Liputan6.com, Jakarta - Tanaman liar yang bisa dijadikan lalapan khas kampung masih banyak ditemukan di sekitar sawah, kebun, tepian sungai, hingga pekarangan rumah. Meski kerap dianggap gulma, sebagian tanaman tersebut ternyata telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Indonesia karena mudah diperoleh, lezat, dan memiliki nilai gizi yang baik.
Di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Sumatra, masyarakat telah memanfaatkan beragam tanaman liar sebagai pelengkap hidangan sehari-hari. Ada yang langsung disantap sebagai lalapan segar, ada pula yang lebih nikmat setelah direbus sebentar untuk mengurangi rasa pahit atau membuat teksturnya lebih empuk.
Menariknya, tanaman liar yang bisa dijadikan lalapan khas kampung tidak hanya menawarkan cita rasa yang unik, tetapi juga menjadi bukti kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber pangan alami di sekitar lingkungan. Berikut beberapa jenis tanaman liar yang masih sering dijadikan lalapan oleh masyarakat hingga saat ini, dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (2/7/2026).
1. Pohpohan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8125454/original/036594400_1780976926-Daun_Pohpohan.jpg)
Perbesar
Pohpohan menjadi salah satu tanaman liar yang paling identik dengan tradisi lalapan khas Sunda. Tanaman ini banyak tumbuh di daerah pegunungan, kebun yang lembap, serta tepian hutan. Daunnya memiliki aroma khas yang segar sehingga sering disajikan mentah bersama sambal dan aneka lauk.
Tekstur daunnya lembut dengan cita rasa yang sedikit harum, membuatnya berbeda dari kebanyakan lalapan lainnya. Karena aromanya yang khas, pohpohan mampu memberikan sensasi segar saat dipadukan dengan sambal terasi, ikan asin, ayam goreng, maupun pepes ikan.
Selain dikonsumsi sebagai lalapan, pohpohan juga dikenal mengandung berbagai nutrisi seperti serat, vitamin, dan mineral. Tidak heran apabila tanaman yang dahulu hanya tumbuh liar kini mulai banyak dibudidayakan untuk memenuhi permintaan pasar, terutama di wilayah Jawa Barat.
2. Sintrong
Sintrong merupakan gulma yang banyak tumbuh di sawah, ladang, dan lahan terbuka. Meski sering dianggap tanaman pengganggu, masyarakat pedesaan telah lama memanfaatkan daun mudanya sebagai lalapan setelah dicuci bersih atau direbus sebentar sebelum disajikan.
Daunnya memiliki rasa sedikit pahit, tetapi justru menjadi ciri khas yang disukai banyak orang. Rasa tersebut berpadu dengan sambal pedas sehingga menghasilkan sensasi makan yang lebih nikmat, terutama saat disantap bersama nasi hangat dan ikan goreng.
Selain menjadi lalapan, sintrong juga kerap dimasak sebagai sayur bening maupun tumisan sederhana. Tanaman ini mudah ditemukan pada musim hujan sehingga sering menjadi alternatif sayuran alami yang dapat dipanen langsung dari lingkungan sekitar.
3. Kenikir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782233/original/056870900_1782880403-pexels-zrfisaac-10730676.jpg)
Perbesar
Kenikir sebenarnya dapat dibudidayakan, tetapi tanaman ini juga banyak tumbuh liar di lahan kosong, kebun, dan pinggir jalan. Daun mudanya menjadi salah satu lalapan favorit karena memiliki aroma yang khas serta tekstur yang lembut setelah direbus.
Dalam penyajiannya, daun kenikir umumnya direbus selama beberapa menit sebelum disajikan bersama sambal. Cara tersebut membuat teksturnya lebih empuk tanpa menghilangkan aroma khas yang menjadi daya tarik utama tanaman ini.
Selain menjadi lalapan, kenikir juga sering digunakan sebagai pelengkap urap, pecel, maupun aneka sayuran tradisional. Keberadaannya yang mudah ditemukan membuat tanaman ini tetap populer di berbagai daerah hingga sekarang.
4. Pegagan
Pegagan tumbuh menjalar di tanah yang lembap, terutama di sekitar persawahan, kebun, dan tepian saluran air. Daunnya berbentuk bulat menyerupai kipas kecil sehingga cukup mudah dikenali oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Sebagian masyarakat mengonsumsi pegagan sebagai lalapan segar karena memberikan rasa yang ringan dengan sedikit sentuhan pahit. Ada pula yang memilih merebusnya terlebih dahulu agar teksturnya menjadi lebih lunak dan rasanya semakin nyaman di lidah.
Pegagan juga dikenal sebagai tanaman yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Karena itu, selain menjadi pelengkap hidangan, tanaman liar ini masih sering dipetik oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
5. Krokot
Perbesar
Krokot merupakan tanaman liar yang tumbuh menjalar di tanah, sela batu, hingga pekarangan rumah. Banyak orang menganggapnya gulma, padahal daun mudanya dapat dimanfaatkan sebagai lalapan maupun bahan sayuran sederhana.
Daun krokot memiliki tekstur tebal, renyah, dan sedikit berair. Rasanya cenderung segar dengan sentuhan asam ringan sehingga cocok dipadukan dengan sambal, ikan bakar, maupun lauk goreng khas kampung yang sederhana.
Apabila tidak ingin dimakan mentah, daun krokot dapat direbus sebentar agar teksturnya lebih lembut. Cara ini juga menjadi pilihan masyarakat yang baru pertama kali mencoba tanaman liar tersebut sebagai lalapan.
6. Genjer
Genjer tumbuh liar di sawah, rawa, dan genangan air dangkal. Tanaman ini sudah lama dikenal sebagai bahan pangan tradisional yang mudah diperoleh, terutama oleh masyarakat pedesaan yang tinggal di sekitar area persawahan.
Daun serta tangkai mudanya dapat direbus sebelum dijadikan lalapan. Proses perebusan membantu mengurangi aroma khas sekaligus membuat teksturnya menjadi lebih empuk ketika disantap bersama sambal dan nasi hangat.
Selain dijadikan lalapan, genjer lebih sering diolah menjadi tumisan sederhana dengan tambahan bawang putih dan cabai. Meski demikian, banyak masyarakat yang tetap menikmati genjer rebus sebagai lalapan tradisional hingga saat ini.
7. Pucuk Pakis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782234/original/051101700_1782880405-1280px-Fiddlehead_closeup.jpg)
Perbesar
Pucuk pakis banyak tumbuh liar di kawasan hutan, tepian sungai, maupun kebun yang lembap. Bagian pucuk mudanya memiliki tekstur yang lembut sehingga sering dimanfaatkan sebagai sayuran maupun lalapan setelah direbus.
Sebelum dikonsumsi, pucuk pakis biasanya direbus selama beberapa menit hingga cukup empuk. Setelah itu, tanaman ini disajikan bersama sambal terasi, sambal tomat, atau sambal bawang yang memberikan perpaduan rasa semakin nikmat.
Pucuk pakis juga menjadi bahan pangan tradisional yang cukup populer di berbagai daerah Indonesia. Selain mudah diperoleh di alam, tanaman ini dikenal memiliki tekstur renyah yang tetap terasa meski telah direbus.
8. Daun Eceng Sawah
Daun eceng sawah merupakan tanaman liar yang tumbuh di area persawahan dan lahan berair dangkal. Meski tidak sepopuler kenikir atau pohpohan, masyarakat di beberapa daerah masih memanfaatkan daun mudanya sebagai lalapan.
Sebelum disajikan, daun muda biasanya direbus terlebih dahulu agar teksturnya menjadi lebih lunak. Setelah matang, daun tersebut disantap bersama sambal, ikan asin, maupun aneka lauk sederhana khas pedesaan.
Pemanfaatan daun eceng sawah menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan tanaman yang tumbuh alami di sekitar lingkungan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang masih bertahan hingga sekarang.
9. Daun Kedondong Muda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782235/original/095235200_1782880405-6634d687-e534-4b85-a09e-248cc5f7f7c7.jpg)
Perbesar
Tidak hanya buahnya yang dapat dinikmati, pucuk daun kedondong juga sering dijadikan lalapan di sejumlah daerah. Daun muda memiliki tekstur yang masih lembut sehingga nyaman disantap bersama sambal dan lauk tradisional.
Sebagian orang memilih mengonsumsinya dalam keadaan segar setelah dicuci bersih. Namun, ada pula yang merebusnya sebentar agar rasa sepatnya berkurang sekaligus membuat daun menjadi lebih empuk.
Daun kedondong muda sering hadir dalam hidangan khas kampung, terutama saat masyarakat menyajikan aneka lalapan sebagai pelengkap menu makan siang. Kehadirannya memberikan sensasi rasa segar yang berbeda dibandingkan lalapan lainnya.
10. Daun Bunut
Daun bunut merupakan salah satu lalapan tradisional yang kini mulai jarang dikenal masyarakat perkotaan. Padahal, di beberapa daerah pedesaan, pucuk daun mudanya masih sering dipetik langsung dari pohon untuk dijadikan pelengkap hidangan.
Daun muda biasanya dikonsumsi dalam keadaan segar setelah dicuci bersih. Beberapa masyarakat juga merebusnya sebentar agar teksturnya lebih lunak sebelum disajikan bersama sambal dan aneka lauk khas rumahan.
Meski popularitasnya tidak sebesar pohpohan atau kenikir, daun bunut menjadi contoh kekayaan hayati Indonesia yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan alami. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa banyak tanaman liar memiliki nilai kuliner yang layak dilestarikan.
Pertanyaan Seputar Tanaman Liar untuk Lalapan
1. Apakah semua tanaman liar aman dijadikan lalapan?
Tidak semua tanaman liar aman dikonsumsi. Sebaiknya hanya pilih tanaman yang memang telah dikenal sebagai bahan pangan oleh masyarakat. Pastikan identifikasinya benar, dipanen dari lokasi yang bersih, lalu dicuci hingga bersih sebelum diolah atau disajikan sebagai lalapan.
2. Mengapa beberapa tanaman liar perlu direbus sebelum dimakan?
Sebagian tanaman liar memiliki tekstur yang cukup keras, rasa pahit, atau aroma yang tajam jika dimakan mentah. Perebusan singkat membantu membuat daun lebih empuk, mengurangi rasa pahit, sekaligus membuatnya lebih nyaman dikonsumsi sebagai lalapan.
3. Di mana tanaman liar yang bisa dijadikan lalapan biasanya tumbuh?
Sebagian besar tanaman liar untuk lalapan tumbuh alami di area persawahan, kebun, tepian sungai, rawa, pekarangan, hingga lahan kosong yang lembap. Karena tumbuh tanpa perawatan khusus, tanaman ini mudah ditemukan terutama di kawasan pedesaan.
4. Apa manfaat mengonsumsi tanaman liar sebagai lalapan?
Banyak tanaman liar mengandung serat, vitamin, mineral, dan senyawa alami yang bermanfaat bagi tubuh. Jika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, tanaman tersebut dapat menjadi pelengkap menu harian yang bergizi dan menyegarkan.
5. Bagaimana cara memilih tanaman liar yang layak dijadikan lalapan?
Pilih tanaman yang masih muda, segar, dan bebas dari tanda-tanda kerusakan atau serangan hama. Hindari memetik tanaman yang tumbuh di dekat jalan raya, area industri, atau lahan yang berpotensi terpapar pestisida maupun limbah agar lebih aman dikonsumsi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8833504/original/086235400_1782917672-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_17.47.41.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/702922/original/Kue_Tetu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541400/original/075682500_1774861454-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782537/original/050634500_1782890272-Gemini_Generated_Image_rklu4xrklu4xrklu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491670/original/015644800_1770103641-Untitled_design__13_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782423/original/034050200_1782885722-Untitledw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4635789/original/001238200_1699114269-DSCF0555.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782320/original/057013400_1782882995-Ketan_Pecok_di_Piring_Rotan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5149701/original/024425400_1741004122-Daun_Kenikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782525/original/046051600_1782889983-Gemini_Generated_Image_usvsieusvsieusvs.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782304/original/030007700_1782882520-b2255c46-71c8-45b8-b151-1bdb4ab0730f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8782472/original/039891300_1782888400-Untitledt.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712361/original/068075700_1782793852-4viTjET1ecwx9iZIOMRWQorhDncjTOrcooa9HusQ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8776903/original/028354500_1782875609-cropped-1344eae4-b61a-488a-b220-0548592c0afb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497945/original/047199000_1770694895-SnapInsta.to_631503240_18331250002268751_2206264404711371510_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8776329/original/072475900_1782874925-cropped-c9e489fa-aa5e-42cb-acdf-f8c03013db63.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8513148/original/046779000_1782436778-Nasi_Ulam_Ibu_Yoyo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/8776211/original/077497700_1782868227-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_07.44.23.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539517/original/013909000_1774602806-resep_bolu_kukus_1_telur_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8776320/original/083729900_1782873919-cropped-79001c3d-2ce7-4241-b77d-ab80082e42b3.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484152/original/054897800_1769414667-Gemini_Generated_Image_px7w5npx7w5npx7w.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535189/original/057591700_1773942599-Depositphotos_271642688_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526523/original/079569800_1773124602-181773-2__Dok._Destination_New_South_Wales___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533834/original/068860100_1773784980-WhatsApp_Image_2026-03-18_at_03.05.55.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530503/original/013584800_1773455795-Tepung_Terigu_Matang_Disangrai.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527653/original/046595100_1773209806-WhatsApp_Image_2026-03-11_at_11.24.13.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533047/original/026098100_1773720855-ginjal__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527628/original/088045100_1773208952-taruna_idul_fitri.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521606/original/011968200_1772694581-unnamed_-_2026-03-05T135903.240.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517728/original/058219800_1772438128-ruam_campak_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523071/original/048232900_1772787980-Deluxe_plus_Model.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4760147/original/069717400_1709453620-000_34KK8VE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4276088/original/087489800_1672296030-20221229-Revitalisasi-Pasar-Faizal-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516147/original/045962400_1772261219-ruam.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4799575/original/075150300_1712765385-Screenshot__658_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496859/original/098543400_1770607378-unnamed__13_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529807/original/042591200_1773381736-unnamed__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521769/original/072254600_1772699881-kue_tepung_beras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529202/original/015343700_1773311512-3.Penyerahan_Donasi_oleh_Panasonic_Gobel_Group_ke_Palang_Merah_Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5535182/original/016607700_1773941635-Depositphotos_771715034_L.jpg)