Hari Kebaya Nasional 2026, Inklusivitas Jadi Wajah Baru Kebaya Kontemporer

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Hari Kebaya Nasional 2026 kembali menjadi momentum untuk melihat perjalanan kebaya yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Busana tradisional yang selama ini identik dengan acara adat dan perayaan resmi kini hadir dalam berbagai siluet, potongan, serta gaya padu padan yang lebih fleksibel.

Perubahan tersebut membuka ruang agar kebaya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menjangkau lebih banyak perempuan dengan kebutuhan yang beragam. Perkembangan itu terlihat dari semakin banyaknya desainer dan penata busana yang menghadirkan interpretasi baru tanpa menghilangkan identitas kebaya sebagai warisan budaya.

Desainer Hagai Pakan menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari proses alami yang harus dilalui kebaya agar tetap relevan di tengah industri fesyen yang terus bergerak. "Kebaya sekarang menjadi bagian dari pusaran masa kini, jadi memang harus bisa berkembang sesuai zaman dan kebutuhan pemakaiannya," katanya saat peluncuran film pendek "Jalan Pulang" di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Hagai menjelaskan bahwa arah perkembangan kebaya saat ini tidak hanya berfokus pada tampilan visual. Desain kebaya juga semakin mempertimbangkan kenyamanan dan kemudahan pemakaian, sehingga dapat dikenakan oleh perempuan dari berbagai latar belakang.

Pendekatan tersebut menjadikan inklusivitas sebagai salah satu wajah baru kebaya kontemporer. Perubahan itu terlihat melalui hadirnya kebaya yang ramah bagi perempuan berhijab, pilihan potongan yang mampu mengakomodasi berbagai bentuk tubuh, serta eksplorasi desain yang lebih adaptif terhadap aktivitas sehari-hari.

Tak Ada Pakem Tunggal dalam Berkebaya

Inovasi tersebut memperluas kesempatan masyarakat mengenakan kebaya tanpa harus merasa dibatasi oleh satu pakem tertentu. "Jadi modifikasi bentuk. Aku rasa penting sekali kebaya memiliki pertumbuhan dan modifikasi untuk makin sesuai dengan zamannya," kata Hagai.

Menurutnya, perubahan tersebut bukan berarti menghilangkan karakter utama kebaya. Modifikasi justru menjadi cara untuk menjaga keberlangsungan busana tradisional agar tetap memiliki tempat di tengah masyarakat modern.

Kebaya yang mampu mengikuti kebutuhan pemakainya akan lebih mudah diterima oleh generasi baru tanpa kehilangan nilai budaya yang telah melekat selama bertahun-tahun. Pendekatan itu juga membuka peluang lahirnya lebih banyak variasi desain.

Hagai menilai, tidak ada satu model kebaya yang dapat mewakili seluruh perempuan Indonesia karena setiap orang memiliki profesi, gaya hidup, latar belakang budaya, serta preferensi berpakaian yang berbeda. Keragaman tersebut menjadi ruang yang sehat bagi perkembangan kebaya kontemporer.

Menjaga Relevansi Kebaya di Tengah Perubahan Zaman

Sang desainer juga melihat banyaknya eksplorasi desain sebagai perkembangan yang positif bagi dunia fesyen Indonesia. "Menurutku semakin diverse, bentuk-bentuk padu padan kebaya makin bagus. Karena tidak ada generalisasi bentuk kebaya," ujarnya.

Keberagaman itu tercermin dari berbagai cara memadukan kebaya dengan item fesyen modern. Kebaya kini sering dipasangkan dengan rok, celana panjang, kain tradisional, maupun aksesori kontemporer sehingga menghasilkan tampilan yang lebih personal.

Pilihan tersebut memberikan kebebasan bagi setiap perempuan untuk mengekspresikan identitasnya tanpa harus meninggalkan akar budaya. Hari Kebaya Nasional juga menjadi pengingat bahwa pelestarian tidak selalu identik dengan mempertahankan bentuk yang sama dari waktu ke waktu.

Hagai menilai inspirasi untuk menghadirkan kebaya yang relevan justru dapat ditemukan pada unsur-unsur klasik yang telah lama menjadi bagian dari sejarah busana tersebut. Elemen tradisional masih memiliki daya tarik kuat ketika dihadirkan kembali melalui pendekatan yang lebih segar.

Inovasi Tak Selalu Berarti Meninggalkan Tradisi

Detail klasik seperti kebaya berkerah tinggi, model janggan, dan bros bertumpuk kembali menjadi inspirasi dalam perkembangan kebaya kontemporer. Bagi Hagai, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan menghidupkan kembali elemen yang telah lama menjadi bagian dari sejarah kebaya.

"Kadang-kadang hal yang paling terasa baru itu justru berasal dari hal yang paling basic atau paling klasik," ujarnya.

Hagai menilai, pemahaman terhadap akar budaya dapat melahirkan interpretasi baru yang tetap menghormati identitas kebaya. Ia juga mengingatkan agar tradisi tidak dipandang sebagai batas kreativitas, melainkan sumber inspirasi bagi perkembangan fesyen.

"Banyak hal yang klasik atau tradisional yang justru akan menjadi inovasi di masa depan," tutupnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |