Dari Belitung hingga Tomohon, Ini 4 Desa Bakti BCA Tempat Para Mahasiswa Finalis Genera-Z Berbakti 2026 Wujudkan Dampak Nyata

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah di Indonesia memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat di sekitarnya. Potensi tersebut tidak hanya hadir di kota-kota besar, tetapi juga tersembunyi di desa-desa yang menyimpan kekayaan alam, budaya, hingga kreativitas lokal yang luar biasa.

Namun, agar potensi itu berkembang secara maksimal, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk generasi muda yang mampu menghadirkan ide baru dan solusi berkelanjutan. Semangat inilah yang menjadi sorotan dalam program Genera-Z Berbakti 2026 yang dihadirkan oleh Bakti BCA sebagai payung program corporate shared value (CSV) dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan Genera-Z Berbakti adalah program call for proposal untuk kelompok mahasiswa yang berkomitmen melaksanakan bakti nyata langsung di tengah masyarakat. Hera melihat potensi besar generasi muda sebagai kelompok masyarakat yang berpikiran kritis dan sangat adaptif terhadap teknologi dan inovasi. 

“Ini bukan sekadar program pengabdian masyarakat, melainkan komitmen kami dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang kompeten, berintegritas, dan mampu membawa dampak positif bagi bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” kata Hera.

Sejalan dengan itu, Hera menjelaskan kontribusi BCA di Desa Bakti BCA merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan daya tarik wisata sekaligus perekonomian UMKM di sekitar destinasi wisata. Tak sekadar memberikan pendampingan, Bakti BCA juga memastikan desa binaannya bisa naik kelas menjadi desa yang mandiri.

“Kami senantiasa mendorong desa-desa yang telah menjadi binaan Bakti BCA untuk menonjolkan karakteristik yang dimiliki. Dengan adanya program Genera-Z Berbakti, kolaborasi BCA dan finalis diharapkan bisa memberikan kontribusi positif dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Hera.

Lewat program ini, anak-anak muda dari berbagai universitas diajak untuk turun langsung ke Desa Bakti BCA dan menghadirkan inovasi yang bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Tahun ini, ada empat desa wisata binaan Bakti BCA  yang menjadi lokasi pengabdian para finalis terpilih Genera-Z Berbakti 2026. Masing-masing desa memiliki karakter dan tantangan berbeda, sekaligus membuka ruang bagi ide kreatif untuk berkembang.

Desa Wisata Kreatif Terong, Belitung, yang Punya Potensi Alam dan Budaya

Desa Wisata Kreatif Terong menjadi salah satu desa yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai desa wisata berkelanjutan. Lokasinya berada di jalur utama pariwisata Belitung dan dekat dengan berbagai destinasi populer di kawasan tersebut.

Desa ini memiliki kekayaan alam yang lengkap, mulai dari pantai, kawasan mangrove, perkebunan masyarakat, hingga area perbukitan yang cocok untuk hiking dan camping ground. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan tradisional, petani, dan pekebun.

Potensi Desa Wisata Kreatif Terong kemudian diangkat oleh dua tim finalis Genera-Z Berbakti 2026, yakni dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Universitas Gadjah Mada. Kedua kampus ini saling mengadu proposal mereka untuk memperebutkan desa ini.

Tim UIN Sunan Gunung Djati menghadirkan proposal “DESA HIDUP: Smart Eco-Tourism untuk Transformasi Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Lingkungan dan Digital”. Program ini dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu Eco-Living, Smart Eco-Tourism, dan Eco-Cultural Showcase.

Lewat program tersebut, mereka ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui filtrasi air berbasis material lokal, smart setor sampah berbasis gamifikasi, rumah kompos, hingga edukasi lingkungan. Tak hanya itu, mereka juga menghadirkan web app desa wisata, pemetaan GIS, promosi digital UMKM, hingga kegiatan budaya partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal.

Sementara itu, tim UGM mengusung konsep wisata berkelanjutan berbasis green-blue economy lewat proposal “Optimalisasi Potensi Lokal Desa melalui Sustainable Tourism dan Inovasi Berbasis Green-Blue Economy untuk Meningkatkan Kesejahteraan”.

Program mereka menghadirkan Terong Eco-Cycle untuk pengelolaan sampah terpadu, Terong Xplore yang fokus pada wisata berbasis pengalaman dan branding digital, hingga Festival Cerite Terong sebagai festival budaya tahunan yang memperkenalkan kehidupan masyarakat desa dan budaya khas Belitung.

Situs Gunung Padang dan Upaya Menjaga Wisata Berkelanjutan

Berpindah ke Situs Gunung Padang, kawasan ini dikenal sebagai situs punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Terletak di perbukitan Cianjur, situs megalitikum ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang terus menarik perhatian peneliti maupun wisatawan.

Tahun ini, dua tim mahasiswa dari Universitas Padjadjaran dan IPB University menghadirkan ide kreatif untuk mendukung pengembangan kawasan wisata tersebut.

Tim Universitas Padjadjaran mengusung program MEGA-LESTARI yang fokus pada sanitasi wisata, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan pemuda. Program ini menghadirkan revitalisasi toilet wisata dan pemasangan bio-septic tank sebagai bagian dari Eco-Sanitasi.

Selain itu, mereka juga mendorong ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi serta menghadirkan QR Reward System untuk wisatawan yang ikut menjaga kebersihan kawasan wisata.

Di sisi lain, tim IPB University menghadirkan proposal Sabilulungan LESTARI yang berfokus pada pengelolaan sampah, TOGA, agroforestri, pemantauan udara, hingga layanan kesehatan masyarakat.

Mereka menghadirkan empat program utama, yaitu SIMPONIK untuk sistem pengelolaan sampah desa, KEMBARA sebagai kebun edukasi berbasis alam, SIANJUR untuk pemantauan kualitas udara dan cuaca, serta Sadulur Rahayu yang menyediakan pemeriksaan kesehatan dan edukasi gizi bagi warga.

Patakbanteng dan Wisata Berbasis Kehidupan Masyarakat

Desa Wisata Patakbanteng dikenal sebagai pintu gerbang utama pendakian Gunung Prau di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Desa ini juga masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 berkat pengelolaan wisata berbasis masyarakat.

Selain wisata pendakian, desa ini juga menawarkan pengalaman wisata pertanian, peternakan, homestay, hingga budaya lokal yang masih terjaga.

Dalam program Genera-Z Berbakti 2026, tim dari Universitas Airlangga menghadirkan proposal “Amerta Pertiwi” yang berfokus pada lingkungan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, agribisnis, dan digitalisasi desa.

Program tersebut menghadirkan Rumah Kompos untuk pengelolaan sampah, Rumah Bibit untuk pengembangan greenhouse dan energi bersih, serta Rumah Inovasi sebagai pusat edukasi kesehatan, digitalisasi UMKM, dan pemberdayaan perempuan.

Sementara itu, tim Universitas Cenderawasih membawa proposal transformasi desa sehat dan lestari melalui program NutriMom, CEHATI, TRASHFORMER, dan Desasehat.id.

Lewat program tersebut, mereka ingin mendorong pengelolaan sampah terpadu, edukasi gizi 1000 HPK, skrining kesehatan masyarakat, hingga platform digital untuk monitoring stunting dan hipertensi.

Kakaskasen Dua dan Potensi Wisata Bunga Tomohon

Di Desa Wisata Kakaskasen Dua, potensi wisata berkembang lewat kekayaan hortikultura dan budaya lokal Minahasa. Desa ini dikenal sebagai salah satu pemasok utama bunga untuk Tomohon International Flower Festival.

Tahun ini, tim dari Universitas Indonesia dan BINUS University bersaing menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada pengembangan wisata dan ekonomi lokal.

Tim Universitas Indonesia mengangkat tema KATALIS yang berfokus pada pengembangan pertanian, wellness tourism, serta inovasi lokal berkelanjutan. Program mereka menghadirkan pelatihan UMKM, eco-print, wisata edukasi berbasis alam, hingga peningkatan kemampuan Bahasa Inggris bagi pemandu wisata.

Sementara itu, tim BINUS University menghadirkan MAPALUS yang fokus pada penguatan ekonomi lokal, pelestarian budaya Minahasa, dan transformasi digital desa.

Mereka menghadirkan pendampingan UMKM bunga krisan, edukasi budaya untuk generasi muda, hingga platform digital MINAESA yang mendukung promosi wisata budaya dan monitoring dampak sosial program.

Lewat berbagai ide dan inovasi tersebut, Genera-Z Berbakti 2026 memperlihatkan bagaimana anak muda bisa mengambil peran nyata dalam pengembangan desa wisata di Indonesia. Tidak hanya berbicara soal pariwisata, program-program yang dihadirkan juga menyentuh isu lingkungan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga transformasi digital desa.

Berbagai ide dan inovasi keren dihadirkan oleh anak muda yang menjadi finalis Top 8 Genera-Z Berbakti 2026. Kira-kira, siapa yang akan terpilih menjadi pemenang dan melakukan kontribusi nyata di lokasi masing-masing desa ya? Ikuti perjalanan para finalis Genera-Z Berbakti 2026 dan dukung tim favoritmu sekarang!

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |