Ketika Waktu Jadi Bumbu dalam Sajian Bistro Eropa Modern Baru di Jakarta

3 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah bistro Eropa modern baru di Menteng, Jakarta, memilih waktu sebagai salah satu "bumbu" dalam setiap hidangannya. Di tengah kota yang bergerak cepat, dapurnya justru memberi kesempatan bagi bahan untuk menjalani prosesnya sendiri, dari fermentasi hingga curing, sebelum cita rasa akhirnya hadir di meja.

Setiap proses diberi ruang untuk berlangsung tanpa tergesa, memungkinkan bahan berubah dan berkembang hingga menemukan karakter terbaiknya. Gagasan tentang kesabaran itu kemudian diterjemahkan ke dalam sajian yang memadukan teknik kuliner Eropa dengan rasa yang tetap akrab dan dekat dengan kenyamanan rumah.

"Lewat setiap hidangan yang kami sajikan, waktu menjadi benang merah yang kami pegang di Rozelle. Di dapur, waktu memberi ruang bagi setiap proses untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik," tutur co-founder Rozelle, Chef Noorsetyo Utomo, di acara media gathering di restorannya, Sabtu, 19 September 2026.

Filosofi "Good Things Take Time" terasa sejak hidangan mulai disiapkan. Pendekatan itu dapat ditemui melalui naturally fermented focaccia, house-cured bresaola dan chorizo, fresh stracciatella, serta handmade cheeses.

Masing-masing dibuat dengan perhatian pada proses, seolah waktu tidak sekadar menjadi jeda sebelum makanan disantap, melainkan bagian dari resep yang ikut menentukan hasil akhirnya. Chef Tyo mendirikan restoran tersebut bersama istrinya, Chef Marion Charbonnier, serta sang kakak, Tyas Suryaningrum.

Pengalaman keduanya di restoran berbintang Michelin turut membentuk cara mereka memandang teknik dan craftsmanship dalam kuliner. Latar belakang Chef Marion yang dekat dengan tradisi kuliner Italia kemudian bertemu pengalaman Chef Tyo untuk melahirkan interpretasi modern European cuisine.

Rasa yang Akrab

Karakter makanan yang ditawarkan tetap terasa akrab meski membawa teknik kuliner Eropa. Inspirasi dari kenyamanan makanan rumahan diterjemahkan dalam penyajian yang lebih kontemporer, sesuai dengan kehidupan masyarakat kota yang dinamis.

Perjalanan bersantap dimulai dari pilihan From the Deli. The Rozelle Board menjadi salah satu sajian yang memperlihatkan karakter tersebut melalui kombinasi house charcuterie, fresh and ripened cheeses, focaccia, serta pendamping musiman.

Pilihan pembuka menghadirkan Beef Tartare dengan wagyu tenderloin dan potato crisps. Saus yang disajikan membuat hidangan pembuka itu terasa creamy, namun tetap ringan.

Seared Tiger Prawns menawarkan perpaduan udang, corn velouté, olive tapenade, dan pancetta yang menyatukan tekstur serta rasa dalam satu sajian. Aroma smoky dari udang terasa samar, berpadu dengan saus creamy yang meninggalkan rasa lembut di lidah.

Sentuhan Asia

Hidangan utama bergerak dari Rosemary Fried Chicken dengan nduja butter hingga Charcoal-Grilled Salmon bersama risoni dan beurre blanc. Wagyu Braised Ribs membawa sentuhan berbeda melalui Asian-spiced broth, rice noodles, dan coriander.

Sentuhan Asia terasa lewat "tendangan" pedas yang menyelip di antara cita rasa gurih dan creamy. Pelengkap seperti Rice Pilaf dengan butter, shallot, dan herbs, serta Pumpkin & Radicchio Salad dengan house-made stracciatella cheese memberi pilihan untuk melengkapi santapan.

Sajian manis kemudian menutup perjalanan lewat Mango Pavlova dengan mango sorbet dan passion fruit curd yang menghadirkan sensasi asam-segar, serta tiramisu lembut yang perlahan lumer di mulut.

"Di meja, waktu punya arti yang sama pentingnya dalam memberi ruang untuk menikmati hidangan, melanjutkan percakapan, dan benar-benar hadir bersama orang-orang di sekitar kita," lanjut Chef Tyo.

Promo Soft Opening

Bistro ini kini membuka pintunya bagi publik. Selama periode soft opening hingga 30 September 2026, pengunjung dengan minimum transaksi Rp 150 ribu dapat menikmati bottomless house mocktails secara free-flow sepanjang waktu bersantap.

Chef Marion melihat tempat tersebut sebagai perpanjangan dari kedekatan keluarganya dengan dunia kuliner. "Rozelle berawal dari sesuatu yang sangat dekat dengan kami sebagai keluarga," ujarnya.

Waktu akhirnya menemukan tempatnya sendiri di meja makan. Ia hadir dalam adonan yang difermentasi, daging yang diawetkan, keju yang berkembang, serta hidangan yang dimasak dengan sabar.

Di tengah kota yang terus berlari, pengalaman seperti ini mengingatkan bahwa menikmati makanan juga bisa menjadi alasan sederhana untuk berhenti sejenak.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |