Seoul Perketat Pengawasan Homestay, Ada Subsidi hingga Rp 59,3 Juta

8 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Seoul, Korea Selatan, menata lebih ketat keberadaan homestay yang dibuka warga untuk menampung para turis yang datang ke kota. Langkah itu diambil seiring meningkatnya kedatangan turis asing hingga mencapai rekor tertinggi.

Pada Senin, 8 Juni 2026, Pemerintah Metropolitan Seoul dan Organisasi Pariwisata Seoul mengumumkan akan meluncurkan proses audit kompetitif untuk memilih 20 akomodasi alternatif terbaik di kota tersebut. Program yang berlangsung hingga akhir Juni 2026 itu menargetkan homestay perkotaan dan rumah tamu tradisional yang terdaftar secara resmi di bawah payung Seoul Stay.

Mengutip Korea Times, akomodasi yang lolos seleksi dijanjikan mendapat subsidi hingga lima juta won (sekitar Rp 59,3 juta). Namun, insentif tersebut disertai dengan sanksi yang agresif.

Tahun ini, pejabat kota sedang merombak kriteria seleksi untuk lebih mengutamakan infrastruktur keselamatan dan hubungan komunitas daripada daya tarik estetika. Untuk pertama kalinya, para ahli kebakaran dan keselamatan independen akan bergabung dengan panel inspeksi, melakukan kunjungan lapangan tanpa pemberitahuan untuk memeriksa pintu keluar darurat, detektor asap, dan instalasi listrik di bangunan tempat tinggal.

Pengetatan peraturan ini mencerminkan masalah yang berkembang di lingkungan perumahan bertingkat rendah yang trendi di Seoul, seperti Hongdae dan Desa Bukchon Hanok. Seiring meledaknya penyewaan jangka pendek dan homestay yang tidak diatur, reaksi negatif dari warga setempat terkait kebisingan, pembuangan sampah, dan kenaikan biaya perumahan juga meningkat.

Kriteria Penilaian Homestay

Di bawah pedoman baru, operator homestay harus membuktikan bahwa mereka secara aktif mengelola kebisingan tamu dan sampah rumah tangga untuk mencegah perselisihan antar-tetangga. Untuk memisahkan tuan rumah elit dari operasi yang kacau, kota akan menjalankan proses penyaringan dua tahap, mempersempit pelamar menjadi daftar pendek 30 orang sebelum mengirimkan inspektur lapangan untuk menilai kebersihan, layanan, dan keharmonisan lingkungan.

Pemenang akan menerima plakat merek resmi dan kampanye pemasaran yang didukung negara. "Keberhasilan utama strategi pariwisata kita dimulai dengan lingkungan penginapan di mana pengunjung merasa aman dan tetangga merasa dihormati," kata Kim Myung Ju, Direktur Biro Pariwisata dan Olahraga Seoul.

"Kami mencari operator yang memahami bahwa keberlanjutan sama pentingnya dengan keramahan."

Program Homestay Sambut Konser BTS

Di tempat berbeda, Busan meluncurkan program homestay warga sebagai bagian dari upaya untuk menstabilkan harga akomodasi. Lewat program yang berlangsung pada 12--14 Juni 2026, tamu bisa menginap di rumah-rumah pribadi warga Busan dengan setiap pemesanan mencakup dua malam.

Untuk berpartisipasi, turis asing dapat mendaftar melalui k-popstay.wehome.me atau Visit Korea. Program ini ditawarkan secara gratis, dengan deposit jaminan sebesar 50.000 won (hampir Rp 600 ribuan) yang diperlukan pada saat pemesanan untuk mencegah pemesanan fiktif dan ketidakhadiran.

Deposit akan dikembalikan sepenuhnya saat check-in dalam bentuk voucher pariwisata Busan dengan nilai yang sama, yang dapat digunakan di pasar tradisional dan tempat-tempat lokal lainnya. Pemerintah kota juga akan menanggung premi asuransi tanggung jawab untuk tuan rumah, termasuk cedera pribadi dan kerusakan properti, dalam anggaran yang tersedia, memungkinkan mereka untuk membuka rumah mereka tanpa kekhawatiran tanggung jawab.

Praktik Getok Harga Rusak Citra Busan

Konser BTS di Busan yang akan berlangsung pekan depan akan menandai ulang tahun debut grup tersebut. Kota itu juga spesial karena merupakan kampung halaman Jimin dan Jungkook BTS.

Tapi, kesenangan menyambut konser BTS ternodai oleh praktik getok harga penginapan di Busan. Menurut survei Komisi Perdagangan Adil Korea dan Badan Konsumen Korea pada Januari 2026, berdasarkan tarif dari 135 properti, termasuk 52 hotel, 39 motel, dan 44 rumah liburan yang terdaftar di platform pemesanan utama, menemukan bahwa tarif rata-rata satu malam untuk akhir pekan konser adalah 433.999 won (sekitar Rp 5,1 juta) 2,4 kali lebih tinggi daripada akhir pekan sebelum dan sesudahnya.

Sebagai tanggapan, Busan telah menjalankan kampanye penetapan harga yang adil sejak bulan lalu. Fasilitas akomodasi publik yang dikelola kota sekarang memiliki kapasitas gabungan sekitar 1.400 orang, kata pemerintah kota.

"Kami bertujuan untuk memperkuat citra Busan sebagai destinasi wisata yang ramah dan adil bagi penggemar internasional, dan untuk menjadikan program homestay warga sebagai model akomodasi alternatif pilihan untuk acara internasional berskala besar di masa mendatang," kata Kim Bong Cheol, direktur kantor ekonomi digital kota tersebut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |