Penerapan Prinsip ESG Makin Penting untuk Investor di Sektor Pariwisata Berkelanjutan

16 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menilai penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kuat semakin menjadi faktor penting dalam menarik investasi di sektor pariwisata. Ia menyatakan bahwa investor dan mitra internasional saat ini tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, dampak sosial, serta tata kelola yang baik.

"Kami berharap semakin banyak pelaku usaha pariwisata yang tergerak untuk menerapkan prinsip ESG dan memandang aspek keberlanjutan sebagai investasi strategis jangka panjang," kata Menpar saat membuka Eco Tourism Week – Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Industry Forum (WI-STIF) 2026 di The Meru, Bali, Sabtu, 30 Mei 2026.

Ia mengklaim pemerintah terus mengambil berbagai langkah konkret untuk mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan di berbagai destinasi. Upaya tersebut antara lain melalui pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, seperti sistem pengelolaan sampah di Labuan Bajo, revitalisasi destinasi wisata seperti kawasan Waterfront City Pangururan di Danau Toba, serta berbagai program pemulihan lingkungan dan kajian daya dukung kawasan wisata.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga menjalankan program prioritas Gerakan Wisata Bersih sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan sanitasi di destinasi wisata. Program tersebut sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat pengelolaan sampah secara nasional serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

"Saya berharap forum ini dapat memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya pariwisata berkelanjutan serta mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk berperan lebih aktif dalam membangun kolaborasi lintas sektor," kata Menpar.

Dorong Pemerataan Investasi Pariwisata Berkelanjutan

Menpar berharap forum itu bisa melahirkan inovasi, kemitraan, dan solusi nyata untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan. Sementara, Co-Founder Eco Tourism Bali, Suzy Hutomo, mengatakan Ecotourism Week tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam mendorong implementasi praktik pariwisata berkelanjutan.

"Selama ini kita sering berbicara mengenai ide dan konsep. Melalui forum ini, kami ingin berfokus pada solusi dan implementasi nyata. Berbagai topik penting akan dibahas, mulai dari ESG hingga pariwisata regeneratif melalui keberagaman, operasional berkelanjutan, dan dampak positif bagi komunitas," ucap Suzy.

Dalam Investor Roundtable 2026 pada Jumat, 29 Mei 2026, Menpar juga mendorong pemerataan investasi pariwisata yang berkelanjutan agar tidak hanya terkonsentrasi di Bali, tetapi juga menjangkau berbagai destinasi potensial di seluruh Indonesia.

"Indonesia bukan hanya Bali. Kita memiliki banyak destinasi unggulan dengan potensi pariwisata dan investasi yang sangat besar, yang masih menunggu untuk dikembangkan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan," kata Menpar.

13 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Regeneratif

Menpar menyampaikan bahwa Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara, dengan hampir 7 juta kunjungan di antaranya terkonsentrasi di Bali.

"Angka ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia sebagai destinasi pariwisata sekaligus tujuan investasi, dan Bali tetap menjadi jantung pertumbuhan pariwisata nasional," kata Widi.

Di sisi lain, tingginya konsentrasi investasi di sejumlah kawasan Bali seperti Canggu, Seminyak, Uluwatu, dan Ubud menunjukkan perlunya strategi pemerataan investasi agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh berbagai daerah di Indonesia. Sebagai langkah konkret, Kemenpar memprioritaskan pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas -Danau Toba; Lombok dan Gili Tramena; Labuan Bajo; Borobudur, Yogyakarta, dan Prambanan; Bangka Belitung; Bromo Tengger Semeru; Manado Likupang; Morotai; Wakatobi; dan Raja Ampat - dan tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif - Bali, Greater Jakarta, dan Kepulauan Riau.

Ke-13 destinasi itu disiapkan sebagai pusat-pusat pertumbuhan baru yang diharapkan mampu memperluas distribusi manfaat ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah. 

Kemenpar Minta Masukan Pemangku Kepentingan

Menpar mengajak para investor untuk melihat peluang yang semakin terbuka di berbagai destinasi unggulan Indonesia di luar Bali, guna membangun industri pariwisata yang lebih seimbang, inklusif, dan berkelanjutan. Upaya tersebut sejalan dengan perkembangan tren pariwisata global yang semakin menitikberatkan pada prinsip keberlanjutan, wellness tourism, serta pengalaman wisata yang autentik dan bermakna.

Melalui forum Investor Roundtable ini, Kemenpar secara aktif menyerap masukan dari investor, pemerintah daerah, asosiasi, serta pelaku usaha pariwisata mengenai berbagai tantangan di lapangan dan dukungan yang dibutuhkan untuk memperkuat iklim investasi sektor pariwisata. Masukan tersebut akan menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan investasi pariwisata yang lebih hijau, inklusif, kompetitif, dan merata di masa mendatang.

"Kami memandang masukan ini sangat berharga, tidak hanya untuk memperkuat ekosistem investasi pariwisata Bali, tetapi juga sebagai pembelajaran penting dalam pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas dan Destinasi Pariwisata Regeneratif lainnya," ucap Plt. Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |