IQ Anak Bisa Turun Karena Hal Sepele Ini, Dokter Ingatkan Orang Tua

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Isu rendahnya IQ anak kembali menjadi sorotan setelah survei global menempatkan Indonesia dalam daftar dengan rata-rata IQ yang relatif rendah. Namun, Ketua Health Collaborative Centre (HCC) Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa anak kurang pintar.

Menurutnya, penurunan kemampuan kognitif anak sering kali dipicu oleh hal-hal sederhana yang kerap diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

"IQ bukan angka final. Kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari gizi, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga lingkungan," ujar Ray.

Dia menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama yang sering tidak disadari adalah kurangnya asupan nutrisi penting.

Otak anak membutuhkan zat gizi seperti zat besi, yodium, protein, omega-3, vitamin B12, dan folat untuk bekerja optimal.

Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, dampaknya bisa langsung terasa pada konsentrasi, daya ingat, hingga kemampuan belajar.

Kondisi anemia, misalnya, sering disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, anak yang kekurangan zat besi sebenarnya mengalami kelelahan pada fungsi otaknya.

"Anemia bisa membuat anak terlihat tidak fokus dan kurang bersemangat. Ini bukan karena malas, tetapi karena otaknya tidak mendapatkan dukungan nutrisi yang cukup," ujarnya.

Selain gizi, kualitas tidur juga memegang peranan penting. Anak dan remaja yang kurang tidur cenderung mengalami penurunan performa akademik. Mereka lebih sulit fokus, mudah terdistraksi, dan cenderung impulsif dalam mengambil keputusan.

Di sisi lain, lingkungan rumah yang penuh tekanan juga dapat berdampak serius. Konflik keluarga, tekanan ekonomi, atau suasana yang tidak kondusif bisa memengaruhi kesehatan mental anak, yang pada akhirnya berdampak pada perkembangan kognitifnya.

"Stres di rumah itu masuk ke otak anak. Lingkungan yang tidak suportif bisa mengganggu perkembangan emosi dan kemampuan berpikir," tambah Ray.

Paparan gadget yang berlebihan juga menjadi perhatian di era digital. Aktivitas seperti scrolling tanpa interaksi dinilai tidak memberikan stimulasi yang cukup bagi otak.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |