak harus selalu berupa uang. Pujian terhadap usaha, waktu bersama keluarga, makanan favorit, atau aktivitas sederhana yang disukai anak juga dapat menjadi bentuk penghargaan. Yang terpenting, anak memahami bahwa usaha dan perkembangan dirinya tetap memiliki nilai meskipun hasil yang diperoleh belum sempurna.
3. “Biar Ayah-Ibu Periksa Lagi Tugasmu, Takut Ada yang Salah”
Mendampingi anak mengerjakan tugas sekolah merupakan hal yang wajar, khususnya ketika mereka masih membutuhkan bantuan memahami instruksi atau materi tertentu. Namun, kebiasaan memeriksa setiap jawaban kemudian langsung membetulkan semua kesalahan dapat mengurangi kesempatan anak belajar bertanggung jawab terhadap pekerjaannya sendiri.
Kesalahan justru menjadi salah satu bagian penting dari proses belajar. Ketika seorang anak memberikan jawaban yang keliru, menerima koreksi dari guru, lalu mencoba memahami kesalahannya, ia memperoleh pengalaman yang tidak selalu didapat apabila jawabannya sudah diperbaiki terlebih dahulu oleh orang tua. Anak juga belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari.
Jika orang tua ingin membantu, cobalah memberikan pertanyaan yang mengarahkan anak untuk menemukan kesalahannya sendiri. Misalnya, “Coba baca soal ini sekali lagi, menurutmu jawabannya sudah sesuai?” Pendekatan tersebut tetap memberikan dukungan tanpa mengambil alih tanggung jawab anak. Perlahan, anak terbiasa mengevaluasi pekerjaannya sendiri sebelum meminta bantuan.
4. “Kalau Ada yang Kamu Inginkan, Bilang Saja, Nanti Ayah-Ibu Belikan”
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
Perbesar
Kemampuan orang tua memenuhi keinginan anak tentu dapat menjadi bentuk kasih sayang. Akan tetapi, selalu membelikan setiap barang yang diminta dapat membuat anak kehilangan kesempatan memahami bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.
Anak perlu mengenal perbedaan antara sesuatu yang dibutuhkan dan sesuatu yang sekadar diinginkan. Ketika setiap permintaan segera dikabulkan, mereka tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar menunggu, membuat prioritas, atau mempertimbangkan apakah suatu barang benar-benar diperlukan. Kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi cara anak memandang uang ketika bertambah besar.
Jika anak menginginkan sesuatu di luar kebutuhan utama, orang tua dapat mengajaknya membuat rencana sederhana. Misalnya, anak diminta menyisihkan sebagian uang sakunya selama beberapa minggu. Selain belajar menabung, anak menjadi lebih memahami bahwa memperoleh sesuatu terkadang membutuhkan perencanaan dan kesabaran.
5. “Kamu Harus Selalu Jadi yang Terbaik supaya Ayah-Ibu Bangga”
Keinginan melihat anak berprestasi memang sangat manusiawi. Namun, mengatakan bahwa anak harus menjadi yang terbaik agar dapat membanggakan orang tua dapat membuat keberhasilan terasa seperti syarat untuk mendapatkan penerimaan. Anak mungkin mulai berpikir bahwa nilai dirinya bergantung pada seberapa tinggi pencapaian yang berhasil diraih.
Masalahnya, anak tidak mungkin selalu berada di posisi pertama. Akan ada teman yang memperoleh nilai lebih tinggi, lebih mahir dalam olahraga, lebih cepat memahami pelajaran, atau memiliki kemampuan berbeda. Jika standar yang diberikan selalu berupa “harus menjadi yang terbaik”, situasi tersebut dapat membuat anak sulit menerima ketika hasilnya biasa saja.
Orang tua dapat mengganti fokus dari perbandingan dengan orang lain menjadi perkembangan anak dari waktu ke waktu. Misalnya, apresiasi ketika anak berhasil meningkatkan nilai dibanding sebelumnya atau ketika ia berani mengikuti perlombaan meskipun tidak menang. Pesan seperti ini membantu anak memahami bahwa keberhasilan tidak hanya berarti mengalahkan orang lain, tetapi juga terus berkembang.
6. “Tidak Usah Coba Sendiri, Biar Ayah-Ibu yang Urus supaya Beres”
Naluri orang tua sering kali mendorong mereka untuk segera membantu ketika melihat anak kesulitan. Apalagi jika persoalan tersebut sebenarnya mudah diselesaikan oleh orang dewasa. Meski dilakukan dengan niat membantu, terlalu sering mengambil alih masalah anak dapat membuat mereka kehilangan kesempatan belajar memikirkan solusi sendiri.
Masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi latihan kemandirian. Misalnya, anak lupa membawa perlengkapan sekolah, berselisih kecil dengan temannya, kesulitan mengatur barang pribadi, atau bingung menyelesaikan sebuah tugas. Selama situasinya aman dan masih sesuai dengan kemampuan anak, orang tua tidak selalu harus langsung menyelesaikannya.
Cobalah bertanya terlebih dahulu, “Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan?” Jika anak masih kesulitan, orang tua dapat memberikan beberapa pilihan tanpa langsung mengambil keputusan untuknya. Dengan cara tersebut, anak tetap merasa mendapatkan dukungan sekaligus belajar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menghadapi persoalan.
Cara Mengubah Kalimat yang Menekan Menjadi Lebih Mendukung
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5434064/original/062926800_1764911468-Lifestylememory.jpg)
Perbesar
Menghindari enam kalimat tersebut bukan berarti orang tua harus membiarkan anak melakukan apa saja. Batasan, aturan, dan konsekuensi tetap dibutuhkan agar anak belajar memahami tanggung jawab. Perbedaannya terletak pada cara aturan tersebut disampaikan dan tujuan yang ingin dicapai.
Ketika nilai anak turun, misalnya, orang tua tidak harus langsung menghilangkan seluruh waktu bermain. Percakapan dapat dimulai dengan mencari tahu penyebabnya dan membuat jadwal belajar yang lebih teratur. Jika anak melakukan kesalahan, berikan kesempatan untuk memperbaikinya sebelum orang tua turun tangan.
Hal serupa berlaku ketika anak menginginkan barang tertentu atau menghadapi sebuah masalah. Alih-alih langsung memenuhi permintaannya atau menyelesaikan persoalannya, orang tua dapat menjadikan situasi tersebut sebagai kesempatan untuk mengajarkan perencanaan, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan.
Perubahan kecil dalam pilihan kata dapat membuat pesan yang sama terasa berbeda bagi anak. Orang tua tetap dapat bersikap tegas tanpa membuat anak merasa bahwa kasih sayang, penerimaan, dan kebanggaan keluarga hanya ditentukan oleh nilai, kemenangan, atau keberhasilan yang mereka peroleh.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kalimat yang Harus Dihindari Orang Tua
Orang tua tetap boleh memiliki harapan terhadap prestasi anak, tetapi sebaiknya harapan tersebut disesuaikan dengan kemampuan dan diimbangi perhatian terhadap proses belajarnya.
2. Apakah memberi hadiah setelah anak berprestasi selalu buruk?
Tidak. Hadiah dapat menjadi bentuk apresiasi, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya alasan anak belajar atau berusaha mencapai sesuatu.
3. Bagaimana cara membantu anak mengerjakan PR tanpa terlalu ikut campur?
Berikan petunjuk atau pertanyaan yang membantu anak menemukan jawabannya sendiri, kemudian biarkan ia tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
4. Apakah anak perlu mengalami kegagalan?
Kegagalan dalam situasi yang aman dapat membantu anak belajar memperbaiki kesalahan, mengelola kekecewaan, dan mencoba strategi yang berbeda.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak selalu meminta bantuan orang tua?
Berikan kesempatan kepadanya mencoba terlebih dahulu. Jika masih kesulitan, bantu dengan arahan atau pilihan solusi daripada langsung mengambil alih masalah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347925/original/063113400_1789375691-pexels-stewphotography-14537977.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348089/original/090483500_1789381751-ff89f4f7-6ad0-4b2f-b042-62b90f0c061d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357756/original/035604000_1758540831-2149430273__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337397/original/083400900_1788243686-01M1DRFF41STCM7NR32ACCNPW3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2669534/original/022164400_1547109080-sebastian-holgado-1181467-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347608/original/056300700_1789359000-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_4.15.04_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347736/original/028850700_1789366476-Gemini_Generated_Image_slsuy8slsuy8slsu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347766/original/060012300_1789367368-frustrated-wife-disagreeing-with-angry-husband-blaming-overspending-money.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3437032/original/054059600_1619098081-000_98H99V.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347787/original/085158300_1789368136-1275565.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347715/original/002814500_1789365636-________________gemstones_kyliejennertrend_gemstonesnails_bedazzlednails_ell__nails.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347596/original/050250500_1789357675-bb97b1a5-f63c-4780-9395-2a4b38a810c7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347616/original/009583700_1789360007-6b49efd7-4da0-40fd-868c-bbf6bcb430d8__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337419/original/000650600_1788243708-01M1DR7FF3VT34TR2NMTRFCXHB.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347542/original/046523400_1789353636-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3538937/original/041224700_1628821369-pexels-karolina-grabowska-4968660.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347357/original/037763300_1789296113-Gemini_Generated_Image_onio0tonio0tonio.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347325/original/016606200_1789292348-217e2199-12c6-47d7-939a-a1877ceb3cc6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347334/original/076687500_1789293136-Depositphotos_567819362_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347279/original/043439600_1789289232-ChatGPT_Image_13_Sep_2026__15.42.45.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6590892/original/028812500_1779430402-WhatsApp_Image_2026-05-22_at_09.39.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6610471/original/011715300_1779444215-ep-06-semua-demi-keluarga-28c099.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6682149/original/080813600_1779504411-20260522_095154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256068/original/018149700_1781146804-20260609_153019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5232439/original/082617800_1748237422-WhatsApp_Image_2025-05-26_at_12.21.20_3b863ea9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528537/original/052440100_1773287361-Gemini_Generated_Image_lplkyclplkyclplk.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7030163/original/022205500_1779804922-c02ebcc3-6f2d-4b77-b8b7-53a65d092b74.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7085644/original/043419200_1779866458-0f176e17-f5af-45dd-becb-4bf70012ed3b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3426394/original/026891500_1618208519-colorful-soda-drinks-macro-shot_53876-18225.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9111011/original/024501100_1783051379-20260702_105924.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6284541/original/079194300_1779159392-unnamed__42_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5214050/original/035537300_1746710170-fe0e2972-05e3-4639-9e7a-5aa3593a8548.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6505400/original/089646500_1779362850-RS_Muhammadiyah_Lamongan_dan_Lazismu_Jatim_menggelar_makan_bakso_gratis_di_Yayasan_Bberkas_Bersinar_Abadi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575090/original/094355400_1778037587-cropped-6b94bc59-8fb4-4b76-874b-71a6a7262057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225899/original/035012600_1599019411-photo-1522844990619-4951c40f7eda__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8518325/original/097874700_1782444664-cropped-b1b071e0-12bb-43b0-b0ba-7c97cfd1f1e9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6585873/original/001610400_1779426788-portrait-asian-woman-exercising-work-out-gym.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562555/original/091164900_1776832543-Gemini_Generated_Image_ejg8ucejg8ucejg8.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7515165/original/021911600_1780287274-steak_daging_sapi_cincang_3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5290528/original/093615500_1753142190-fef43afb-5889-4588-8f07-c8f05a2116c2.jpg)