Mengguncang Nurani, Ibu Dua Anak di Tuban Dirantai Keluarga

22 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Tidak ada yang pernah membayangkan, duka kehilangan suami akan mengubah hidup seorang ibu muda hingga harus dirantai di rumahnya sendiri. Kisah pilu itu dialami SS (30), warga Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, yang mengguncang nurani publik setelah foto dan videonya viral di media sosial.

Perempuan dua anak itu mengalami depresi berat setelah sang suami, ED (33), meninggal dunia pada Juni 2026. Demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, keluarga terpaksa memasang rantai pada salah satu kaki SS sebagai upaya pengamanan sementara.

Kini, SS harus berpisah sejenak dengan kedua buah hatinya yang masih berusia 9 dan 8 tahun. Ia telah dibawa ke sebuah yayasan di Kabupaten Lamongan untuk menjalani perawatan, sementara anak-anaknya berada dalam pengasuhan keluarga.

"Ditinggal suaminya, dan akhirnya dia depresi sampai kondisi saat ini," kata Camat Tambakboyo Ari Wibowo Waspodo, Rabu (15/7/2026).

Menurut Ari, keluarga sebenarnya telah berusaha merawat SS semampunya. Namun dalam beberapa hari terakhir, kondisinya semakin sulit dikendalikan. Ia beberapa kali mengamuk sehingga dikhawatirkan membahayakan dirinya sendiri maupun kedua anaknya.

Keluarga sempat mencoba membatasi gerak SS menggunakan tali. Akan tetapi, cara tersebut tidak berhasil karena tali dapat dilepaskan sendiri oleh yang bersangkutan. Sebagai langkah terakhir, keluarga memutuskan menggunakan rantai besi yang digembok.

"Baru kemarin Sabtu. Memang pakai rantai dan digembok karena kalau diikat pakai tali bisa dilepaskan sama dia sendiri. Itu demi keamanan," jelas Ari.

Berbagai upaya pengobatan sebenarnya telah dilakukan. Di mana, SS telah diperiksakan ke puskesmas hingga rumah sakit.

Pemerintah kecamatan juga membantu kebutuhan untuk mengaktifkan kembali kepesertaan BPJS Kesehatan milik korban yang sempat menunggak sekitar Rp1,4 juta agar penanganan medis dapat segera dilakukan.

"Kita juga telah memberikan saran agar dirawat di rumah sakit," tambahnya.

Ari juga meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial bahwa depresi yang dialami SS dipicu persoalan himpitan ekonomi. Keluarga korban masuk kategori Desil 8 sehingga penyebab depresi disebut berkaitan dengan duka mendalam setelah kehilangan suaminya.

"Keluarga tersebut masuk Desil 8, yang bersangkutan memang depresi sejak suaminya meninggal dunia," tegasnya.

Potret pilu SS menyita perhatian publik setelah akun media sosial milik anggota polisi Lamongan, Ipda Purnomo mengunggah foto dan video yang memperlihatkan salah satu kaki perempuan tersebut dirantai di dalam rumah.

Unggahan itu disertai narasi yang menyebut SS masih merawat dua anak yatim dan mengalami depresi akibat beban ekonomi.

"Ibu warga Tuban punya anak yaatim dua dirantai besi di dalam rumah? Assalamualaikum. Seorang ibu masih merawat dua anak yatim. Karena beban ekonomi sehingga mengalami depresi berat sampai harus dirantai di tiang rumah. Insyaallah segera saya jemput dan saya rawat di yayasan." tulis akun tersebut yang viral.

Unggahan tersebut langsung memicu beragam reaksi. Banyak warganet menyampaikan doa dan rasa iba, sementara sebagian lainnya mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kondisi perempuan tersebut.

"Pemkab Tuban podo turu kabeh isen. Ni wong Tuban," tulis akun Zidan Rizgullah.

Komentar senada juga datang dari akun Endang Kusuma yang menuliskan, "Kasihan ibuknya dirantai pak."

Belakangan, akun yang sama mengabarkan bahwa SS telah dijemput untuk menjalani perawatan di sebuah yayasan di Kabupaten Lamongan.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A dan PMD) Kabupaten Tuban, Sugeng Purnomo, memastikan pemerintah sebenarnya telah melakukan pendampingan sebelum kasus tersebut viral.

Petugas Dinas Sosial bersama pemerintah kecamatan telah mendatangi rumah korban untuk memberikan pendampingan kepada keluarga. Pemerintah juga menyarankan agar SS menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, pihak keluarga memilih penanganan dilakukan di yayasan di Lamongan.

"Kita sarankan untuk dirawat di rumah sakit, tapi pihak keluarga minta di Lamongan," pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |