Liputan6.com, Jakarta - Makanan tradisional yang dulu dianggap makanan orang miskin memiliki cerita panjang yang menarik untuk ditelusuri. Di balik kesederhanaan bahan dan cara pengolahannya, tersimpan kisah perjuangan masyarakat Indonesia dalam menghadapi keterbatasan ekonomi dan sulitnya akses terhadap bahan pangan pada masa lalu.
Banyak kuliner Nusantara lahir bukan karena kemewahan, melainkan karena kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka. Singkong, sagu, ikan asin, hingga tanaman liar yang tumbuh di sawah menjadi penyelamat kebutuhan pangan keluarga ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu.
Seiring berjalannya waktu, citra makanan-makanan tersebut berubah drastis. Jika dahulu identik dengan kesederhanaan dan kemiskinan, kini banyak di antaranya justru menjadi warisan kuliner yang diburu wisatawan, disajikan di restoran, bahkan dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah. Beriku ulasan Liputan6.com, Selasa (9/6/2026).
1. Sate Kere
Sate kere merupakan kuliner khas Solo yang namanya berasal dari kata "kere" dalam bahasa Jawa yang berarti miskin. Pada masa lalu, sate daging merupakan makanan yang relatif mahal sehingga tidak semua orang mampu membelinya.
Sebagai alternatif, masyarakat mengolah tempe gembus, jeroan sapi, usus, atau paru dengan bumbu khas yang kemudian dibakar layaknya sate biasa. Meski dibuat dari bahan yang lebih murah, cita rasanya tetap menggugah selera.
Kini sate kere justru menjadi salah satu ikon kuliner Solo yang banyak dicari wisatawan. Bahkan popularitasnya semakin meningkat setelah beberapa kali tampil dalam berbagai acara kenegaraan dan festival kuliner.
2. Tiwul
Tiwul adalah makanan tradisional berbahan dasar gaplek atau singkong yang dikeringkan lalu dihancurkan dan dikukus. Pada masa penjajahan hingga beberapa dekade setelah kemerdekaan, tiwul menjadi makanan pokok bagi masyarakat di daerah yang sulit memperoleh beras.
Karena berbahan singkong yang mudah ditanam dan murah, tiwul sering dianggap sebagai makanan masyarakat kelas bawah. Namun di balik stigma tersebut, tiwul sebenarnya memiliki nilai sejarah yang besar sebagai penyelamat pangan saat masa sulit.
Saat ini tiwul banyak dijual sebagai kuliner tradisional dan menjadi bagian dari wisata budaya di berbagai daerah Jawa.
3. Gaplek
Gaplek merupakan singkong yang dipotong-potong lalu dijemur hingga kering. Teknik pengeringan ini memungkinkan singkong disimpan dalam waktu lama tanpa mudah rusak.
Dahulu gaplek menjadi cadangan pangan penting bagi masyarakat pedesaan ketika panen padi gagal atau persediaan beras menipis. Karena sering dikonsumsi oleh keluarga yang harus berhemat, gaplek kemudian melekat dengan citra makanan orang miskin.
Padahal, keberadaan gaplek menunjukkan kecerdasan masyarakat dalam mengelola bahan pangan agar tetap tersedia sepanjang tahun.
4. Gathot
Gathot masih satu keluarga dengan tiwul karena sama-sama berasal dari singkong. Bedanya, bahan baku gathot berasal dari singkong yang mengalami proses pengeringan lebih lama hingga berubah warna menjadi kehitaman.
Makanan ini sering dikonsumsi ketika kondisi pangan semakin terbatas. Masyarakat memanfaatkan singkong yang tersisa agar tetap bisa dimakan dan tidak terbuang sia-sia.
Kini gathot justru dianggap sebagai kuliner tradisional yang unik dengan rasa khas yang sulit ditemukan pada makanan modern.
5. Nasi Aking
Nasi aking menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam menghadapi keterbatasan. Hidangan ini dibuat dari nasi sisa yang dijemur hingga kering, kemudian dimasak kembali ketika akan dikonsumsi.
Tradisi tersebut berkembang sebagai upaya menghemat beras dan menghindari pemborosan makanan. Pada masa ketika harga beras mahal dan akses pangan terbatas, setiap butir nasi sangat berharga.
Meskipun kini sudah jarang ditemui, nasi aking tetap menjadi pengingat tentang pentingnya menghargai makanan.
6. Botok Tawon
Botok tawon merupakan makanan tradisional yang menggunakan sarang lebah beserta larvanya sebagai bahan utama. Pada masa lalu, masyarakat memanfaatkan sumber protein yang tersedia di alam karena lebih murah dibandingkan membeli lauk lainnya.
Larva lebah dicampur dengan kelapa parut dan aneka rempah sebelum dibungkus daun lalu dikukus. Hasilnya adalah hidangan dengan cita rasa gurih dan tekstur yang khas.
Saat ini botok tawon justru menjadi makanan langka yang banyak dicari pencinta kuliner tradisional.
7. Kerupuk Melarat
Dari namanya saja sudah terlihat bagaimana makanan ini lekat dengan kondisi ekonomi masyarakat pada masa lalu. Kerupuk melarat berasal dari Cirebon dan dibuat dari bahan sederhana berbasis singkong.
Keunikannya terletak pada proses penggorengan yang menggunakan pasir panas, bukan minyak goreng. Cara tersebut dipilih karena lebih hemat biaya.
Kini kerupuk melarat menjadi oleh-oleh khas Cirebon yang memiliki nilai budaya tersendiri dan tetap diminati hingga sekarang.
8. Genjer
Genjer pernah dijuluki sebagai sayurnya orang miskin. Tanaman yang tumbuh liar di sawah dan area berair ini dahulu hanya dikonsumsi ketika masyarakat tidak memiliki banyak pilihan bahan makanan.
Padahal, genjer memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik. Seiring meningkatnya kesadaran terhadap pangan lokal, genjer mulai mendapat tempat kembali di berbagai hidangan tradisional.
Bahkan beberapa restoran kini mengolah genjer menjadi menu yang lebih modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
9. Ikan Asin
Ikan asin merupakan contoh nyata bagaimana makanan sederhana dapat bertahan lintas generasi. Pada masa lalu, ikan kualitas rendah yang tidak laku dijual diawetkan dengan garam agar dapat disimpan lebih lama.
Karena murah dan tahan lama, ikan asin menjadi lauk andalan masyarakat berpenghasilan rendah. Namun kini ikan asin hadir dalam berbagai kelas kualitas dan bahkan disajikan di restoran ternama.
Perpaduan ikan asin dengan sambal dan nasi hangat tetap menjadi favorit banyak orang hingga saat ini.
10. Singkong
Singkong pernah menjadi simbol kesederhanaan masyarakat pedesaan. Tanaman ini mudah dibudidayakan dan hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan, mulai dari umbi hingga daunnya.
Ketika beras sulit diperoleh, singkong menjadi sumber karbohidrat utama bagi banyak keluarga. Dari bahan sederhana ini lahir berbagai olahan seperti tiwul, gaplek, getuk, hingga keripik singkong.
Kini singkong justru banyak diolah menjadi makanan modern yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
11. Lompong Sagu
Lompong sagu berkembang di wilayah Indonesia Timur sebagai makanan sederhana yang mudah dibuat dari bahan lokal. Kombinasi sagu dan bagian tanaman tertentu menghasilkan makanan yang mengenyangkan dan ekonomis.
Pada masa lalu, hidangan ini sering dianggap sebagai makanan rakyat biasa. Namun saat ini lompong sagu mulai dipromosikan sebagai bagian dari kekayaan kuliner daerah yang patut dilestarikan.
12. Nasi Kucing
Nasi kucing terkenal karena porsinya yang sangat kecil. Nama tersebut muncul karena ukuran nasi yang dianggap mirip dengan porsi makan seekor kucing.
Pada masa lalu, ukuran porsi yang kecil disesuaikan dengan kemampuan beli masyarakat. Meski sederhana, nasi kucing mampu memberikan pilihan makanan murah dan mengenyangkan.
Kini nasi kucing menjadi ikon angkringan yang digemari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.
13. Nasi Jagung
Di sejumlah daerah seperti Jawa Timur dan Madura, nasi jagung pernah menjadi pengganti nasi putih ketika beras sulit diperoleh. Karena identik dengan masyarakat pedesaan, makanan ini sering dianggap sebagai makanan kelas bawah.
Padahal nasi jagung memiliki kandungan serat yang tinggi, indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih, serta berbagai nutrisi penting lainnya.
Saat ini banyak orang memilih nasi jagung sebagai alternatif makanan sehat untuk mendukung pola makan yang lebih baik.
14. Jantung Pisang
Jantung pisang dulu sering dipandang sebagai makanan orang miskin karena mudah ditemukan di pekarangan dan dapat diperoleh tanpa biaya besar.
Namun pandangan tersebut mulai berubah setelah banyak penelitian dan praktisi kuliner mengungkap kandungan gizinya yang melimpah. Jantung pisang kaya serat, vitamin, mineral, serta antioksidan.
Kini bahan ini diolah menjadi berbagai hidangan menarik seperti gulai, tumisan, abon, hingga dendeng jantung pisang.
15. Nasi Tutug Oncom
Nasi tutug oncom berasal dari Tasikmalaya dan dikenal sebagai makanan rakyat sejak awal abad ke-20. Hidangan ini memadukan nasi hangat dengan oncom yang telah dibakar dan dihaluskan.
Karena bahan-bahannya murah dan mudah diperoleh, nasi tutug oncom menjadi pilihan utama masyarakat berpenghasilan rendah pada masa lalu.
Saat ini kuliner tersebut justru menjadi salah satu identitas gastronomi Jawa Barat yang banyak dicari wisatawan.
Perubahan Citra Kuliner Tradisional dari Masa ke Masa
Fenomena berubahnya citra makanan tradisional menunjukkan bahwa nilai sebuah makanan tidak hanya ditentukan oleh harga bahan bakunya. Banyak makanan tradisional yang dulu dianggap makanan orang miskin justru menyimpan sejarah, kearifan lokal, dan identitas budaya yang sangat berharga.
Di era modern, masyarakat mulai melihat makanan tradisional dari sudut pandang yang berbeda. Selain memiliki cita rasa khas, makanan-makanan tersebut juga menjadi bukti kreativitas nenek moyang dalam mengelola sumber daya yang tersedia.
Karena itu, melestarikan makanan tradisional yang dulu dianggap makanan orang miskin bukan hanya soal menjaga resep lama, tetapi juga merawat warisan budaya yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia.
Tanya Jawab Seputar Makanan yang Dianggap Makanan Orang Miskin
1. Mengapa banyak makanan tradisional dulu dianggap makanan orang miskin?
Karena sebagian besar dibuat dari bahan yang murah, mudah didapat, atau digunakan sebagai alternatif ketika masyarakat kesulitan memperoleh bahan pangan yang lebih mahal seperti beras dan daging.
2. Apakah makanan tersebut memiliki nilai gizi yang rendah?
Tidak selalu. Banyak makanan tradisional seperti nasi jagung, genjer, singkong, dan jantung pisang justru memiliki kandungan serat, vitamin, serta mineral yang baik bagi kesehatan.
3. Mengapa makanan-makanan ini kembali populer?
Karena masyarakat mulai menghargai nilai budaya, cita rasa autentik, dan manfaat kesehatan dari bahan pangan lokal yang digunakan.
4. Apakah makanan tradisional tersebut masih mudah ditemukan?
Sebagian masih mudah ditemukan, seperti nasi kucing, sate kere, dan ikan asin. Namun beberapa lainnya, seperti botok tawon dan lompong sagu, cenderung lebih langka.
5. Apa pentingnya melestarikan makanan tradisional?
Pelestarian makanan tradisional membantu menjaga identitas budaya, mendukung keberlanjutan pangan lokal, serta mengenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada generasi mendatang.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8123921/original/080405100_1780975113-TasiFest_2026_-_Iwan_Fals__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477490/original/050801700_1768828962-Pukis_Keju.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8141412/original/089151800_1780993949-6646600043667579327.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8131090/original/037145700_1780982939-katy_perry_justin_trudeau1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3595351/original/013332000_1633592458-pexels-md-iftekhar-uddin-emon-403495.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4795317/original/094985300_1712300823-onde_ketawa_ig_aniktriwina.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8050670/original/048862700_1780893968-16b290c6-7779-4185-973c-af3cf49a0e76.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8139632/original/054202600_1780992016-Screenshot_2026-06-09_145551.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8138476/original/085874000_1780990646-gudeg_permata_google_review.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8138983/original/013374500_1780991168-1000331332.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3343315/original/097583500_1610069587-7-manfaat-bunga-pepaya-untuk-kesehatan-lawsn-radikal-bebas-hingga-atasi-diabetes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8129503/original/044918500_1780981346-Pecel_Lele_Restu_Ibu_-_Asavita_Michel_HL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8122084/original/092214500_1780973051-cropped-3077778f-8bf0-4c2b-af50-aafcefeedeec.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8126009/original/068663900_1780977512-omelet_mi_telur_sayur_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8127162/original/084347100_1780978691-ChatGPT_Image_Jun_9__2026__11_17_15_AM_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4931140/original/085829900_1724906277-Sebungkus_kue_nagasari_pisang.__Liputan6.comWikimedia_Commonsbolakeluarga_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5239695/original/084042700_1748849778-WhatsApp_Image_2025-06-02_at_14.30.50_9fefa05d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8121245/original/093854900_1780972249-cropped-3a27eef7-1d42-4878-8628-122fbc9f1ef5.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484152/original/054897800_1769414667-Gemini_Generated_Image_px7w5npx7w5npx7w.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498890/original/093027800_1770725754-image__57_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516283/original/012128900_1772274598-WhatsApp_Image_2026-02-27_at_19.33.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518622/original/086723800_1772514079-cropped-4c856ac0-ea24-40bb-a37b-540c0d601eeb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535189/original/057591700_1773942599-Depositphotos_271642688_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533834/original/068860100_1773784980-WhatsApp_Image_2026-03-18_at_03.05.55.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526523/original/079569800_1773124602-181773-2__Dok._Destination_New_South_Wales___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500323/original/022128900_1770860747-cumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5011743/original/058200900_1731999276-IMG-20241119-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5255810/original/088495200_1750217573-7562353d-49c2-431a-8e3d-ddbe88078888.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1788667/original/039933600_1512278961-IMG-20171202-WA0028.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491919/original/015759500_1770110370-gambar__16_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502159/original/000958200_1770970294-1500_x_845.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3258137/original/033595800_1601883890-food-3232549_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499684/original/060708600_1770792542-Gemini_Generated_Image_fhmnxyfhmnxyfhmn.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502177/original/022961900_1770971651-Picture4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500354/original/001016300_1770862060-000_974C6CQ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3522657/original/065387600_1627377386-bendera.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499710/original/052491600_1770792705-gambar__43_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507531/original/074154500_1771496622-Depositphotos_466976098_L.jpg)