5 Cara Atasi Kolesterol Tinggi Usai Pesta Daging Saat Idul Adha

7 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kolesterol sejatinya dibutuhkan tubuh, namun jumlahnya harus terkontrol agar tidak menyebabkan masalah kesehatan seperti hipertensi dan risiko penyakit jantung. Salah satu pemicu kolesterol tinggi adalah makan daging berlebihan, khususnya daging sapi dan kambing yang biasanya 'melimpah' di saat Idul Adha.

Mengutip laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (28/5/2026), dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UM Surabaya, Firman menjelaskan ketika kolesterol total dalam darah tinggi, > 200 mg/dl, lama-kelamaan akan mengendap di pembuluh darah dan menyebabkan pembuluh darah menyempit.

"Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh akan terhambat, sehingga jantung akan bekerja lebih keras agar darah dapat mengalir dengan baik, di sinilah hipertensi dimulai dan menyebabkan penyakit jantung," kata Firman.

Untuk menjaga kesehatan tubuh, berikut beberapa cara yang perlu dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol setelah mengonsumsi daging dan makanan lain yang mengandung banyak kolesterol. Pertama, berolahraga teratur 3--5 kali seminggu.

Olahraga atau aktivitas fisik yang direkomendasikan adalah program latihan yang mencakup setidaknya 30 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang. Ini dapat mengurangi kalori sebesar 4--7 kkal/menit.

Aktivitas olahraga yang direkomendasikan seperti jalan cepat, atau lari, bersepeda, berenang atau aktivitas lain sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing individu. Firman tidak menyarankan aktivitas yang terlalu berat, karena justru dapat menyebabkan gagal jantung.

Cara Kendalikan Kolesterol yang Naik

Cara kedua adalah mengonsumsi makanan tinggi serat. Makanan tinggi serat dapat menurunkan kolesterol, termasuk biji-bijian utuh, roti gandum utuh, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, dan kedelai yang mengandung isoflavon dan fitoestrogen, yang bermanfaat untuk mencegah penyerapan kolesterol.

Ketiga rempah atau bumbu. Jangan remehkan rempah-rempah yang sering digunakan untuk memasak. Rempah-rempah dapur seperti kunyit, cabai rawit merah, serai, dan jahe tidak hanya memberikan rasa yang lezat pada makanan, tetapi banyak penelitian telah membuktikan efektivitasnya dalam menurunkan kadar kolesterol.

Keempat, saat mengonsumsi daging sapi, konsumsilah juga makanan yang mengandung lemak tak jenuh atau kolesterol baik, seperti salmon, tuna, biji chia, alpukat, almond, kenari, dan minyak zaitun. Lemak tak jenuh efektif membantu menurunkan kolesterol jahat.

"Terakhir, jika Anda diketahui menderita dislipidemia atau kadar kolesterol tinggi dalam darah. Selain dapat menerapkan beberapa metode di atas, jika kadar kolesterol tidak turun, terapi obat statin biasanya dianjurkan (simvastatin, lovastatin, atorvastatin, rosuvastatin, dan sebagainya)," ujar Firman.

Daging Kambing Lebih Sehat dari Daging Sapi

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menerangkan bahwa daging kambing tak bisa disalahkan atas kenaikan tekanan darah dan kolesterol. Pasalnya, lemak jenuh pada daging kambing lebih rendah tiga kali lipat dari dagig sapi.

Dalam unggahan di Instagram pribadinya dikutip kanal Health Liputan6.com pada Rabu, 27 Mei 2026, Budi mengungkapkan pada 100 gram daging kambing itu mengandung 0,8 gram lemak jenuh. Sementara, daging sapi mengandung 3 gram lemak jenuh pada 100 gram.

Kolesterol yang terdapat pada kambing pun lebih rendah dari daging sapi. Pada 100 gram daging kambing mengandung 64 mg kolesterol sementara sapi mencapai 73 mg.

Melihat data itu, Budi meminta tidak menyalahkan daging kambing bila ada masyarakat yang mengalami kenaikan kolesterol atau tekanan darah tinggi. Penyebab tekanan darah dan kolesterol naik usai makan daging kambing bukan karena daging tersebut tapi cara pengolahan yang tidak sehat.

"Daging kambing udah benar sehat, sama yang masak ditambah santan sebanyak ini, ditambah jeroan, garam yang banyak, gula yang banyak," tutur Budi.

Cara Mengolah Daging Kambing yang Lebih Sehat

Karena itu, Budi menyarankan agar daging kambing diolah tanpa santan serta membatasi gula dan garam yakni sop kambing bening. "Sop kambing bening aja, cemplung-cemplung sayur deh," kata Budi di kolom komentar menjawab pertanyaan warganet.

Di kesempatan berbeda, Guru Besar Bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Ronny Rachman Noor, menyarankan saat mengolah daging kambing untuk membuang bagian lemak.

"Sebelum dimasak, dianjurkan untuk membuang lemak yang menempel pada daging guna memastikan kandungan lemak seminimal mungkin," katanya seperti dikutip dari laman IPB.

Senada dengan Budi, Ronny mengatakan bahwa daging kambing termasuk daging merah yang sehat. Daging ini dikenal dengan sebutan chevon lantaran kandungan lemaknya lebih rendah, kepadatan proteinnya lebih tinggi, serta profil kolesterolnya lebih baik dibandingkan daging sapi dan daging domba.

Chevon juga mengandung lemak jenuh yang lebih sedikit dibandingkan daging merah lainnya, sehingga bermanfaat dalam menunjang kesehatan jantung. Meski begitu, Ronny mengingatkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi daging kambing.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |