Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, London Jadi Kota Anomali Tertinggi

14 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang panas ekstrem kembali melanda sebagian besar wilayah Eropa dan memicu kekhawatiran baru terkait dampak perubahan iklim. Para ahli menilai kondisi cuaca saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu.

Melansir Euronews, Kamis, 28 Mei 2026, para ahli memaparkan pernyataan terkait kondisi cuaca panas di Eropa. Suhu panas yang memecahkan rekor pada Mei 2026 masih terus menyelimuti kawasan Eropa akibat fenomena kubah panas (heat dome) yang disebut sangat kuat. Para ilmuwan bahkan memperingatkan kondisi terburuk diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Badan Meteorologi Prancis, Meteo France, pada Senin, 25 Mei 2026, mengumumkan bahwa lebih dari 350 stasiun cuaca di negara tersebut mencatat rekor suhu bulanan baru. Suhu tertinggi mencapai 37,1 derajat Celsius tercatat di wilayah dekat Hossegor, tidak jauh dari Biarritz.

Gelombang panas ekstrem ini dikaitkan dengan sejumlah kematian dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Inggris juga kembali mencatat rekor hari terpanas pada Mei selama dua hari berturut-turut. Suhu di beberapa wilayah London dilaporkan melampaui 35 derajat Celsius, angka yang tergolong sangat tinggi untuk musim semi di negara tersebut.

Menurut data dari lembaga prakiraan cuaca WFY24, puluhan ibu kota di Eropa mengalami suhu jauh di atas rata-rata normal untuk akhir Mei. London menjadi kota dengan anomali suhu tertinggi, yakni mencapai 16 derajat Celsius di atas rata-rata suhu Mei.

Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Data itu juga mencatat Paris mengalami kenaikan sekitar 14 derajat Celsius, Berlin 11 derajat Celsius, sementara Lisbon dan Madrid masing-masing mencapai 10 derajat Celsius di atas suhu normal. Bahkan wilayah yang biasanya lebih sejuk seperti Oslo turut mengalami kenaikan suhu. Kota tersebut mencatat suhu mencapai 18 derajat Celsius atau sekitar 3 derajat lebih tinggi dibanding rata-rata akhir Mei.

Meski fenomena cuaca ini dipicu oleh kubah panas (heat dome) yang memerangkap udara panas di atmosfer, para ilmuwan menegaskan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia membuat fenomena tersebut semakin sering terjadi. Profesor Ilmu Iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, menyatakan, "Gelombang panas yang memecahkan rekor ini jelas merupakan dampak dari perubahan iklim."

Menurutnya, suhu setinggi itu sebelumnya tergolong sangat jarang terjadi, bahkan saat puncak musim panas sekalipun. Karena itu, suhu yang melampaui 35 derajat Celsius di Inggris pada musim semi dinilai sangat tidak biasa.

"Melihat suhu 35°C di Inggris selama musim semi benar-benar mencengangkan. Namun, sains sudah sangat jelas, perubahan iklim membuat gelombang panas menjadi lebih panas, lebih lama, dan jauh lebih sering terjadi," lanjutnya.

Eropa Selatan Diprediksi Jadi Wilayah Paling Terdampak Gelombang Panas 2026

Friederike juga memperingatkan bahwa rekor suhu panas diperkirakan akan terus berulang jika emisi gas rumah kaca global tidak segera ditekan dan negara-negara gagal mencapai target emisi nol bersih. Ia menambahkan bahwa perubahan kondisi iklim itu menantang  banyak infrastruktur di berbagai negara.

"Iklim yang kita alami saat ini sama sekali berbeda dengan iklim yang kita kenal saat tumbuh dewasa, dan bangunan serta infrastruktur kita sangat tidak siap menghadapi apa yang akan datang," kata Friederike. Meski sejumlah negara mulai menunjukkan kemajuan dalam upaya mengurangi emisi karbon, Friederike menilai masih belum cukup cepat untuk menahan laju pemanasan global yang terus meningkat.

Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa bersama Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) memperkirakan musim panas 2026 akan dipengaruhi pola tekanan atmosfer yang relatif lemah. Kondisi tersebut dinilai dapat memperparah suhu panas karena menghambat pergerakan angin yang biasanya membantu menurunkan temperatur udara.

Akibatnya, banyak wilayah di Eropa diperkirakan akan mengalami hari-hari yang lebih panas dan gerah sepanjang musim panas tahun ini. Berdasarkan proyeksi C3S, suhu musiman diprediksi berada di atas rata-rata di hampir seluruh wilayah Eropa. Namun, kawasan tenggara Eropa disebut menjadi wilayah dengan sinyal pemanasan paling kuat. Selain suhu tinggi, sebagian wilayah timur Eropa juga diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal yang berpotensi memicu kekeringan.

Waspada Peningkatan Kematian Akibat Gelombang Panas Ekstrem

Pendiri lembaga prakiraan cuaca global WFY24, Ioanna Vergini, mengatakan Eropa harus bersiap menghadapi kombinasi cuaca ekstrem berupa gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, hingga banjir bandang. Menurut para ilmuwan iklim, setiap kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat Celsius membuat atmosfer mampu menampung sekitar tujuh persen lebih banyak uap air. Kondisi ini dapat memicu hujan dengan intensitas lebih tinggi dan ekstrem dalam waktu singkat.

Ioanna menyebut Eropa Selatan masih menjadi kawasan paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Namun, wilayah Eropa Tengah dan Timur disebut mengalami laju pemanasan tercepat dan dinilai belum siap menghadapi suhu ekstrem yang kini semakin sering terjadi.

"Eropa Tengah dan Timur mengalami pemanasan paling cepat dan mereka paling tidak siap menghadapi suhu 35°C lebih yang kini terjadi secara rutin," ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya risiko di kawasan perkotaan akibat efek pulau panas perkotaan atau urban heat island effect. Infrastruktur seperti beton dan aspal menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya kembali pada malam hari, sehingga membuat suhu di kota-kota tetap tinggi. "Kota-kota adalah tempat orang paling rentan meninggal akibat panas ekstrem," tambah Ioanna.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak cuaca panas ekstrem, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia. "Perhatikan peringatan cuaca panas di negara Anda, cek kondisi tetangga lanjut usia, dan jangan berharap suhu akan turun drastis pada malam hari," ujar Ioanna.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |