Pengidap Diabetes Tak Boleh Konsumsi Gula Sama Sekali, Mitos atau Fakta?

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pengidap diabetes harus mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis supaya gula darahnya terkontrol. Dari pemahaman ini, timbul anggapan bahwa pengidap diabetes tak boleh konsumsi gula sama sekali.

Terkait hal ini, Ketua Umum PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) Prof Em Yunir mengatakan bahwa ini mitos.

“Mitos. Penderita diabetes masih boleh mengonsumsi gula, tetapi dengan batasan gula dalam jumlah kecil (misalnya 1 sendok teh) masih diperbolehkan. Pasien juga bisa menggunakan pemanis rendah kalori. Gula dalam masakan juga diperbolehkan selama masih dalam jumlah aman,” kata Em Yunir dalam temu media di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Meski begitu, ia menyarankan pasien untuk menghindari minuman manis dengan gula tinggi seperti teh manis, kopi manis, atau minuman kemasan.

“Kopi tetap dianjurkan dengan sajian kopi tanpa gula, karena ini memiliki manfaat proteksi terhadap kesehatan jantung,” ujarnya.

Benarkah Diabetes Diturunkan Secara Genetik?

Anggapan lain yang mengemuka di tengah masyarakat adalah soal diabetes diturunkan secara genetik. Menurutnya,ini adalah fakta.

“Fakta, namun belum tentu seseorang yang memiliki genetik diabetes langsung terkena diabetes. Pemicu utamanya tetaplah gaya hidup,” katanya.

Ia menerangkan bahwa diabetes memang memiliki kaitan kuat dengan faktor genetik. Artinya, jika dalam keluarga terdapat riwayat diabetes, maka risiko seseorang untuk mengalami penyakit ini lebih tinggi.

“Ketika kedua orangtua sama-sama memiliki riwayat diabetes, risiko pada anak akan meningkat lebih tinggi,” ungkap dia.

Namun ia mengatakan, faktor gaya hidup tetap sangat berpengaruh, seperti pola makan tidak sehat, kelebihan kalori, kurang aktivitas fisik hingga obesitas.

“Memiliki gen dengan diabetes itu memperbesar risiko, tetapi gaya hidup adalah pemicu utama,” ujarnya.

Kasus Diabetes di Indonesia

Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Jumlah penyandang diabetes pada 2024, mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan diabetes membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. Selain itu, tren peningkatan kasus terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat urgensi intervensi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Bahkan berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada usia lebih dari 15 tahun mencapai 11,7 persen. Yang artinya ada 30 juta penderita diabetes di Indonesia tetapi yang baru terdiagnosis antara 10-15 juta pasien DM.

Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Perlahan tapi pasti, diabetes mulai menyerang orang berusia produktif hingga anak-anak. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi ini. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tidak seimbang dapat memperburuk risiko. Oleh karena itu, edukasi masyarakat menjadi langkah penting dalam pengendalian diabetes.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |