Kiwi Jadi Camilan Favorit Para Pelari di Korea Selatan, Seberapa Bermanfaat?

1 hour ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya di Indonesia, lari juga jadi salah satu olahraga favorit di Korea Selatan. Frekuensi ajang lari marathon pun meningkat. Menurut situs web komunitas “Marathon Online”, 494 acara maraton dijadwalkan akan diadakan pada 2026. Itu sekitar 100 lebih banyak daripada 394 acara yang diadakan pada 2025 dan kira-kira dua kali lipat dari 248 acara pada 2021.

Dalam survei Juli 2025 tentang aktivitas luar ruangan yang dirilis oleh Gallup Korea, 31 persen responden berusia 13 tahun ke atas mengatakan mereka telah berlari dalam setahun terakhir. Itu berarti sekitar satu dari tiga orang telah mencoba berlari. Berdasarkan angka ini, populasi pelari Korea diperkirakan mendekati 10 juta.

Peningkatan minat pada lari itu disertai minat pada camilan sehat yang bisa membantu mengisi kembali nutrisi dan cairan sekaligus membantu pemulihan setelah berolahraga. Jika sebelumnya energy bar menjadi pilihan paling populer, kini para pelari mencari makanan utuh atau yang diproses seminimal mungkin, seperti buah-buahan.

Alasannya, camilan buatan itu mengadung gula buatan dan bahan aditif yang dinilai 'kurang sehat'. Penggantinya, buah-buahan seperti apel, tomat, pisang, dan kiwi menjadi tren di kalangan pelari. Dari pilihan buah-buahan itu, kiwi paling menonjol karena dinilai lebih tinggi nutrisi.

Mengutip Korea Times, Senin, 25 Mei 2026, kiwi mengandung lebih dari 20 vitamin dan mineral. Buah ini kaya akan vitamin C, yang penting untuk pemulihan setelah berolahraga. Satu porsi 100 gram kiwi mengandung 152 mg vitamin C, artinya satu buah kiwi dapat memenuhi seluruh asupan harian yang direkomendasikan untuk orang dewasa.

Manfaat Vitamin C Kiwi bagi Pelari

Vitamin C berefek antioksidan dan berkontribusi pada peningkatan kekebalan dan vitalitas. Vitamin ini sangat bermanfaat untuk mengatasi kelelahan dan respons inflamasi yang mungkin terjadi setelah olahraga intensitas tinggi.

Dalam sebuah studi yang dilakukan para peneliti di Universitas Otago di Selandia Baru, orang dewasa dengan riwayat infeksi pernapasan diminta untuk mengonsumsi dua buah kiwi Zespri SunGold setiap hari selama enam minggu. Sekitar 80 persen peserta kembali ke kadar vitamin C normal, sementara penurunan penanda inflamasi dan kelelahan juga diamati.

Kiwi juga merupakan pilihan yang baik untuk pelari yang ingin mengisi kembali energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam. Indeks glikemik (GI) kiwi hijau Zespri dan kiwi SunGold masing-masing adalah 51 dan 48, keduanya di bawah patokan GI rendah 55. Ini memungkinkan pelari untuk memulihkan energi tanpa khawatir tentang peningkatan gula darah yang cepat.

Tren Butter Runs di Amerika Serikat

Beda lagi tren di kalangan pelari di Amerika Serikat, Dikenal sebagai "Butter Runs," atau sering juga disebut "Churn and Burn", tantangan viral ini memberi makna baru pada aktivitas sederhana, seperti berbelanja bahan makanan—sambil berolahraga.

Melansir New York Post, Jumat, 13 Maret 2026, tren ini berawal dari eksperimen sekelompok pelari lintas alam di Oregon, Amerika Serikat (AS). Mereka mencoba membuat mentega dengan cara yang cukup tidak terduga, yakni membawa botol berisi krim di dalam rompi lari mereka. Selama berlari, botol tersebut terus terguncang, sehingga krim di dalamnya perlahan berubah tekstur.

Hasilnya cukup mengejutkan. Setelah beberapa waktu, krim itu benar-benar berubah menjadi mentega. Ide serupa kemudian dicoba pasangan Libby Cope dan Jacob Arnold, yang sama-sama berusia 30 tahun.

Pada awal 2026, mereka terinspirasi membuat mentega tanpa menggunakan alat dapur, melainkan melalui aktivitas sehari-hari. Ide itu muncul secara tidak sengaja saat Libby menuangkan krim kental ke dalam secangkir kopi paginya.

Trik Lari Sambil Bikin Mentega

Melihat itu, Jacob melontarkan pertanyaan sederhana, "Menurutmu kalau kita terus mengocok ini, apakah bisa berubah menjadi mentega?" Rasa penasaran membuat mereka mencoba.

Mereka pun pergi ke toko, membeli krim kental, lalu membawanya saat berlari. Tanpa disangka, eksperimen sederhana itu justru menjadi inspirasi bagi tren yang kini ramai ditiru banyak orang di media sosial.

Prosesnya ternyata cukup sederhana. Mereka menuangkan sekitar 32 ons krim kental ke dalam kantong plastik ziplock, lalu menambahkan sedikit garam. Untuk memastikan tidak bocor saat dibawa berlari, kantong tersebut dimasukkan lagi ke dalam kantong ziplock kedua.

Setelah semuanya siap, mereka membawa kantong berisi krim itu saat berlari di jalur pendakian. Ide dasarnya cukup sederhana: guncangan tubuh selama berlari sekitar satu jam diperkirakan cukup untuk "mengocok" krim hingga berubah menjadi mentega.

Ternyata, percobaan itu berhasil. Di akhir sesi lari, krim yang semula cair berubah menjadi gumpalan mentega berwarna kekuningan. Mentega tersebut kemudian mereka oleskan pada sepotong roti sebagai hasil dari eksperimen unik itu.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |