1 dari 4 Anak Harimau Sumatera yang Lahir di Inggris Mati

16 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Satu dari empat anak harimau Sumatera yang lahir di taman satwa di Kent, Inggris, meninggal dunia. Juru Bicara Howletts Wild Animal Park, dekat Canterbury, mengatakan bahwa penyebab kematian bayi harimau Sumatera itu adalah 'karena sebab alami'.

Mengutip BBC, Jumat (12/6/2026), keempat anak harimau langka itu lahir pada April 2026 dan menjadi kelahiran pertama di taman satwa tersebut. Mereka lahir dari induk betina bernama Tipah dan jantan bernama Nakal.

Ketiga saudara harimau yang mati dilaporkan 'dalam keadaan sangat baik dan semakin percaya diri serta berkarakter setiap hari'. "Meskipun selalu menyedihkan kehilangan hewan muda, sayangnya ini bukan hal yang tidak biasa dalam kelahiran anak kucing yang banyak," kata Richard Langston, kepala karnivora di Howletts.

Langston mengatakan meskipun kehilangan tersebut, induk anak-anak harimau itu, Tipah, membuktikan dirinya sebagai "orangtua yang luar biasa" sepanjang perkembangan mereka.

"Tipah menghabiskan sebagian besar waktunya mengawasi mereka sambil menikmati sedikit istirahat dari semua lompatan, gigitan, dan permainan yang menyertai membesarkan anak-anak harimau yang energik," tambahnya.

Howletts mengatakan bahwa anak-anak harimau tersebut menjadi 'semakin berani dan suka bermain' saat mereka menjelajahi lingkungan sekitar. Ia menambahkan bahwa kepribadian individu mulai muncul, dengan salah satu anak harimau sudah menunjukkan sifat mandiri yang mencolok dan sering memilih untuk menghabiskan waktu jauh dari saudara-saudaranya.

"Nakal, ayah dari anak harimau tersebut, terus menghabiskan waktu mengamati Tipah dan anak-anaknya," jelas tim tersebut. "Ia sangat sabar dan tenang selama proses perkenalan ini, dan sungguh menyenangkan melihat dinamika keluarga berkembang."

Kelahiran Anak Harimau Sumatera di Lembah Hijau Lampung

Sementara, upaya konservasi harimau Sumatera di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung juga membuahkan hasil. Dua ekor bayi harimau sumatera (Panthera tigris Sumatrae) lahir dengan selamat di lembaga konservasi itu pada Februari 2026.

Jenis kelamin kedua bayi harimau sumatera itu belum diketahui. Yang pasti keduanya merupakan hasil perkawinan antara harimau jantan Kyai Batua dan induk Sinta. Keduanya merupakan satwa hasil penyelamatan akibat konflik dengan manusia dan jerat pemburu liar.

Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 5 Mei 2026, Kyai Batua sebelumnya diselamatkan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung bersama-sama dengan Tim Reaksi Cepat (TRC) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan pada 2--4 Juli 2019 di Dusun Baru Ampar, Pekon Sukamarga Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat dalam kondisi terjerat. Akibat luka serius, kaki depan kanan Kyai Batua harus diamputasi pada 5 Juli 2019.

Kesuksesan Pengembangbiakan Ex Situ

Sementara, Sinta merupakan individu harimau Sumatera yang diselamatkan dari Provinsi Bengkulu pada Desember 2024. Kondisinya serupa dengan pejantannya saat ditemukan, yaitu mengalami cedera berat akibat jerat pada saat dievakuasi ditemukan cacat pada kaki belakang kanan. 

Perkawinan kedua individu tersebut dilaksanakan berdasarkan rekomendasi program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV Tahun 2024/2025 yang dikoordinasikan bersama Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI). Dalam studbook Harimau Sumatera, Kyai Batua tercatat dengan nomor SB ID 1886 dan Sinta dengan nomor SB ID 1998.

Berkat pengawasan dan pendamping yang ketat oleh tim medik veteriner Taman Satwa Lembah Hijau, kedua anak harimau tumbuh dan berkembang dengan baik. Keberhasilan itu menjadi catatan penting sebagai kelahiran pertama Harimau Sumatera secara ex situ di Provinsi Lampung. 

Terpisah, pakar konservasi satwa liar sekaligus Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) University Ani Mardiastuti menyoroti penurunan populasi harimau sumatera di habitat alaminya. Ia menyebut hilangnya mangsa dan lahan hutan sebagai habibat asli harimau sebagai penyebab utama.

Ancaman Utama Kepunahan Harimau Sumatera

Pulau Sumatera menjadi habitat terakhir bagi Harimau Sumatera, satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia. Namun, penyempitan hutan dan berkurangnya satwa mangsa, terutama rusa, membuat populasi predator puncak ini terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

"Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit," ujar Ani dilansir dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Kamis 5 Maret 2026.

Menurut Ani, harimau Sumatera memiliki posisi penting dalam ekosistem sebagai apex predator atau predator puncak. Keberadaannya dinilai penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus stabilitas keanekaragaman hayati di hutan.

Kelestarian Harimau Sumatera sangat bergantung pada upaya perlindungan habitat hutan dan ketersediaan satwa mangsa di alam liar. Karena itu, diperlukan langkah serius seperti penegakan hukum terhadap perburuan liar, pengendalian alih fungsi hutan, serta penguatan kawasan konservasi. Selain itu, keterlibatan masyarakat sekitar hutan dalam menjaga satwa dan habitatnya penting untuk dilakukan dengan lebih masif. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |