Sampah Wadah Mie Cup Didaur Ulang Korsel Jadi Nafta, Belajar dari Krisis Plastik

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Saat perang Iran versus Amerika Serikat dan Israel berlangsung, dunia juga mengalami krisis plastik. Pasalnya, nafta yang jadi bahan baku mendadak langka. Belajar dari situasi tersebut, Korea Selatan kini mulai memanfaatkan sampah yang biasanya terbuang percuma, yakni wadah mie cup.

Wadah mie cup yang mayoritas terbuat dari polistirena selama ini dipandang oleh petugas kebersihan Korea sebagai gangguan lingkungan yang sulit diatasi. Karena terkontaminasi oleh minyak pedas, proses daur ulang mekanis tradisional menjadi tidak berguna. Wadah ringan itu akhirnya dibakar atau dibuang ke tempat pembuangan sampah begitu saja.

Tapi sekarang, mengutip Korea Times, Selasa (2/6/2026), pemerintah setempat berusaha mengubah limbah plastik itu menjadi bahan baku berharga untuk industri petrokimia. Kementerian Lingkungan Hidup Korea mengatakan pada Senin, 1 Juni 2026, bahwa mereka memperluas inisiatif daur ulang kimia nasional yang menggunakan teknologi dekomposisi termal canggih untuk menguraikan kertas polistirena — yang biasa dikenal sebagai PSP — dan mengubahnya menjadi nafta, bahan dasar untuk plastik baru.

Perluasan ini menandai pergeseran signifikan dari daur ulang mekanis, yang hanya melelehkan dan membentuk kembali plastik, seringkali menurunkan kualitasnya dan membatasi penggunaannya kembali pada barang-barang bernilai rendah. Kertas polistirena telah lama menjadi kendala bagi jaringan daur ulang karena mudah terkontaminasi oleh makanan, sulit dipisahkan dari plastik lain dalam aliran sampah kota, dan diproduksi dalam berbagai warna yang membingungkan.

Teknologi yang Dipakai untuk Daur Ulang Polistirena

Di bawah program yang diperluas, limbah PSP yang dikumpulkan akan dipanaskan dengan suhu tinggi tanpa oksigen, sebuah proses yang dikenal sebagai pirolisis. Proses ini mengubah plastik padat menjadi minyak pirolisis cair, yang kemudian dimurnikan menjadi nafta.

Para pejabat mengatakan program ini secara efektif menutup siklus material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah yang tidak dapat didaur ulang. Inisiatif ini mengikuti uji coba regional yang dilakukan tahun lalu, yang berhasil memproses sekitar 15,8 ton limbah PSP.

Untuk mendorong sektor swasta meningkatkan skala operasi, kementerian memanfaatkan sistem tanggung jawab produsen yang diperluas di Korea, yang secara hukum mewajibkan produsen dan importir untuk mengelola siklus hidup kemasan mereka. Perusahaan logistik dan kimia yang berpartisipasi akan menerima subsidi pemerintah baik pada tahap pengumpulan awal maupun tahap dekomposisi termal akhir.

"Ekspansi ini mengatasi keterbatasan teknis yang telah lama ada dalam daur ulang polistirena yang terkontaminasi," kata Kim Go Eung, direktur divisi sirkulasi sumber daya KLH Korea. "Ini akan membantu mengubah limbah bernilai rendah menjadi sumber daya kimia bernilai tinggi dan mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular."

Beda Sampah Polistirena dan Styrofoam

Sementara itu, styrofoam menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak mencemari lingkungan. Walau mudah digunakan, styrofoam membutuhkan waktu sekitar 500--1 juta tahun untuk dapat terurai oleh tanah.

Banyak elemen masyarakat yang menolak penggunaan styrofoam karena dampak buruknya pada lingkungan. Padahal, styrofoam ternyata dapat didaur ulang dan menjadi barang bernilai.

"Tidak banyak yang tahu kalau sampah styrofoam itu bisa didaur ulang," ungkap Muhamad Andriansyah, Founder & CEO Kita Olah Indonesia, pada acara konferensi pers yang digelar Kita Olah Indonesia dan Program Yok Yok Ayok Daur Ulang pada Rabu, 14 Juni 2023, di Kita Olah Indonesia Waste Management Site Bekasi. 

Lebih lanjut, Andri meluruskan persepsi masyarakat yang dinilainya kurang tepat tentang styrofoam. "Styrofoam itu berbeda dengan Polystyrene Foam atau yang kita sebut PS Foam. Yang biasa digunakan untuk kemasan makanan itu PS Foam karena mereka food grade, kalau styrofoam itu tidak food grade. Styrofoam itu yang biasa digunakan untuk pengganjal barang saat packing," ujarnya. 

Sampah PS Foam dan Styrofoam Sudah Mulai Diolah di Indonesia

Dengan demikian, ia menekankan bahwa yang biasa menjadi masalah lingkungan dan kerap terlihat menggenang di sungai-sungai adalah PS Foam, bukan styrofoam. Namun, Andri menekankan bahwa yang menjadi masalah utama bukanlah sampah PS Foam, melainkan perilaku orang yang membuang sampah sembarangan.

"Berbicara tentang sampah adalah berbicara mengenai perspektif. Di sini, barang-barang itu bukan sampah tapi merupakan raw material yang nilainya sama saja karena bisa didaur ulang. Banyak yang menganggap PS Foam adalah residu yang tidak bisa didaur ulang, padahal bisa," ujar Andri.

Organisasinya ternyata sudah mendaur ulang sampah PS Foam sejak 2021. Kita Olah Indonesia kini memiliki dua tempat daur ulang sampah di daerah Rawalumbu, Kota Bekasi, dengan salah satu tempatnya lebih fokus mendaur ulang PS Foam maupun styrofoam.

Styrofoam dan PS Foam tersebut dilelehkan dengan mesin, kemudian dipadatkan atau di-press sehingga menjadi bongkahan kotak besar berat yang disebut Bekuan PS Foam. Setelah menjadi padat, PS Foam dapat dimanfaatkan menjadi aneka barang, salah satunya pigura foto. Terdapat dua jenis Bekuan PS Foam, satu berwarna putih terang dan yang satu berwarna abu-abu gelap. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |