Wajah Supermodel Adriana Lima Diulik Dokter Bedah Plastik, Diduga Hasil Operasi

10 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Supermodel Adriana Lima menjadi salah satu ikon di dunia mode, khususnya di show Victoria's Secret. Ia bahkan mendapat penghargaan khusus saat mengakhiri tugasnya sebagai Angel pada 2018 dan kembali ke runway brand lingerie itu pada 2024.

Terlepas dari performanya sebagai model, sejumlah warganet menyoroti soal wajah model kelahiran 12 Juni 1981 itu yang diklaim mengalami perubahan mencolok. Hal itu terutama terlihat saat menghadiri pemutaran perdana Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes pada November 2023.

Hal itu memicu spekulasi bahwa ia telah menjalani prosedur kosmetik. "Saya tidak akan tahu bahwa itu orang yang sama," tulis seorang pengguna media sosial di X, dikutip dari Daily Mail, Senin (8/6/2026), sementara yang lain berspekulasi bahwa model asal Brasil itu mungkin 'masih bengkak' akibat prosedur kosmetik, seperti 'facelift' atau 'filler'.

Saat itu, Lima menanggapi rumor tersebut dengan menulis di Instagram, "Ini adalah wajah seorang ibu yang lelah dengan satu anak perempuan remaja, dua anak pra-remaja, satu anak laki-laki yang aktif, seorang anak berusia satu tahun yang sedang belajar berjalan, dan tiga anjing... terima kasih atas perhatian Anda."

Tapi, dokter bedah plastik yang berbasis di New York, Dr. Jennifer Levine, mengatakan kepada Daily Mail saat itu bahwa sejumlah prosedur yang dapat menyebabkan penampilannya yang 'bengkak', termasuk filler dan operasi pengangkatan alis. 

Dugaan Prosedur Kosmetik yang Dijalani Adriana Lima

"Tampaknya wajahnya bengkak di sekitar mata dan mulut khususnya, karena matanya tampak lebih kecil, alisnya miring secara tidak wajar dan senyumnya tampak kurang tulus," jelas Dr. Levine. "Ada kemungkinan dia telah melakukan kombinasi filler, benang, dan beberapa neuromodulator," sambungnya.

Perihal kemiringan ekstrem di sisi alis Lima, Dr. Levine menduga, "Ada kemungkinan juga dia telah melakukan operasi pengangkatan alis."

"[Namun] hal itu juga dapat dicapai dengan benang PDO, yang ditempatkan di bawah kulit dan memiliki duri yang membantu mengangkat dan memposisikan kembali jaringan."

"Beberapa perubahan pada wajahnya dapat terjadi seiring bertambahnya usia," lanjut dokter bedah tersebut, menambahkan bahwa obat-obatan atau masalah kesehatan juga dapat menyebabkan beberapa perubahan tersebut.

Adriana Lima Dinilai Pilih Tindakan Minimal Invasif

Dokter estetika yang berbasis di Beverly Hills, California, Dr. Rahi Sarbaziha juga berpendapat bahwa Lima kemungkinan telah menjalani prosedur benang PDO, yaitu prosedur yang menggunakan benang jahit yang dapat larut untuk mengangkat kulit, sebelum memilih operasi yang berbeda.

"Sepertinya dia mungkin telah melakukan operasi alis untuk menciptakan alisnya yang tajam dan bersudut," kata Dr. Rahi. "Sangat mungkin juga bahwa prosedur tersebut baru dilakukan dan pembengkakan pasca-operasi belum mereda. Pembengkakan pasca-operasi dapat membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk mereda."

Dr. Rahi juga menilai Lima telah melakukan 'filler yang terlihat di bibir dan pipinya, dan beberapa jenis neurotoksin di area dahi dan alis'. Spesialis estetika itu melanjutkan, "Menurut pendapat saya, dia telah melakukan banyak hal, tetapi hasilnya berkualitas baik."

"Dia tidak memiliki pori-pori atau bekas luka yang terlihat, jadi saya berasumsi dia telah menjalani beberapa prosedur peremajaan kulit, seperti microneedling, untuk menjaga kulitnya tetap kenyal dan terhidrasi," tambah Dr. Rahi, merujuk pada prosedur minimal invasif yang merangsang kolagen untuk menjaga kulit tetap tampak awet muda.

Perawatan Wajah Pilihan Mikha Tambayong

Terpisah, Mikha Tambayong meyakini bahwa penampilan adalah bagian dari aset yang harus dijaga. Di usia 31 tahun, ia mengaku ingin menua dengan anggun. Dengan prinsip itu, ia mencoba rutin merawat penampilan dengan konsisten, termasuk terbuka pada teknologi pengencangan wajah non-invasif.

"Saya sekarang di usia yang sekarang membutuhkan sesuatu yang enhancing, not changing," kata Mikha dalam peluncuran kampanye YoutheXERF di Jakarta, Senin, 1 Juni 2026.

Ia mengaku mencoba perawatan pengencangan wajah non-bedah sebagai upaya menjaga penampilannya agar tetap terlihat alami tanpa mengganggu aktivitas harian. Dengan kesibukannya, ia makin memerlukan perawatan diri yang lebih praktis.

Seiring perkembangan teknologi, kebutuhannya akan perawatan wajah yang memberi hasil maksimal tanpa menyiksa bisa terpenuhi. Hal itu dirasakannya setelah mencoba teknologi XERF, yang mendapuknya sebagai duta merek di Indonesia.

"Setelah mencoba itu relatively painless, tidak traumatis, dan tidak ada downtime. Setelah treatment, malamnya aku masih bisa dinner dan besoknya langsung flight lagi," katanya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |