Recession Core Hadirkan Inspirasi Gaya Sederhana dan Fungsional di Tengah Ekonomi Sulit

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Ketika kemampuan belanja menurun, selera berpakaian pun ikut bergeser. Recession Core muncul sebagai respons atas situasi ekonomi yang menuntut kehati-hatian, menghadirkan tampilan sederhana yang fungsional, mudah dipadukan, bernuansa netral, dan tidak menonjolkan logo. Fenomena ini disebutkan sebagai tren yang mencuat di tengah melemahnya daya beli, dilansir dari Vogue Germany.

Arah perubahan tersebut sejalan dengan temuan riset yang menilai kebiasaan berbelanja saat krisis cenderung berubah. Journal of Global Fashion Marketing mencatat konsumen terdorong untuk melakukan reuse, mengurangi pembelian, mencari alternatif, serta lebih mengandalkan diskon.

Dengan latar itu, Recession Core tidak hanya soal rupa. Ia juga mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang kebutuhan serta pengeluaran dalam memilih pakaian.

Ciri Khas Recession Core yang Serba Sederhana

Recession Core mudah dikenali dari pilihan warna yang tenang dan mudah dipadupadankan. Hitam, putih, abu-abu, cokelat, dan beige menjadi palet yang kerap dipilih, sementara potongan pakaian cenderung klasik dan tidak terpaku pada tren yang cepat berganti.

Konsep utamanya adalah versatility: satu potong busana untuk banyak kesempatan. Blazer sederhana, celana berpotongan lurus, kemeja, cardigan, rok panjang, hingga kaus polos menjadi tulang punggung tampilan ini. Aksesori digunakan secara minim sehingga keseluruhan gaya terasa ringkas dan tidak berlebihan.

Arah estetika ini tumbuh seiring kecenderungan menuju minimalisme, ketika kegunaan dan kemudahan perawatan didahulukan dibanding detail dekoratif yang mencolok.

Penting dicatat, kesederhanaan tidak identik dengan murah. Estetika Recession Core justru tampak melalui pilihan busana yang berkualitas, tahan lama, dan nyaman digunakan berulang kali. Pemilihan didasarkan pada fungsi, kebutuhan, serta umur pakai.

Bukan Sekadar Tren, Recession Core Cerminkan Cara Konsumsi Baru

Lebih dari urusan gaya, Recession Core memperlihatkan bagaimana kondisi ekonomi memengaruhi keputusan berbelanja. Ketika situasi finansial tidak pasti, pertimbangan harga, kegunaan, kualitas, dan frekuensi pemakaian menjadi penentu, bukan semata dorongan mengikuti tren musiman.

Dari perilaku pasar, terlihat konsumen mulai mencari alternatif yang lebih terjangkau, memangkas pembelian barang non-esensial, dan meninjau ulang kebiasaan konsumsi. BCG mencatat bahwa dalam kondisi ekonomi sulit, pengeluaran untuk kategori non-esensial seperti pakaian cenderung dikurangi, disertai peralihan ke opsi berharga lebih rendah.

Menariknya, respons awal yang lahir dari tekanan ekonomi ini juga berkembang menjadi pilihan estetika yang disadari. Pakaian basic, warna tenang, serta tampilan minimalis dipandang modern dan mudah diterapkan dalam keseharian.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika kondisi ekonomi berubah, definisi tentang tampil stylish pun dapat ikut bergeser.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |